Dede ganti nama, Heryawan perbaiki nama

MERDEKA.COM, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf mengajukan perubahan namanya di Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Seolah tak mau kalah, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ternyata juga mengajukan perbaikan namanya ke PN Bandung.

Jika Dede Yusuf mengajukan penambahan nama Dede Yusuf menjadi Dede Yusuf Macan Effendi maka Heryawan mengajukan perbaikan nama dari Akhmad Heryawan menjadi Ahmad Heryawan. Melalu pengacaranya, Heryawan meminta hakim menetapkan bahwa Akhmad Heryawan dan Ahmad Heryawan adalah orang yang sama.

Heryawan melalui Biro Hukum dan HAM Setda Pemprov Jawa Barat ternyata telah mendaftarkan perkaranya tersebut pada Kamis (29/11) lalu.

Dalam surat perkara 1204/PDT.P/2012/PN.BDG, tercantum nama pemohon ialah H Ahmad Heryawan beralamat di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 1 RT01 RW01 Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.

Di dalam petitumnya (surat permohonan), pemohon (Ahmad Heryawan) meminta agar majelis hakim mengabulkan seluruh permohonannya.

Permohonan itu ialah menyatakan bahwa nama H Ahmad Heryawan dan Akhmad Heryawan adalah satu nama dan orang yang sama, yakni H Ahmad Heryawan.

Untuk nama H Ahmad Heryawan merupakan nama yang tercantum di dalam KTP dengan NIK 3273191906660002.

Menyikapi hal tersebut Panitera Muda Perdata PN Kelas 1A Bandung, Asep Dedi Swasta menuturkan, yang dilakukan Gubernur Jawa Barat berbeda dengan yang dilakukan oleh Wagub Jabar.

"Jadi, Pak Heryawan itu bukan mengubah atau menambah nama, namun hanya memperbaiki dari Akhmad Heryawan menjadi H Ahmad Heryawan. Hanya menetapkan bahwa dua nama itu adalah orang yang sama. Jadi tidak mengganti KTP," ujarnya.

Untuk jadwal sidangnya sendiri, kata Asep, memang awalnya digelar hari ini namun akhirnya sidang diundur menjadi Senin (3/12) mendatang.

Sebelumnya, siang tadi PN Bandung menggelar sidang permohonan penambahan nama Dede Yusuf. Hakim Agus Jumardo yang memimpin sidang.

Dihadirkan dua orang saksi yaitu Sekretaris Pribadi Wakil Gubernur Jabar tersebut yakni Abdul Azis dan saudaranya yakni Agah Roni Muhamad Arif.

Dede Yusuf tidak bisa menghadiri persidangan karena sedang dinas luar kota sehingga diwakili oleh kuasa hukumnya Buce Mulyadi SH.

Pada sidang tersebut hakim memeriksa sejumlah berkas yang memuat nama Dede Yusuf seperti akta kelahiran, Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), ijazah dan lain-lain.

Saat pemeriksaan tersebut hakim menemukan ada beberapa perbedaan di berkas-berkas itu yakni tertulis nama "Yusuf Dede Effendi", lalu "Dede Yusuf Effendi" dan "Yusuf Macan Effendi".

Ia mencontohkan, pada surat lahir, tercantum nama Jusuf Effendi, lalu di STTB/ijazah sekolah dasar (SD) nama yang tertulis ialah Yusuf Dede Effendi.

Sementara itu, pada STTB/ijazah SMP hingga SMA, nama Dede Yusuf adalah Dede Yusuf Effendi dan untuk ijazah S-1, nama yang tercantum adalah Yusuf Macan Effendi.

Perbedaan nama juga tercatat di Dinas Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, hingga Dinas Kependudukan Kota Bandung yakni Dede Yusuf Macan Effendi.

Oleh karena itu, atas dasar penyeragaman tersebut, maka hakim pun mengabulkan pemohon untuk mengubah namanya menjadi Dede Yusuf Macan Effendi.

Selain itu, hakim juga memerintahkan pemohon untuk mengganti seluruh identitas pemohon sesuai dengan penetapan pemutusan dan meminta pemohon membayar biaya perkara sebesar Rp 166.000.

Kuasa hukum Dede Yusuf Macan Effendi, Buce Mulyadi SH menuturkan, dengan adanya penetapan itu maka seluruh surat-surat mesti diganti memakai nama "Dede Yusuf Macan Effendi".

"Pergantian tersebut mulai dari KTP, paspor, akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, dan lainnya," kata Buce.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.