Datangi Medan Perang, Jenderal Bintang 4 TNI Rela Tidur di Atas Jerami

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sososk prajurit sejati ini memang sudah hampir 15 tahun pergi untuk selamanya. Namun, namanya akan senantiasa dikenang sebagai seorang Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat yang kaya dengan pengalaman tempur, berjiwa ksatria dan seorang pemimpin yang andal.

Dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akadami Militer (Akmil), ia adalah penerima penghargaan Adhi Makayasa pertama. Seperti yang diketahui, penghargaan Adhi Makayasa hanya diberikan untuk lulusan terbaik Akmil, yang saat itu masih bernama Akademi Militer Nasional (AMN).

Ya, sosok itu adalah Jenderal TNI (Purn.) Edu Sudrajat. Usai menyelesaikan pendidikan militernya, Edi sempat bertugas sebagai Komandan Pleton (Danton) Batalyon Infanteri (Yonif) 515/Tanggul, atau yang kini bernama Yonif 515/Ugra Tapa Yudha.

Saat itu, Edi diterjunkan dalam operasi militer penumpasan kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka (OPM), hingga Gerakan 30 September 1965 yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pengalamannya di medan pertempuran, mengantar Edi naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI pada 1980, menduduki posisi sebagai Panglima Komando Tempur Lintas Udara Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), atau yang saat ini bernama Divisi Infanteri 1/Kostrad.

Kemudian pada 1981, Edi kembali mendapat kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal (Mayjen) TNI, dengan jabatan sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan, dan Pangdam III/Siliwangi.

Setelah itu, Edi dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Kasum ABRI) periode 1985 hingga 1986. Karier Edi kian moncer setelah kembali naik pangkat menjadi bintang tiga atau Letnan Jenderal (Letjen) TNI dan menduduki posisi Wakasad.

Edi kemudian dipercaya menjadi orang nomor satu di jajaran TNI Angkatan Darat sebagai Kasad, dengan pangkat Jenderal TNI. Saat itu lah, Edi mendatangi langsung medan perang di Timor-Timur yang menjadi objek Operasi Seroja.

Kesaksian bagaimana keberanian dan kesederhanaan Edi diungkap oleh mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), Letjen TNI (Purn.) Kiki Syahnakri.

Dalam bukunya "Aku Hanya Tentara", Kiki yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) TNI, mendapat kunjungan langsung dari Mayjen TNI Edi Sudrajat. Kala itu, Kiki masih menjabat sebagai Komandan Yonif 514/Raider.

"Ada kisah yang amat mengesankan, terjadi hampir 20 tahun lalu di kawasan pegunungan Timor Timur (kini Timor Leste). Dalam kegelapan malam, di tengah-tengah bivak Posko Mobile Yonif 514, membayang suatu sosok," ujar Kiki.

"Dengan cepat saya bersiap mendekat untuk mengetahuinya. Ternyata itu adalah Jenderal TNI Edi Sudrajat, Kepala Staf TNI AD (KSAD). Jenderal ini datang untuk mengecek, sekaligus mengetahui hal-hal teknis yang langka "disentuh" pucuk pimpinan Angkatan Darat," katanya.

Setelah selesai melakukan pengecekan, Kiki tak menyangka bahwa Edi memutuskan untuk menginap di Posko Mobil Yonif 514. Meskipun Edi adalah sosok jenderal bintang empat, ia tak segan tidur di dalam bivak beralas jerami dan beratam ponco (jas hujan).

"Jenderal yang dikenal sebagai orang lapangan dan sederhana itu memutuskan untuk bermalam bersama di Posko Mobile satuan kami, semacam bivak (tenda) beralas jerami alang-alang dan beratap ponco," ucap Kiki melanjutkan.

"Mengingat pasukan kami sedang bergerak dalam operasi tempur, selaku komandan saya menarik tiga tim guna pengamanan dan perlindungan terhadap Pak Edi dan staf (beberapa jenderal). Untuk itu, saya sendiri memimpin dengan berjaga bersama tim pengaman," katanya.