Data Pribadi Kini Menjadi Aset yang Sangat Berharga

Yunisa Herawati

VIVA – Berdasarkan laporan tahunan Badan Siber dan Sandi Negara, pada 2018 tercatat ada 12.895.554 serangan siber pada 21 sensor yang tersebar, termasuk serangan malware sebanyak 513.863 kali. Meski tidak semunya berhasil, namun ada beberapa yang berdampak pada keamanan data.

Pada era teknologi informasi yang pesat seperti saat ini, data pribadi menjadi salah satu aset yang sangat berharga. Apabila bocor, maka efeknya akan sangat besar. Contohnya, seperti yang dialami oleh salah satu maskapai beberapa waktu lalu.

Dalam pidato kenegaraannya pada 16 Agustus lalu, Presiden Jokowi dengan tegas menyampaikan, bahwa Indonesia harus siap siaga menghadapi kejahatan siber. Sebab, Indonesia akan masuk ke dalam era industri 4.0 yang menggunakan banyak teknologi canggih, termasuk penerapan data berbasis cloud.

“Saat ini, kita sangat mengandalkan data, maka data pun telah menjadi aset yang berharga. Ancaman siber dan tantangan dalam menghadapinya terus meningkat,” ujar pendiri sekaligus Chief Executive Officer Acronis, Serguei Beloussov di Jakarta belum lama ini.

Sebagai salah satu solusi replikasi data, Acronis menyediakan banyak perlindungan kepada penggunanya. Mereka sadar, data yang disimpan tidak hanya sekadar direplikasi saja, namun juga harus dijaga keamanannya.

Mereka melengkapi pengamanan data personal dengan perlindungan anti malware, dengan teknologi kecerdasan buatan. Ransomware dan serangan cryptojacking dapat dihalau secara langsung, sementara data yang terdampak akan dipulihkan secara otomatis.

Sebagai informasi, produk terbaru mereka, yakni Acronis True Image 2020 kini tersedia secara eksklusif di Bhinneka.com. Aplikasi replikasi data berbasis cloud itu bisa didapatkan melalui pembelian online, atau datang langsung ke gerai yang tersedia.