Delapan orang yang ditahan pascaserangan Wina sebelumnya telah divonis

·Bacaan 2 menit

Wina (AFP) - Delapan dari mereka yang ditahan pascaserangan teroris Senin malam di Wina sebelumnya telah divonis, termasuk karena pelanggaran terkait teror, menurut menteri dalam negeri Austria pada Kamis, ketika penyelidikan diperluas ke Swiss dan negara kedua, yang dirahasiakan namanya.

Pascaserangan, di mana seorang pria kelahiran Austria menembak dan menewaskan empat orang di kawasan populer di pusat kota Wina pada Senin malam, polisi menangkap total 16 pria.

Empat di antaranya telah dihukum karena pelanggaran terorisme, dua karena pelanggaran kejahatan dengan kekerasan, dan dua lagi karena percobaan "pembunuhan demi kehormatan", kata Menteri Dalam Negeri, Karl Nehammer saat konferensi pers, Kamis.

"Kami berkoordinasi secara intensif dengan FBI," yang memberikan "informasi berharga" kepada otoritas Austria, lanjut Nehammer, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Investigasi juga mengarah ke Swiss, di mana jaksa telah mengkonfirmasi bahwa dua pria asal Swiss berusia 18 dan 24 tahun yang ditangkap pada Rabu telah menjadi target kasus kriminal atas pelanggaran terorisme.

Otoritas di negara lain juga sedang menyelidiki "kaitan langsung dengan pelaku," kata Nehammer. Namun, menurutnya ia tidak dapat mengungkapkan nama negara tersebut pada tahap ini sebab penyelidikan masih berlangsung.

Surat kabar Jerman Der Spiegel awal pekan ini melansir bahwa penyerang Wina telah melakukan kontak dengan kelompok ekstremis Jerman dalam upaya melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Negara tetangga membantu otoritas Austria serta Europol, badan penegakan hukum Uni Eropa, yang mengirim dua agen ke Wina.

Penembakan itu merupakan serangan besar pertama di Austria selama puluhan tahun sekaligus yang pertama dilakukan oleh seorang ekstremis, yang diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai Kujtim Fejzulai (20), seorang warga negara Austria-Makedonia yang juga telah divonis karena mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah.

Usai menewaskan empat orang dan melukai 22 orang, termasuk satu petugas polisi, Fejzulai tewas oleh tembakan peluru tepat di bawah bahu kirinya dan menembus paru-parunya, menurut otoritas.

Pada Kamis petugas keamanan juga menyampaikan kritikan bahwa mereka tidak menindaklanjuti peringatan dari negara tetangga Slovakia bahwa Fejzulai berupaya membeli amunisi di sana pada Juli, sekitar tujuh bulan setelah dibebaskan dalam masa percobaan.

Meski pada Rabu Nehammer mengakui "kegagalan komunikasi" saat harus memberi tahu kementerian kehakiman, kepala Kepolisian Wina, Gerhard Puerstl, mengatakan tersangka pada awalnya tidak dapat diidentifikasi dengan jelas dalam foto yang dikirim oleh Slovakia.

Pada Kamis ratusan orang berkumpul untuk mengenang para korban di dekat lokasi serangan, termasuk anggota organisasi pemuda Yahudi dan Muslim.

Sebelumnya para imam dan rabi, bersama dengan Kardinal Katolik Roma dari Wina Christoph Schoenborn, berpartisipasi dalam doa bersama untuk para korban.

Informasi lebih lanjut muncul di media setempat mengenai mereka yang tewas dalam serangan, yang termuda di antaranya berusia 21 tahun bernama Nedzip V.

Korban lainnya adalah seorang mahasiswa Jerman berusia 24 tahun di University of Applied Arts Wina yang bekerja sebagai pelayan, seorang pria berusia 39 tahun dan seorang wanita berusia 44 tahun.