Data Terbaru, Persentase Penduduk Miskin Tertinggi Ada di Papua

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 telah menyebabkan kemiskinan di Indonesia bertambah 2,76 juta dari September 2019 sebanyak 24,79 juta orang menjadi 27,55 juta pada September 2020. Kenaikannya merata di seluruh wilayah Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, secara persentase, jumlah penduduk miskin pada periode itu mencapai 10,19 persen. 16 provinsi tercatat melampaui tingkat kemiskinan nasional.

"Hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami kenaikan kemiskinan," kata dia saat konferensi pers, Senin, 15 Februari 2021.

Baca juga: Ada Empat Balita Turut Hilang Diduga Tertimbun Longsor di Nganjuk

Berdasarkan datanya, persentase penduduk miskin tertinggi ada di Papua, yakni mencapai 26,80 persen. Diikuti Papua Barat 21,7 persen, Nusa Tenggara Timur 21,21 persen dan Maluku 17,99 persen.

Gorontalo 15,59 persen, Aceh 15,43 persen, Bengkulu 15,30 persen, Nusa Tenggara Barat 14,23 persen, Sulawesi Tengah 13,06 persen, Sumatera Selatan 12,98 persen dan Yogyakarta 12,8 persen.

Sementara itu, Lampung sebesar 12,3 persen, Jawa Tengah mencapai 11,84 persen, Sulawesi Tenggara sebanyak 11,69 persen, Sulawesi Barat 11,50 persen dan Jawa Timur sebanyak 11,46 persen.

Adapun wilayah yang jumlah penduduk miskinnya di bawah persentase nasional adalah Sumatera Utara 9,14 persen, Sulawesi Selatan 8,99 persen, Jawa Barat 8,43 persen dan Jambi 7,97 persen.

Sulawesi Utara 7,78 persen, Kalimantan Utara 7,41 persen, Kalimantan Barat 7,24 persen, Riau 7,04 persen, Maluku Utara 6,97 persen. Kalimantan Timur 6,64 persen dan Banten 6,63 persen.

Sumatera Barat 6,56 persen, Kepulauan Riau 6,13 persen, Kalimantan Tengah 5,26 persen, Kepulauan Bangka Belitung 4,89 persen, Kalimantan Selatan 4,83 persen, Jakarta 4,69 persen dan Bali 4,45 persen.

Persoalan kemiskinan ini juga diperparah dengan memburuknya indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan yang masing-masing naik menjadi sebesar 1,75 dan 0,47 pada September 2020.

"Dan tingkat kedalaman dan keparahan lebih dalam di Desa dibanding Kota. Sehingga, ke depan kita perlu memberi perhatian khusus," ucap dia.