New Delhi Minta Tentara Turun Tangan Atasi Pasien COVID-19 yang Membeludak

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, New Delhi - Pihak berwenang di New Delhi meminta bantuan khusus dari tentara India di tengah situasi tsunami COVID-19 yang semakin brutal.

Rumah sakit di pusat kota India sedang dalam masa krisis akibat infeksi Virus Corona COVID-19. Tempat tidur perawatan intensif penuh dan kekurangan oksigen, demikian dikutip dari laman BBC, Selasa (4/3/2021).

Pemerintah Delhi ingin tentara menjalankan fasilitas perawatan COVID-19 dan unit perawatan intensif.

Di seluruh India, jumlah kasus per hari ini telah tembus 20 juta.

Angka positif harian mencapai 300.000 kasus selama hampir dua minggu berturut-turut, sementara angka kematian mencapai 220.000.

Para ahli mengatakan, total kasus COVID-19 dan kematian di India cenderung jauh lebih tinggi, mengutip kurangnya upaya pengujian dari pemerintah dan kurangnya pasokan oksigen.

Rumah Sakit Kewalahan

Kerabat dan staf membawa jenazah korban virus corona di Krematorium Nigambodh Ghat, di tepi sungai Yamuna, New Delhi, Kamis dinihari (22/4/2021). Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan India tengah menghadapi ‘badai’ virus COVID-19 yang mengacaukan sistem kesehatan negara itu. (Sajjad HUSSAIN/
Kerabat dan staf membawa jenazah korban virus corona di Krematorium Nigambodh Ghat, di tepi sungai Yamuna, New Delhi, Kamis dinihari (22/4/2021). Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan India tengah menghadapi ‘badai’ virus COVID-19 yang mengacaukan sistem kesehatan negara itu. (Sajjad HUSSAIN/

New Delhi, yang akhir pekan ini melaporkan rekor kematian harian lebih dari 400 jiwa, menginginkan tentara terlibat dan turun tangan.

Para tentara diminta untuk membantu tenaga medis dalam menggupayakan pemberian oksigen untuk sekitar 10.000 pasien dan 1.000 unit perawatan intensif.

Pasukan tentara India telah memerintahkan anggotanya untuk mengirim oksigen dari cadangan militer ke rumah sakit.

Arvind Kejriwal, pejabat di New Delhi telah berulang kali mengatakan bahwa kota tersebut tidak mendapatkan cukup oksigen dari pemerintah federal, yang mengalokasikan kuota oksigen ke negara bagian lain.

Tetapi pejabat federal menyangkal ada kekurangan, dengan mengatakan tantangan datang dari proses distribusi.

Saksikan Video Berikut Ini: