Debitur Pegadaian Malas Ambil Subsidi Bunga, Ini Alasannya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Kuswiyoto mengatakan sampai akhir 2020 pencairan subsidi bunga dari pemerintah baru tersalurkan kepada 370 debitur dengan nilai Rp 108,6 miliar. Angka ini masih jauh dari target penyaluran subsidi yang ditargetkan 1,8 juta debitur dengan nilai Rp 422,2 miliar.

"Pencairan ini masih kecil yaitu 370 debitur dengan nilai uangnya Rp 108,6 miliar," kata Kuswiyoto dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR-RI, Jakarta, Senin (8/4/2021).

Dia menjelaskan, kredit pinjaman di Pegadaian memiliki tenor yang pendek dan nilai pinjaman yang kecil. Sehingga banyak nasabah yang tidak bisa menikmati program subsidi bunga dari pemerintah.

Selain itu, nilai subsidi bunga pun relatif kecil dengan maksimal subsidi yang diterima Rp 100 ribu. Mayoritas penerima subsidi bunga ini sebesar Rp 20.000- Rp 30.000. Nilai subsidi yang kecil ini membuat para debitur enggan untuk mengambil subsidi kredit dari pemerintah.

"Ada juga yang subsidinya Rp 20.000, ini mereka malas datang mungkin karena ongkos angkot atau gojeknya enggak menutupi, untuk ambil subsidi yang kecil," kata dia.

Kondisi yang sama juga terjadi pada program Bantuan Presiden Produktif. Dari target penyaluran 1,18 juta debitur hanya 540 ribu debitur yang melakukan pencairan subsidi bunga. Adapun total pencairan yang dilakukan debitur sebesar Rp 1,34 triliun dari targetnya mencapai Rp 2 triliun.

"Jumlahnya (pinjaman) juga tidak terlalu besar jadi nasabah kami tidak memikirkan subsidi bunga ini," kata dia.

Berbagai upaya pemberitahuan kepada debitur juga telah dilakukan Pegadaian untuk menginformasikan agar nasabah mengambil dana subsidi bunga tersebut. Mulai dari SMS blast hingga mempekerjakan 800 tenaga kerja dalam program ini.

"Kita sudah pakai SMS blast, sebulan 2-3 kali dan kita pekerjakan pegawai khusus untuk mendatangi nasabah kami," kata dia.

Untuk itu, dana subsidi yang belum dicairkan para debitur ini ditampung ke dalam rekening khusus oleh perusahaan.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Pegadaian Pesan 15 GeNose untuk Deteksi Covid-19 ke Karyawan

Alat GeNose C19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dijajal di Kementerian PMK, Jakarta, Kamis (7/1/2021). Selain GeNose, Muhadjir juga menerima alat rapid test yang dibuat oleh Universitas Padjajaran (Unpad). (merdeka.com/Imam Buhori)
Alat GeNose C19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dijajal di Kementerian PMK, Jakarta, Kamis (7/1/2021). Selain GeNose, Muhadjir juga menerima alat rapid test yang dibuat oleh Universitas Padjajaran (Unpad). (merdeka.com/Imam Buhori)

Sebelumnya, PT Pegadaian (Persero) memesan 15 alat deteksi Covid-19 GeNose C-19 hasil pengembangan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk digunakan di lingkungan perusahaan.

Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Rektor UGM Panut Mulyono kepada Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto secara virtual, pada Jumat 5 Februari 2021.

Dalam kesempatan tersebut, Kuswiyoto mengungkapkan optimismenya bahwa GeNose dapat membantu Pegadaian untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19 di lingkungan perusahaan.

"Nantinya alat ini akan digunakan tidak hanya untuk karyawan, tapi juga masyarakat yang membutuhkan," ujar Kuswiyoto.

"Saat ini kami konsisten melakukan tes secara berkala untuk seluruh karyawan, dimana tes tersebut membutuhkan biaya yang relative cukup besar. Saya yakin, keberadaan GeNose bisa membantu Pegadaian melakukan efisiensi biaya terkait percepatan deteksi dini bagi karyawan yang terinfeksi," jelas dia.

Sementara Rektor UGM Panut Mulyono berharap, GeNose bisa bekerja maksimal dan akurat serta bermanfaat bagi banyak orang.

"Kami berharap GeNose bisa membantu screening dan memisahkan antara orang-orang yang sehat, dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Hal ini tentu baik dilakukan demi menciptakan rasa aman, nyaman dan meningkatkan produktivitas yang akan turut meningkatkan kinerja karyawan pada perusahaan," ucap Panut.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: