Demo BBM Ricuh, Seorang Polisi Curhat ke Wartawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi seorang petugas polisi tidak selamanya bisa "bergagah-gagahan" dengan seragamnya. Tidak jarang, para polisi itu harus menahan keluhan hatinya saat menunaikan tugas menjaga keamanan di masyarakat. Terutama, saat para polisi itu berhadap-hadapan secara fisik dengan warga masyarakat dalam sebuah demonstrasi.

Hari ini, Selasa (27/3), sejumlah aksi unjuk rasa menentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM berlangsung ricuh. Seorang polisi pun membuat sebuah tulisan dan mengirimkan tulisannya ke beberapa wartawan, termasuk Republika, terkait aksi unjuk rasa yang mengarah ke kerusuhan tersebut.

Berikut "isi hati" polisi tersebut menanggapi aksi unjuk rasa yang cenderung anarkis:

Kalau kami boleh demo, kami lebih depan dari Anda hai mahasiswa.
Kalau kami boleh bicara, kami bicara lebih lantang dari Anda wahai mahasiswa.
Andai kalian tidak anarkis, kami tidak akan berdiri tegap, namun berangkulan dengan Anda wahai mahasiswa.
Apakah kalian tidak paham bahwa kami juga merasakan pahitnya jika harga melambung tinggi.
Kalian pikir keluarga kami makan peluru.
STOP DEMO ANARKHIS, dukung kami menjaga aspirasi damai tanpa kekerasan.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.