On This Day: Dongeng Leicester City di Premier League

Luzman Rifqi Karami
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dongeng terjadi di Premier League 2015/16. Leicester City yang sama sekali tak diunggulkan sukses keluar sebagai juara.

Leicester menjadi juara usai pertandingan Chelsea melawan Tottenham Hotspur di Stamford Bridge, berakhir imbang 2-2, Senin 2 Mei 2016. Dengan dua laga sisa, poin The Foxes tak bisa dikejar Spurs yang menjadi pesaing terdekat.

Sukses ini begitu luar biasa bagi Leicester. Layaknya dongeng, nyaris tak ada yang mengunggulkan The Foxes untuk menjuarai Premier League. Beberapa bursa taruhan hanya memberikan rasio 5.000:1 untuk bertaruh Leicester bisa juara.

Di musim sebelumnya, Leicester nyaris saja terdegradasi usai promosi ke Premier League. Tentunya tak ada yang mengira mereka bisa juara. Apalagi, Premier League punya tim-tim yang bermaterikan pemain lebih baik, dari mulai Chelsea, Manchester City, Manchester United, Arsenal, dan Liverpool.

Jadi, wajar jika gelar juara ini langsung dirayakan oleh fans Leicester. Puluhan orang berkumpul di rumah stiker The Foxes, Jamie Vardy, begitu klub kebanggaan mereka dipastikan menjadi juara.

"Tidak ada yang akan keberatan dengan kebisingan malam ini. Ini bak dongeng, hampir semua fans Leicester akan berpesta sepanjang malam ini," kata salah seorang tetangga Vardy.

Situasi sangat berisik di sekitar rumah striker Leicester tersebut. Orang-orang saling berbicara, mengucapkan selamat, bahkan sejumlah pengendara membunyikan klakson, untuk membuat suasana malam menjadi ingar bingar.

"Perasaan yang sulit dipercaya, saya tidak pernah tahu sesuatu yang seperti ini. Kami hanya bisa bertahan di Premier League musim lalu, lalu akhir pekan nanti kami akan mengangkat trofi," kata Vardy seperti dilansir Mirror.

"Itu memberi Anda pemikiran, tentang sejauh mana kerja keras telah membawa setiap pemain dan staf musim ini. Ini pencapaian besar dalam sejarah sebuah klub hebat, dan kami merasa istimewa bisa menjadi bagian di dalamnya," lanjut top scorer Leicester ini.

Sukses Besar Ranieri

Kesuksesan ini menjadi catatan positif untuk Ranieri. Ini merupakan gelar liga domestik pertama yang pernah diraih pria Italia ini. Sebelumnya, Ranieri memang pernah menjuarai liga, namun itu hanya di Serie B bersama Fiorentina, Serie C1 dengan Cagliari, dan Ligue 2 dengan AS Monaco.

Selebihnya, Ranieri lebih sering menjadi runner-up. Dia hanya mampu menjadi runner-up liga, baik saat melatih Chelsea, Juventus, AS Roma, dan AS Monaco. Predikat Mr Runner-up pun pernah melekat pada dirinya.

Gelar juara Leicester pun ditanggapi begitu emosional oleh Ranieri. Apalagi, sukses ini juga berkat bantuan Chelsea yang pernah dilatihnya lebih dari satu dekade silam.

"Saya sangat bangga. Saya bahagia untuk para pemain saya, untuk chairman, staf di Leicester City, semua suporter kami dan komunitas kota Leicester. Sungguh perasaan yang luar biasa dan saya bahagia untuk semua orang," kata Ranieri dilansir ESPN.

Pria Italia yang kini menangani Sampdoria mengatakan tidak pernah berharap bisa merengkuh titel juara, saat ditunjuk sebagai manajer. "Saya orang yang pragmatis. Saya hanya ingin memenangkan satu demi satu pertandingan, dan membantu para pemain meningkat dari pekan ke pekan," lanjut mantan pelatih Juventus dan Valencia ini.

Mau tahu apa saja peristiwa bersejarah di dunia olahraga? Simak On This Day setiap hari hanya di VIVA.co.id.