Delapan orang tewas saat Topan Bulbul hantam pantai India-Bangladesh

Oleh AFP

Delapan orang tewas dan lebih dari dua juta orang lagi bermalam berdesakkan di tempat penampungan warga saat Topan Bulbul menghantam pantai India dan Bangladesh dengan angin kencang dan hujan lebat, kata beberapa pejabat Ahad.

Topan tersebut membawa angin dengan kecepatan sampai 120 kilometer (75 mil) per jam ketika menerjang pada Sabtu malam (9/11), membuat pelabuhan dan bandar udara ditutup di kedua negara itu.

Tiga orang tewas di Negara Bagian Benggala Barat, India, dua orang meninggal setelah pohon yang tumbang menimpa rumah mereka dan satu orang lagi tertimpa cabang pohon yang patah di Kolkata. Orang keempat meninggal akibat tertimpa tembok roboh di Negara Bagian Odisha, yang berdekatan.

Di Bangladesh, empat orang lagi tewas oleh pohon tumbang dan sedikitnya 20 orang cedera. Topan itu juga merusak sebanyak 4.000 rumah yang kebanyakan dibuat dari lumpur dan kaleng, kata Menteri Penanganan Bencana Bangladesh Shah Kamal kepada AFP.

Di pantai Khulna, kabupaten yang paling parah dilanda topan di Bangladesh, pohon berayun kencang dan tercabik dari tanah akibat topan ganas, sehingga menghalangi jalan dan menghambat akses ke daerah tersebut.

Sebagian wilayah dataran rendah di kabupaten itu terendam banjir, Kata Menteri Penanganan Bencana Enamur Rahman kepada AFP.

Pemerintah menyatakan topan tersebut melemah saat bergerak memasuki daratan.

"Topan itu berubah menjadi depresi dalam, dan mengakibatkan hujan lebat," kata Wakil Kepala Biro Cuaca Bangladesh Ayesha Khatun kepada AFP.

Bulbul menghantam pantai di Sundarbans, hutan bakau terbesar di dunia yang membentang dari Bangladesh sampai India, dan tempat tinggal spesies yang terancam punah termasuk Harimau Benggala dan ikan lumba-lumba Irrawaddy.

Hutan bakau itu melindungi pantai dari dampak penuh topan, kata Ayesha Khatun.

Sebanyak 2,1 juta orang di seluruh Bangladesh dipindahkan ke tempat penampungan warga.

Tentara dikerahkan ke kabupaten pantai sementara puluhan ribu relawan mendatangi rumah-demi-rumah dan menggunakan pengeras suara untuk mendesak warga agar meninggalkan desa mereka.

"Kami bermalam bersama 400 orang lagi," kata Ambia Begum, yang tiba di satu tempat penampungan di Kota Pelabuhan Mongla pada Sabtu malam (9/11) bersama keluarganya.

"Saya khawatir mengenai ternak saya dan rumah jerami saya. Saya tak bisa membawa mereka ke sini. Tuhan tahu apa yang sedang terjadi di sana," kata ibu tiga anak yang berusia 30 tahun tersebut kepada AFP.

Sebanyak 1.500 wisatawan terjebak di Pulau St. Martin di Bangladesh Tenggara setelah layanan perahu dibatalkan.

Di India, hampir 120.000 orang yang diungsikan mulai pulang ke rumah mereka saat topan melemah, kata pemerintah.

"Topan ini telah meninggalkan jejak kehancuran saat melintasi garis pantai Benggala Barat," kata Menteri Pembangunan Kota di negara bagian itu Firhad Hakim.

"Pohon bertumbangan, atap jerami banyak rumah dihumbalang oleh topan."

Pantai dataran rendah Bangladeh, tempat tinggal 30 juta orang, dan India Timur ruting diterjang topan.

Meskipun seringnya dan kekuatan topan telah meningkat, sebagian akibat perubahan iklim, korban jiwa telah turun karena pengungsian cepat dan dan pembuatan ribuan tempat penampungan di pantai.

Topan Fani adalah topan paling kuat yang menerjang daerah tersebut selama bertahun-tahun, ketika topan itu menerjang pada Mei, dan menewaskan 12 orang.