Delegasi R20 kunjungi Wihara Mendut dan Borobudur

Delegasi Religion 20 (R20) mengunjungi Wihara Mendut dan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, didampingi Dirjen Bimas Buddha Supriyadi dan Wakil Sekjen PBNU M. Najib Azca.

"Inilah kepercayaan dunia kepada Indonesia, di mana Indonesia sebagai laboratorium kerukunan dan ini peran dari PBNU sangat penting," kata Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama Supriyadi di Magelang, Minggu.

Sedangkan Wasekjen PBNU M. Najib Azca mengatakan Wihara Mendut ini menjadi tempat ibadah satu-satunya yang dikunjungi secara resmi dari delegasi.

"Inilah keragaman yang ditunjukkan Ketua PBNU Gus Yahya. Mudah-mudahan ini menjadi contoh bagi dunia bahwa Indonesia itu rukun tidak seperti yang disuarakan selama ini," katanya.

Ia berharap R20 ini menjadi kebijakan ke depan nanti dan berkelanjutan sebagai pendamping G20 setiap tahun.

Ia mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari R20 lanjutan dua hari di Bali, kemudian di Yogyakarta selama tiga hari dan hari terakhir mengunjungi Mendut dan Borobudur dan Minggu malam penutupan di Ponpes Pandanaran Yogyakarta.

"Memang ini bagian dari yang disebut perjalanan budaya untuk para tokoh agama ini guna menyaksikan secara langsung, bisa merasakan, menghayati suasana keberagamaan dan keragaman kebinekaan di Indonesia ini. Mulai kemarin delegasi ini ke Kampus UII di mana ada candi di tengah kampus Muslim dan kemarin sore ke Candi Prambanan dan dilanjut hari ini ke Wihara Mendut dan Candi Borobudur," katanya.

R20 merupakan forum pemimpin-pemimpin agama di dunia. Indonesia sebagai inisiator acara itu ingin menunjukkan kepada pemimpin semua agama di dunia ini mengenai praktik kehidupan kebhinnekaan yang harmonis di Indonesia.

"Harapannya ini akan menginspirasi kepada semuanya mengenai bagaimana seharusnya, katakanlah umat beragama mayoritas itu melindungi, merawat dan menjaga hubungan baik dan menghormati kepada umat-umat minoritas. Ini isu penting yang dibahas dalam R20," katanya.

Ia menambahkan hingga sekarang masih terjadinya kekerasan terhadap kelompok agama minoritas di mana-mana.

"Jadi kami ingin praktik ini menjadi pembelajaran untuk dunia, tujuannya ingin membangun sebuah kekuatan global yang berbasis atau terinspirasi nilai-nilai agama yang ingin menjadikan agama sebagai sumber solusi bagi persoalan-persoalan di dunia," katanya.