Demi Keberhasilan Replanting, Petani Sawit Wajib Cermati Tawaran Bibit

VIVA
·Bacaan 4 menit

VIVA – Pemberian dana peremajaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kepada para petani sawit yang berniat meremajakan kebun sawit mereka merupakan bentuk nyata dukungan Pemerintah Republik Indonesia untuk meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa membuka lahan baru.

Dana yang disediakan pemerintah bagi petani sawit tentu disertai persyaratan melalui penerbitan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2020 tentang persyaratan pengajuan usulan peremajaan kelapa sawit rakyat. Para petani atau pekebun sawit yang berencana meregenerasi kebun sawit mereka yang sudah berusia tua atau tanaman di atas 25 tahun harus memenuhi dua persyaratan utama dalam pengajuan pencairan dana peremajaan sawit rakyat (PSR).

Ketentuan pertama menyebut bahwa para pekebun sudah harus membentuk kelompok tani/gapoktan/koperasi/kelembagaan ekonomi pekebun lainnya yang beranggotakan minimal 20 pekebun dengan hamparan minimal seluas 50 hektare per kelompok. Lahan anggota pekebun tersebut berada dalam jarak paling jauh 10km dilengkapi dengan peta berkordinat.

Dan aspek legalitas pun dituangkan dalam peraturan tersebut termasuk para pekebun wajib mengantongi Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Surat Keterangan Tanah (SKT), Sporadik, Girik (letter C), Akte Jual Beli (AJB), atau hak adat (komunal) atau hak atas tanah lain yang diakui keberadaannya.

Selanjutnya, para petani dihadapkan pada proses teknis mengawali program penanaman kembali sawit mereka. Asian Agri sebagai perusahaan pengelola kelapa sawit yang berpengalaman lebih dari 34 tahun bermitra dengan petani plasma sawit mendorong petani untuk memanfaatkan dana peremajaan dari BPDPKS secara bertanggung jawab, sebab hal tersebut dapat menentukan produktivitas kebun sawit mereka dalam kurun waktu 25 tahun masa produktif.

Dalam pertemuan rutin dengan petani binaannya, Asian Agri terus mengingatkan pentingnya menggunakan bibit yang jelas sumber dan rekam jejaknya. Petani diingatkan untuk tidak mudah tergiur tawaran penjual bibit yang memberikan harga murah, proses cepat dan pemesanan online.

Omri Samosir, Head Operational Asian Agri, menegaskan bahwa bibit palsu merupakan bibit yang tidak layak ditanam oleh petani. Kualitas bibit menjadi salah satu kunci penting bagi para petani kelapa sawit yang meremajakan kebun agar dapat mencapai target produksi yang seyogyanya lebih baik dari tanaman generasi sebelumnya. Ini pula yang membuat Asian Agri terus mendorong petani sawit untuk memastikan legalitas bibit yang akan digunakan serta catatan produktivitas bibit yang sudah digunakan di kebun-kebun sawit sehingga petani berpeluang besar mencapai kesuksesan peremajaan kebun sawit yang didukung dana PSR dari pemerintah.

“Para petani harus memilih bibit yang berkualitas dan legal, jangan membeli bibit sembarangan karena berisiko bibit tidak asli atau palsu. Hindari juga pembelian bibit secara online karena tidak ada sertifikatnya. Pilihlah penjual yang resmi, salah satunya adalah Asian Agri yang memiliki bibit Topaz,” terang Omri.

Salah satu yang dilakukan Asian Agri adalah dengan mengembangkan benih kelapa sawit Topaz. Benih ini diciptakan oleh para peneliti di Balai Penelitian Topaz. Mereka berhasil menciptakan benih kelapa sawit superior yang berasal dari kombinasi sumber benih di berbagai negara. Benih Topaz menawarkan dua keunggulan sekaligus, yaitu kemampuan beradaptasi dengan kondisi lahan dan hasil yang tinggi.

Hal inilah yang mendorong Asian Agri melakukan penelitian mendalam untuk mengembangkan bibit unggulan. Langkah ini dapat membantu para petani untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal tanpa harus menambah luas lahan.

“Mari kita bertanggung jawab menjaga kepercayaan pemerintah yang telah mendukung program peremajaan sawit rakyat dengan memastikan persiapan replanting secara seksama, memanfaatkan dana replanting secara optimal untuk mengupayakan produktivitas dan hasil panen yang tinggi serta mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan,” imbuh Omri.

Peremajaan kebun sawit juga membuka wawasan ekonomi dan lingkungan para petani untuk tetap mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan menjaga kelestarian alam saat program peremajaan berlangsung.

“Di saat seperti inilah petani harus cermat memilih mitra pendamping yang mampu menggali dan mengembangkan potensi ekonomi alternatif, memiliki keahlian serta sumber daya yang mumpuni sehingga peremajaan kebun tidak membebani keluarga petani,” ujar Omri.

Tak dapat dipungkiri bahwa para petani akan mengalami masa penantian panen hingga 28-30 bulan saat penanaman kembali. Dalam rangka mengantisipasi menurunnya pendapatan petani selama menanti masa panen, Asian Agri memberikan bantuan fasilitas seperti ilmu pengetahuan, pelatihan, maupun bantuan bibit untuk usaha-usaha lain di luar sawit.

Asian Agri membuka kesempatan petani yang akan melakukan replanting untuk menjajaki usaha lain di luar kebun sawit sebagai sumber pendapatan penopang selama kelapa sawit yang diremajakan belum dihasilkan. Bentuk dukungan Asian Agri antara lain pemberian bibit ternak seperti ternak sapi, lele, ayam, dan cacing, dan terkait penguatan organisasi atau koperasi untuk mengembangkan usaha, termasuk studi banding dan pelatihan kewirausahaan.

Omri menguraikan pentingnya memilih pendamping yang tepat, teruji dan terbukti dalam keberhasilan penanaman kembali. “Jangan sampai tergiur dengan harga murah yang tidak menjamin kualitas bagus dalam jangka panjang, ataupun karena referensi petani lain yang tidak didukung bukti pengelolaan di kebun. Masa tanam generasi kedua akan panjang, dan jangan berspekulasi memilih mitra, karena dampaknya akan berlangsung selama 25 tahun.”

Dalam memilih mitra, petani sawit dapat mengakses informasi seluas-luasnya mengenai bukti-bukti keberhasilan, sumber daya yang tersedia untuk memperlancar proses replanting, benih unggul, dan dukungan keuangan yang dimiliki mitra.

Seperti iklan yang kerap ditayangkan untuk mengingatkan konsumen, para petani sawit juga diingatkan agar tidak berprinsip coba-coba ketika memilih mitra dalam peremajaan kebun sawit mereka. Rekam jejak kemitraan petani dan perusahaan seperti yang dijalin perusahaan perkebunan sawit Asian Agri bukanlah dalam tempo singkat.

Keberhasilan kemitraan mengawal generasi pertama sawit petani dengan praktik agronomi terbaik, termasuk penyediaan sumber daya berpengalaman dalam mendampingi proses penanaman, masa pemeliharaan serta memberi rekomendasi terhadap pupuk dan kadar dosis, sepatutnya menjadi acuan untuk melanjutkan komitmen bermitra dalam 25 tahun berikutnya.

Karena itu, memilih mitra untuk menghasilkan sawit berkualitas dan tinggi produktivitas, jangan coba-coba!