Deadlock, Niat Sriwijaya Air Perpanjang Kerjasama dengan Garuda Kandas

Liputan6.com, Jakarta - Sriwijaya Air mengaku sebelum memutuskan untuk memutuskan kerjasama dengan Garuda Indonesia, pihaknya sudah berupaya untuk memperpanjang kerjasama dengan maskapai plat merah tersebut.

Pengacara sekaligus salah satu pemegang saham Sriwijaya Air Yusril Ihza Mahendra mengatakan keinginan itu dilakukan saat pihak Sriwijaya Air mengadakan pertemuan dengan manajemen Garuda Indonesia beberapa hari lalu.

"Namun karena deadlock dalam menyusun BoD, akhirnya dalam rapat pemegang saham terakhir diputuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Garuda Indonesia," tegas Yusril dalam keterangannya seperti ditulis Sabtu (9/11/2019).

Yusril menjelaskan, untuk langkah selanjutnya, pihaknya akan meminta BPKP dan auditor independen melakukan audit terhadap Sriwijaya untuk mengetahui kondisi perusahaan yang sebenarnya selama manajemen diambil alih oleh anak usaha Garuda Indonesia.

"Sriwijaya Air memohon maaf atas kurang baiknya pelayanan selama manajemennya ditangani oleh direksi yang mayoritas berasal dari GA grup. Selanjutnya, Sriwijaya akan kembali bekerja dengan profesional melayani pelanggan sebagaimana yang dilakukan selama ini," tuturnya.

 

Garuda Dianggap Ga Fair

Rencananya, 188 turis Malaysia akan didaratkan di Bandara International Hanandjoedin, Belitung dengan maskapai Sriwijaya Air.

Menurutnya, ada perubahan sistem pembayaran layanan yang diberikan anak usaha Garuda Indonesia (GMF, Gapura Angkasa dan Aerowisata) secara mendadak yang dinilai oleh Sriwijaya Air tidak fair.

"Sriwijaya Air menolak sistem yang dianggap tidak fair tersebut sehingga terjadi kekacauan penerbangan Kamis kemarin," ujar Yusril.

Selama ini, layanan servis pesawat, line maintenance, groundhandling dan catering dilakukan oleh anak-anak perusahaan Garuda. Namun karena hal tersebut, Sriwijaya mencoba mengaktifkan hal tersebut sendiri.

Disebutkan bahwa biaya maintenance terlalu mahal, sehingga pada akhirnya, Sriwijaya Air merasa kerjasama dengan Garuda Indonesia justru merugikan dan melumpuhkan bisnis maskapai.

"Sriwijaya menganggap kerjasama dengan Garuda selama ini merugikan kepentingan Sriwijaya karena telalu banyak konflik kepentingan antara anak-anak GA dengan Sriwijaya," lanjutnya.

Padahal semula, menurut Yusril, pihaknya hendak menyelesaikan draf perpanjangan perjanjian kerjasama dengan Garuda Indonesia. 

Beberapa Penerbangan Batal Terbang, Sriwijaya Air Minta Maaf

Sriwijaya Air Mulai Terbangi Silangit. (Foto: Zulfi Suhendra/Liputan6.com)

Beberapa waktu lalu sempat beredar pesan berantai berisi keluhan pelanggan atas pembatalan penerbangan yang dilakukan sepihak oleh maskapai Sriwijaya Air. Hal tersebut dinilai merugikan penumpang yang sudah beli tiket pesawat jauh-jauh hari.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson Jauwena menyampaikan permohonan maaf atas penundaan dan pembatalan penerbangan yang terjadi pada Kamis (07/11/2019).

"Kami mohon maaf sebesar-besarnya karena telah menimbulkan ketidaknyamanan atas gangguan jadwal penerbangan Sriwijaya Air kemarin," ujar Jefferson sebagaimana dikutip Liputan6.com dari keterangan tertulis, Jumat (09/11/2019).

Atas hal tersebut, Jefferson memastikan pelanggan Sriwijaya Air akan mendapatkan kompensasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Terkait kendala, dirinya menjelaskan bahwa penundaan dan pembatalan penerbangan terjadi karena adanya kendala operasional. Ke depannya, Sriwijaya Air akan menangani hal tersebut agar tidak berdampak lebih luas.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: