Demo Tolak Habib Rizieq dan FPI di Surabaya Berujung Ricuh

Dedy Priatmojo, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Massa mengatasnamakan Aliansi Arek Suroboyo menggelar aksi penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI) dan kabar kedatangan pemimpin organisasi tersebut, Habib Rizieq Shihab (HRS) di jalan depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa, 24 November 2020.

Aksi itu berujung bentrok antara massa pendemo dengan puluhan orang diduga dari FPI.

Massa berkumpul di lokasi sekira pukul 13.00 WIB. Dengan tertib, mereka kemudian berbaris di sisi selatan jalan, tepat di depan patung Gubernur Suryo di seberang Grahadi.

Massa kemudian membentangkan beberapa spanduk berisi kalimat tuntutan aksi. Satu di antaranya spanduk bergambar wajah Nikita Mirzani berjilbab.

Di spanduk bergambar Nikita, terdapat tulisan: Ini Hati Bukan Roti yang Bisa Dibagi (NKRI Harga Mati). Ada spanduk bertulisan 'Arek Suroboyo Tolak FPI' dan 'Tolak Rizieq Shihab'.

"Ini aksi solidaritas kami warga Jatim, khususnya Surabaya. Jadi kami menolak kehadiran Habib Rizieq dan akan mengadang rencana kunjungan tersebut sebagai bentuk warga Jatim yang cinta damai dan tidak suka keoonaran,” kata koordinator aksi, Ahmad Zazuli.

Ia juga menyinggung organisasi yang dipimpin Rizieq Shihab, FPI. Menurutnya, sepak terjang FPI membahayakan persatuan Indonesia. Ceramah HRS juga berpotensi memecah belah bangsa. Atas alasan itu Arek Suroboyo menolak kedatangan HRS. "Kedua, persoalan COVID-19 belum selesai," kata Zazuli.

Ditanya soal foto Nikita Mirzani yang dipasang di salah satu spanduk, Zazuli mengatakan bahwa artis ceplas-ceplos itu merupakan simbol perlawanan. Sikap Nikita yang berani mengkritisi ujaran kebencian yang kerap dilontarkan HRS perlu untuk diapresiasi.

"Nikita sosok yang mewakili wanita terkait dengan perlawanan terhadap ujaran kebencian, adu domba dan sebagainya," ujarnya.

Dijaga aparat kepolisian, aksi semula berjalan lancar. Sekira pukul 14.00 WIB, massa kemudian memasang spanduk di sekitar Jalan Gubernur Suryo. Massa kemudian membubarkan diri.

Sekira setengah jam kemudian, puluhan orang dari kelompok lain datang. Massa tanpa atribut itu lantas mencopot spanduk yang dipasang massa Aliansi Arek Suroboyo.

Melihat itu, beberapa peserta aksi yang masih berada di sekitar lokasi kembali ke titik aksi. Mereka menghardik massa pencopot spanduk. Ketegangan pun terjadi. Kedua kelompok saling dorong. Bahkan, salah satu di antaranya terlihat berdarah. "Lapo spanduk mok copoti iku! (Kenapa spanduknya dilepas!)," teriak salah satu massa.

Peserta dari Aliansi Arek Suroboyo mengatakan, mereka tak terima spanduk penolakan FPI dan Rizieq yang telah dipasang tiba-tiba dicopot. Ia menduga massa pencopot spanduk adalah dari FPI.

Dikonfirmasi wartawan soal itu, Wali Laskar FPI Surabaya, Agus Fachrudin, yang berada di lokasi ogah menjawab. "No comment dulu," katanya. (ase)