Demo Kedubes China, Mahasiswa: Stop Perkosa Muslimah Uighur

Syahrul Ansyari
·Bacaan 2 menit

VIVA - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Islam (AMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Republik Rakyat Tiongkok, Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 25 Maret 2021. Mereka mengecam genosida terhadap jutaan warga etnis Uighur di Xinjiang.

Dalam aksi tersebut, mereka membawa sejumlah poster yang bertuliskan "Stop jadikan muslimah Uighur sebagai budak seks", "Stop perkosa muslimah Uighur" juga spanduk yang menuntut China untuk segera menghentikan tragedi kemanusiaan terhadap etnis Uighur.

Mereka menilai rentetan pelanggaran HAM berat yang dilakukan otoritas Tiongkok selama ini sudah menjurus pada kejahatan kemanusiaan genosida yakni memusnahkan etnis Uighur dari peradaban umat manusia.

“Perkosaan, penyiksaan hingga pembinasaan kaum Uighur di Xinjiang, adalah tragedi kemanusiaan tersadis sepanjang abad ini,” kata Koordinator Aksi Unjuk Rasa, Rimbo Bugis, kepada wartawan.

Baca juga: Laporan Terbaru Tuding China Mau Musnahkan Etnis Uighur

Dia menyampaikan bukan hanya pemimpin-pemimpin negara, tapi juga sudah ada kesepakatan 70 pemuka agama perwakilan bangsa-bangsa di dunia dunia yang memandang muslim Uighur di Xinjiang sedang menghadapi tragedi kemanusiaan terparah sejak Holocaust Yahudi pada zaman Nazi.

Bahkan, pemimpin kharismatik Kristen dunia, Paus Fransiskus, menyinggung nasib "Uighur yang malang" dalam buku "Let us Dream: The Path to A Better Future" yang dia tulis.

“Meski RRT berkali-kali menyangkal aksi genosida, foto maupun video yang diyakini menjadi bukti penyiksaan hingga pembantaian muslim Uighur di kamp konsentrasi 'reedukasi’ telah tersebar luas, tidak terbantahkan. Google-in saja atau search di Youtube kalau mau lihat,” ujar Rimbo lagi.

Rimbo menambahkan bantahan-bantahan serta sikap tertutup China terkait masalah Uighur tentunya memantik kecurigaan global sehingga semakin banyak negara-negara dunia yang semakin peduli serta berempati atas tragedi kemanusiaan muslim Uighur.

Sebagai bagian dari masyarakat dunia, lanjutnya, mereka menyerukan agar RRT menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM berat seperti pemerkosaan terhadap muslimah Uighur, sterilisasi kehamilan dan kelahiran, memisahkan anak-anak Uighur dari orang tuanya, penangkapan massal kaum Uighur lalu ditempatkan pada kamp-kamp konsentrasi yang jauh dari kata layak bahkan untuk hewan sekalipun, serta penyiksaan hingga pembantaian etnis Uighur.

“Boikot produk China termasuk pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing, sebelum RRT menghentikan tragedi kemanusiaan muslim Uighur, dan bawa kasus pelanggaran HAM berat di Xinjiang China ke International Court Of Justice (Mahkamah Internasional),” kata Rimbo.