Demi Penuhi Kebutuhan Keluarga Saat Pandemi COVID-19, Pria Australia Ini Nekat Bikin Konten Porno

·Bacaan 3 menit

Melbourne - Pandemi COVID-19 telah berdampak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia. Salah satunya segi ekonomi. Tak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan, meski kebutuhan hidup terus berjalan.

Meningkatnya pengangguran selama pandemi COVID-19 telah mendorong banyak orang untuk mencari sumber pendapatan alternatif, termasuk Alec Nysten. Ia adalah pria yang kini terjun ke industri pornografi, dengan ribuan pengikut di platform media sosial berbasis langganan OnlyFans.

Mengutip ABC Australia, Kamis (7/1/2021), pengikut Alec membayar A$10 (sekitar Rp100 ribu) sebulan untuk bisa mengakses gambar dan video panas alias porno miliknya.

"Saya seorang entertainer di Instagram dan mendapat beberapa tawaran untuk membuat beberapa konten pornografi, beberapa [tawaran] pornografi solo yang baru saya terima, dan sekarang saya mengunggah produk porno itu ke situs bernama OnlyFans," katanya.

Tetapi Komisaris Keamanan Elektronik Australia, Julie Inman Grant, memperingatkan kepada mereka yang membagikan gambar "buka-bukaan" secara online adanya risiko konten akan dicuri dan digunakan di situs web lain.

"Ada banyak situs porno di luar sana yang mendapat untung dari menampilkan konten intim semacam ini, dan mereka benar-benar akan meminta uang kepada korban untuk menghapus konten itu," katanya.

Konten porno berlangganan menyumbang penghasilan keluarga Alec. Pria berusia 28 tahun itu mengatakan akun berbasis langganannya adalah cara untuk mendapatkan penghasilan yang stabil, selama tinggal di kawasan regional Australia Barat.

"Saya dari Bunbury, [ini] kota kecil, tidak banyak peluang," kata Alec.

"Saya rasa orang-orang menyukai penampilan saya, jadi saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."Alec juga menjalankan usaha label pakaian, tetapi untuk saat ini sumber pendapatan utamanya adalah konten khusus untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.

Terlibat Masalah Besar: Pencurian Gambar dan Video

Tapi kini dia menghadapi masalah besar setelah gambar dan videonya dicuri dan dibagikan pengguna di situs gratis.

"Saya tidak tahu siapa [pelakunya] atau bagaimana, tapi tampaknya [ini dilakukan] secara rutin," tutur Alec.

"Konten saya selalu diunggah di [situs porno] gratis, semua jenis [akun] Twitter mengunggah konten saya secara gratis, beberapa orang bahkan berpura-pura menjadi saya dan meminta orang untuk mendaftar dan menggunakan konten saya dengan cara itu."

OnlyFans menjadi berita utama tahun lalu ketika peretas dilaporkan mulai membocorkan konten pornografi di dalamnya, memicu kemarahan dari banyak pembuat kontennya, meskipun juru bicara situs tersebut membantah adanya pelanggaran itu.

Alec membayar perusahaan anti-pembajakan untuk menemukan dan menghapus gambar yang telah dibagikan tanpa izinnya, tetapi dia mengatakan tidak sepenuhnya efektif. "Saya membayar mereka ratusan dolar sebulan untuk mencoba menemukan konten itu dan memblokirnya," katanya.

"Tapi saya bahkan tidak tahu apakah itu berpengaruh, sepertinya hanya sedikit."

Pencurian Gambar Eksplisit Merupakan Masalah Umum

Ilustrasi situs porno (AFP Photo)
Ilustrasi situs porno (AFP Photo)

Julie Inman Grant mengatakan ada banyak perusahaan yang menghapus gambar yang dicuri, tetapi mereka seringkali hanya menyentuh permukaan masalah.

"Saya pikir mereka bisa menghapusnya, tapi kita semua sedang memainkan permainan 'whack-a-mole' sekarang."

Dia mengatakan agensinya telah mencatat peningkatan jumlah warga Australia yang beralih ke konten eksplisit berbayar sebagai cara untuk menambah pendapatan selama pandemi.

Tapi dia mengatakan selalu ada risiko gambar bisa dicuri.

"Hukum di sini, di Australia, kuat dan kami satu-satunya lembaga di dunia yang melakukan pekerjaan semacam ini yang memiliki kekuatan hukum dan sejumlah pengaturan di belakang kami," katanya.

"Tapi [konten] itu bisa berakhir di mana saja di dunia, tergantung situsnya."

Risikonya Meluas ke Siapa pun yang Berbagi Gambar Secara Online

Julie mengatakan siapa pun yang berbagi gambar secara online harus waspada.

"Baik itu dengan seorang teman melalui teks atau di situs web mapan yang memiliki langkah-langkah keamanan, Anda akan selalu berada dalam risiko," katanya.

"Orang perlu memahami bahwa setiap kali Anda membagikan gambar, gambar itu akan hilang selamanya.""Kami menyediakan layanan di mana kami dapat menghapus gambar-gambar intim, tetapi kami tidak pernah bisa menjamin gambar-gambar itu tidak akan muncul lagi."

Komisi eSafety juga mendesak warga Australia untuk melaporkan ancaman penyebaran gambar yang mereka terima, yang dikenal sebagai "sextortion".

Penipu dapat mencuri gambar dari halaman media sosial pribadi atau dari balik paywall dan mengancam untuk membagikannya secara publik kecuali jika si pemilik membayarnya.

Julie mengatakan, siapapun yang khawatir gambarnya dicuri harus mengumpulkan bukti sebanyak mungkin dan melaporkannya ke situs web Komisi Keamanan Elektronik - esafety.gov.au.

Saksikan Juga Video Ini: