Data Sementara Uji Klinis III di AS: Efikasi Vaksin COVID-19 AstraZeneca 79 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Uji klinis fase tiga vaksin AstraZeneca di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa vaksin tersebut memiliki efikasi hingga 79 persen dalam mencegah gejala COVID-19 dan 100 persen mencegah penyakit parah dan rawat inap.

Dalam siaran pers di laman resmi AstraZeneca, dikutip Senin (22/3/2021), analisis keamanan dan efikasi sementara tersebut didasarkan dari 32.449 peserta, dengan 141 kasus COVID-19.

"Kemanjuran vaksin konsisten di seluruh etnis dan usia. Khususnya pada peserta berusia 65 tahun ke atas, kemanjuran vaksin adalah 80 persen," tulis perusahaan farmasi tersebut.

Dalam rilisnya, AstraZeneca mengungkapkan bahwa di antara para peserta dalam analisis sementara tersebut sekitar 79 persen adalah Kaukasia, 8 persen Afrika-Amerika, 4 persen penduduk asli AS, 4 persen Asia, dan 22 persen Hispanik.

Sekitar 20 persen peserta berusia 65 tahun ke atas, dan sekitar 60 persen memiliki penyakit bawaan yang terkait dengan peningkatan risiko gejala COVID-19 parah, seperti diabetes, obesitas parah, dan penyakit jantung.

Data Safety Monitoring Board (DSMB) menyatakan bahwa vaksin dapat ditoleransi dengan baik. Dewan pemantau keamanan independen tersebut juga menyebut tidak ada masalah keamanan yang terkait dengan vaksin.

Pemantauan Terkait Penggumpalan Darah

PM Thailand Prayuth Chan-ocha menunjukan vaksin Covid-19 AstraZeneca sebelum disuntik di Bangkok, Thailand (16/3/2021). Prayuth menjadi orang pertama di negara itu yang diinokulasi dengan vaksin AstraZeneca setelah peluncurannya ditunda. (Government Spokesman Office via AP)
PM Thailand Prayuth Chan-ocha menunjukan vaksin Covid-19 AstraZeneca sebelum disuntik di Bangkok, Thailand (16/3/2021). Prayuth menjadi orang pertama di negara itu yang diinokulasi dengan vaksin AstraZeneca setelah peluncurannya ditunda. (Government Spokesman Office via AP)

Menurut AstraZeneca, dewan pemantau juga melakukan peninjauan khusus terhadap kejadian trombotik atau penggumpalan darah, serta trombosis sinus vena serebral (cerebral venous sinus thrombosis/CVST).

"DSMB tidak menemukan peningkatan risiko trombosis atau peristiwa yang ditandai dengan trombosis di antara 21.583 peserta yang menerima setidaknya satu dosis vaksin. Pencarian khusus untuk CVST tidak menemukan kejadian dalam percobaan ini.

Ann Falsey, Profesor Kedokteran di University of Rochester School of Medicine, AS, yang juga kepala uji klinis mengatakan, temuan mereka menegaskan kembali hasil yang sebelumnya diamati dalam uji klinis di semua populasi dewasa.

"Tetapi sangat menarik untuk melihat hasil kemanjuran yang serupa pada orang di atas 65 untuk pertama kalinya," kata Falsey.

"Analisis ini memvalidasi vaksin AstraZeneca COVID-19 sebagai opsi vaksinasi tambahan yang sangat dibutuhkan, menawarkan keyakinan bahwa orang dewasa dari segala usia dapat memperoleh manfaat dari perlindungan terhadap virus," ujarnya.

Percobaan fase tiga di AS sendiri mencakup dua dosis yang diberikan dengan jarak waktu empat pekan.

AstraZeneca menyatakan bahwa mereka akan terus melanjutkan analisis data dan mempersiapkan analisis utama untuk dikirimkan ke Food and Drug Administration, terkait izin penggunaan darurat dalam beberapa pekan mendatang.

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini