Demo Lurah Susan Digerakkan Dua Tokoh Ini  

TEMPO.CO, Jakarta - Aksi penolakan Lurah Lenteng Agung ternyata sudah digagas sejak lama. Ketika Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli  dilantik Juli 2013 lalu, sejumlah warga mulai resah. Warga yang tak mau dipimpin seorang non-muslim berembuk membahas bagaimana caranya mengganti pimpinan kelurahan itu. 

"Kami pikirkan cara bagaimana memprotes kebijakan ini," ujar juru bicara Forum Warga Lenteng Agung, Mochamad Rusli, kepada Tempo, Rabu, 28 Agustus 2013. Maka, dibentuklah forum untuk menyampaikan keberatan mereka ke pihak Balai Kota DKI Jakarta. (Baca: Pengakuan Warga Lenteng Agung Soal Lurah Susan)

Sasaran protes warga ketika itu langsung merujuk ke pusat. Usai diterapkannya kebijakan lelang jabatan, wewenang penempatan lurah ada di Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melalui Badan Kepegawaian Daerah. Lurah Susan, yang lolos seleksi, mau tak mau ditempatkan di Lenteng Agung. "Lurah Susan korban lelang jabatan, maka kami (semula) tak protes ke dia," ujar Rusli.

Setelah dibentuk forum, warga mulai mengggalang dukungan. Rusli mengklaim ada lebih dari seratus majelis taklim di Lenteng Agung yang sudah sepakat menolak pemimpin non-muslim. Forum Warga Lenteng Agung sendiri diketuai tokoh lokal bernama Nasri Nasrullah. "Kami juga berhasil mengumpulkan 1.500 kartu tanda penduduk (KTP) dan 2.300 tanda-tangan. Semua meminta agar lurah Susan dipindah ke tempat lain," ujar Rusli.

Proses penggalangan dukungan berlangsung selama satu bulan. Senin, 26 Agustus 2013 lalu, berkas permohonan warga penolak Lurah Susan dikirim ke pihak Balai Kota.

Permintaan itu langsung ditolak Pemprov DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menegaskan pemerintah tak akan merotasi lurah Susan.

Rusli mengklaim itulah awal aksi unjuk rasa mereka, Rabu, 28 Agustus 2013. Warga yang tak terima permintaannya mengganti lurah non-muslim ditolak akhirnya turun ke jalan. 

 

Selanjutnya: Setiap majelis mengirim wakil ....

Ketua Forum Warga Lenteng Agung, Nasri Nasrullah, mengaku pengunjuk rasa mewakili setiap majelis taklim di kawasan itu. Menurut dia, jumlah pengunjuk rasa yang datang mencapai 400 orang. Namun, dari pantauan Tempo di lapangan, jumlah pendemo hanya berkisar 150-200 orang.

Nasri mengakui jumlah orang yang datang hari ini tidaklah seberapa. "Tapi kami siap datang kembali dengan massa lebih banyak," ujarnya. Ia mengklaim hampir seluruh warga Lenteng Agung menolak lurah Susan.

"Nanti bisa turun semuanya, karena banyak dari mereka belum tahu saja ada demo," ujar Nasri. Saat ini jumlah warga Lenteng Agung diperkirakan berjumlah 9.000 Kepala Keluarga (KK).

Nasri, 53 tahun, dan Rusli, 45 tahun, merupakan warga asli Lenteng Agung. Keduanya sejak lahir menetap di sini. Sebelumnya, kata Nasri, Lurah Lenteng Agung selalu pria dan muslim. "Ini baru pertama kali," ujar Rusli. Menurut dia, sesuai agama Islam, ia tak bisa menerima dipimpin oleh seorang wanita, apalagi yang tak seagama.

Sebelum Susan, Kelurahan Lenteng Agung juga dipimpin oleh seorang wanita, lurah Marsita. "Waktu itu ada warga menolak, tapi ada juga yang menerima," ujarnya. Lurah Marsita akhirnya diterima karena muslim dan bisa hadir di acara-acara pengajian atau ibadah lain.

"Kalau lurah yang sekarang, sama sekali tak pernah bisa hadir," ujar Nasri. Padahal, warga rutin mengadakan pengajian keliling di tiap majelis taklim. "Kami minta lurah bisa rutin ikut di setiap acara yang digelar warga," ujar Nasri.

M. ANDI PERDANA

Topik terhangat: Rupiah Loyo| Konser Metallica | Suap SKK Migas | Konvensi Partai Demokrat | Pilkada Jatim

Berita Terpopuler:

Duit US$ 100 Terselip di Buku Pledoi Djoko Susilo

Jokowi Siap Jadi Mediator Keraton Solo, Tapi...

Ditanya Soal Sekjen ESDM, Jero Wacik Terbata-bata 

Putri Jusuf Kalla Menikah, Mal Pacific Place Penuh

Baca Pleidoi, Jenderal Djoko Susilo Menangis

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.