Datangi Pengadilan, Dokter Tirta Keberatan Jerinx Dituntut 3 Tahun Bui

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVA – Influencer yang juga merupakan tenaga medis, dokter Tirta Mandira Hudhi, mendatangi Pengadilan Negeri Denpasar hari ini, Selasa, 10 November 2020. Dia datang memberikan dukungan kepada terdakwa I Gede Ary Astina alias Jerinx, atas dugaan kasus ujaran kebencian terhadap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali.

Tirta mengatakan, keputusannya datang ke pengadilan guna memberikan dukungan kepada drumer Superman Is Dead (SID) itu. Dia mengaku berkawan dengan Jerinx dalam berbagai hal, baik industri kreatif ataupun berdiskusi terkait COVID-19.

Baca juga: Uji Operasi, Tol Cibitung-Cimanggis Bakal Lancarkan Arus Logistik

"Terlepas dari keputusan organisasi terutama IDI Bali, saya menghormati, ya sebagai saksi pelapor kan IDI Bali ya. Kalau dari saya secara individual, (beri dukungan) karena Jerinx adalah kawan. Saya datang ke sini sebagai bentuk dukungan dan juga sebagai seorang kawan lah. Karena selama COVID ini kan dia adalah partner diskusi saya," kata dr Tirta saat ditemui di PN Denpasar.

Dalam kesempatan itu, dokter Tirta pun mengatakan harapannya kepada majelis hakim terkait kasus Jerinx, agar dapat dengan sebaik-baiknya memutuskan perkara ini secara adil.

"Saya keberatan dengan tuntutan 3 tahun oleh JPU. Karena satu di sisi lain adalah pertama kami harus pikirkan sebab akibat. Kalau misalkan tuntutan JPU dikabulkan oleh hakim akan ada banyak laporan-laporan sejenis hanya karena sebuah kata dan frasa," ungkapnya.

"Karena salah omong, dan mungkin itu akan membuat laporan di siber juga digugat. Nah itu akan memperberat dan memperburuk kerja teman-teman polisi lah," tambahnya.

Tirta mengatakan, kalau pihaknya menaruh harapan kepada keputusan majelis hakim dan dapat memikirkan dampak-dampak yang telah dilakukan oleh Jerinx sebelumnya. Salah satunya, keterlibatan Jerinx dalam kegiatan sosialnya dan kegiatan sosial Jerinx yang dilakukan di 17 provinsi di Indonesia.

"Gara-gara Jerinx dengan statement-nya soal rapid test juga, ternyata rapid test juga enggak valid. Menurut saya okelah dipenjara, tapi enggak gitu juga tiga tahun. Karena dia masih punya hidup. Masa orang harus dipenjara tiga tahun karena pemilihan frasa," ucap Tirta.

Dia pun mengaku bahwa sebelumnya telah mencoba menjembatani istri terdakwa Jerinx, yaitu Nora Alexandra untuk bertemu dengan IDI Bali. Namun, pesan singkat yang dikirimkan ke IDI Bali tidak direspons.

"Harapannya Nora sudah sampaikan ke saya, jika ada waktu ingin bertemu dengan IDI Bali minta maaf langsung. Iya dari IDI Bali (yang tidak balas)," ucapnya.

Dokter Tirta membantah seakan melawan teman sejawat yaitu sesama dokter. Kata dia, tetap menghormati keputusan teman organisasi yang menjadi saksi pelapor.

"Karena sayang saja masak karier seseorang hancur karena dua frasa kacung dan bubarkan, sementara di sisi lain banyak orang sejenis yang ada yang jadi duta. Harapannya UU ITE ini bisa menjadi sarana kita untuk edukasi agar orang lebih berhati-hati," katanya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Tinggi Bali menuntut terdakwa Jerinx selama tiga tahun penjara, denda Rp10 juta dan subsider tiga bulan kurungan.

"Saya harusnya datang ke sini sebelum pembacaan tuntutan dari JPU. Tetapi Ketua IDI Bali menelepon saya malam-malam dan keberatan kalau saya datang ke sidang," ucapnya.

Dalam tuntutan terdakwa Jerinx, sesuai dengan Pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45A ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. (ant/ase)