Demo Tolak Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa Terobos Kawat Berduri

Merdeka.com - Merdeka.com - Kericuhan mewarnai aksi demonstrasi menolak kenaikan BBM yang digelar mahasiswa di kawasan Patung Kuda, Kamis (8/9). Sejumlah demonstran berupaya menerobos kawat berduri penyekat lokasi aksi.

Aksi penolakan BBM oleh organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) semula berjalan tertib. Salah seorang orator di mobil aksi mengerikan kata 'Revolusi' berkali kali hingga membuat massa aksi menembus barikade kawat berduri polisi.

Sebagian massa yang semula duduk kemudian berdiri dan menerobos kawat berduri yang dipasang sebagai penyekat titik aksi.

Pantauan merdeka.com di lokasi aksi, tidak hanya massa yang menerobos kawat berduri, demonstran sambil membawa bendera bertiang bambu maju dengan paksa.

Kericuhan tidak berlangsung lama, peserta aksi yang bersemangat menerobos barisan pengamanan diredam oleh orator.

Hingga pukul 14.40 WIB, aksi masih berlangsung dan sejumlah ruas jalan di kawasan aksi dialihkan.

GMNI Bakar Ban

ban
ban.jpg

Massa GMNI berdatangan mengenakan almamater ciri khasnya berwarna merah. Mereka juga membawa aksesoris berupa bendera GMNI serta poster - poster kritikan untuk pemerintah agar menurunkan BBM.

Meski hujan sempat mengguyur lokasi, massa tetap bertahan untuk menyuarakan aspirasinya. Mereka menganggap kenaikan harga BBM sangat menyengsarakan rakyat.

"Jangan mau dikhianati oleh pemerintah. Saat ini kami menuntut pemerintah mengkaji agar harga BBM diturunkan sehingga masyarakat bisa sejahtera dan tidak tertindas oleh kebijakan yang dibuat," ungkap orator di lokasi.

Ketua Umum GMNI, Imanuel Cahyadi menyatakan sudah selayaknya pemerintah menurunkan harga BBM. Seharusnya, dia menambahkan, pemerintah memikirkan dan membuat kebijakan agar subsidi BBM tepat sasaran.

"Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan. Namun, pemerintah malah memotong subsidi dan mengalokasikannya pada dana bantuan sosial yang mungkin akan menimbulkan polemik baru," ujarnya.

Aksi demonstrasi tersebut juga diwarnai pembakaran ban yang menggambarkan kekecewaan para peserta. [fik]