Delapan film pendek peraih penghargaan internasional yang wajib tonton

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 3 menit

Film pendek memang kurang populer di masyarakat, dan rata-rata film genre tersebut juga hanya diputar dalam acara festival atau komunitas film.

Akan tetapi, sejak pandemi COVID-19 masyarakat dapat dengan mudah mengakses film-film yang sebelumnya cukup jarang diputar secara umum.

Film Pendek merupakan bagian dari dunia perfilman, bahkan semua festival film di seluruh dunia selalu memiliki tempat tersendiri yang mengundang banyak minat pecinta film. Dengan durasi cerita yang singkat dan sarat makna, film pendek selalu membuat orang terpesona.

Dalam rangka meriahkan Hari Film Nasional, berikut ini adalah beberapa film pendek karya sineas tanah air yang mendapat penghargaan di luar negeri dan menjadi film wajib tonton bagi para pecinta film.

"Prenjak"

Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film yang diproduksi tahun 2016 ini mendapat berbagai penghargaan seperti Winner of Leica Cine Discovery Prize for Best Short Film, 55th Semaine de la Critique, Festival de Cannes 2016, Winner of Cinema Nova Award for Best Short Film, Melbourne International Film Festival 2016, dan Winner of Best Short Film at Singapore International Film Festival 2016.

Film pendek ini berkisah tentang seorang wanita bernama Diah. Karena kondisi ekonominya buruk, Diah mau melakukan apapun hingga menjual korek api dengan harga tinggi. Dengan korek tersebut sang pembeli bisa melihat sesuatu yang tidak biasa.

Baca juga: Pandemi diharapkan jadi momentum perbaiki infrastruktur industri film

Baca juga: Hari Film, ini tiga fokus Kemenparekraf geliatkan industri layar lebar

"Tilik"

Film pendek ini sempat mendapat respon yang luarbiasa dari warganet, lantaran ceritanya sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

"Tilik" berdurasi 32 menit 34 detik ini disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo yang diproduksi pada 2018. Film ini mendapat penghargaan Official Selection World Cinema Amsterdam tahun 2019.

"Tilik" bercerita tentang sekelompok perempuan yang berencana mengunjungi salah satu tetangganya yang dirawat di rumah sakit. Dengan menyewa truk, mereka melakukan perjalanan dan banyak konflik yang terjadi.

"Something Old, New, Borrowed and Blue"

Disutradarai oleh Mouly Surya, film ini mendapat penghargaan 30th SGIFF Festival Opening 2020.

"Something Old, New, Borrowed and Blue" mengisahkan soal percakapan seorang ibu dan anak pada detik-detik sebelum upacara pernikahan Islam-Jawa. Film ini menggambarkan budaya patriarki di Indonesia dan memiliki makna yang mendalam.

"Kado"

Film pendek berdurasi 15 menit itu mengangkat tema pergulatan dalam diri remaja yang sedang mencari jati diri. Disutradarai oleh Aditya Ahmad, "Kado" mendapat penghargaan sebagai film pendek terbaik kategori Orizzonti di Venice International Film Festival pada 2018 lalu.

"Ballad of Blood and Two White Buckets"

Dirilis pada 2018, film ini mengisahkan sepasang suami istri yang berprofesi sebagai penjual saren atau makanan khas Indonesia yang berasal dari darah binantang yang disembelih.

Dengan alur cerita yang tidak biasa, film arahan Yulia Evina dan Amerta Kusuma ini ditayangkan dan mendapat nominasi di Toronto Internasional Film Festival.

"The Seen and Unseen"

Film ini tidak populer di Indonesia, namun justru terkenal di luar negeri. "The Seen and Unseen" atau "Sekala Niskala" berkisah tentang dua anak kembar bernama Tantri dan Tantra yang punya keterikatan batin kuat satu sama lain.

Suatu hari Tantra meninggal dunia karena penyakit, namun ada kejanggalan mistis yang dialami Tantri. Film yang disutradarai oleh Kamila Andini ini berhasil masuk Toronto Internasional Film Festival pada 2017.

"05.55"

Film ini terinspirasi dari peristiwa gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006. Film yang disutradarai oleh Tiara Kristiningtyas dan Mohammad Azri ini berhasil meraih Global Short Film Award 2016 untuk kategori Best Cinematography.

"05.55" ditampilkan dengan format hitam putih dan tanpa dialog yang menggambarkan situasi pada saat itu.

"On the Origin of Fear"

Film arahan sutradara Bayu Prihantono ini mendapat penghargaan dari Festival Film Venice Internasional 2016 program Orizzonti (VIFF 2016).

Film ini berkisah tentang sebuah masa pada era orde baru, di mana menampilkan bahwa kekerasan adalah salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan sebuah pemerintahan. "On the Origin of Fear" sengaja dibuat untuk memperingati 50 tahun Tragedi 1965.

Baca juga: Film Indonesia "House No.15" berkompetisi di festival RAI Ethnographic

Baca juga: "Lentera di Tepian", sajian film pendek musikal di penghujung tahun

Baca juga: Kiat bikin film pendek ala sutradara film pendek "Tilik"