Demo Tolak Kudeta Militer Myanmar, Hampir 500 Warga Sipil Ditangkap

Hardani Triyoga, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Junta militer Myanmar telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap enam selebriti, karena memulai demonstrasi dan pemogokan. Hingga kini, sudah hampir 500 orang telah ditahan, akibat aksi protes di Myanmar.

Di antara enam orang yang ditangkap itu antara lain selebriti lokal, sutradara film, aktor dan penyanyi. Mereka ditahan berdasarkan undang-undang anti-penghasutan, karena mendorong para pegawai negeri untuk ikut dalam demonstrasi.

Penangkapan itu membuat mereka terancam hukuman penjara dua tahun. Beberapa dari mereka yang ada dalam daftar itu memberontak dan menolak untuk ditahan.

"Sungguh menakjubkan melihat persatuan rakyat kami. Kekuatan rakyat harus kembali kepada rakyat," tulis aktor lokal Lu Min di halaman Facebook pribadinya,

Meskipun junta militer telah meminta pegawai negeri untuk kembali bekerja dan mengeluarkan sejumlah ancaman serta sanksi, namun tidak ada tanda-tanda aksi pemogokan itu akan mereda.

Kemarin malam, pasukan keamanan melepaskan tembakan di kota terbesar kedua di Myanmar, Mandalay, ketika mereka berusaha menghadang para pekerja kereta api agar berhenti beroperasi, sebagai bagian dari gerakan pembangkangan sipil.

Dikutip dari Aljazeera, sekitar 495 warga dengan latar belakang unsur pemimpin politik, aktivis, dan warga biasa ditahan. Sebagian di antaranya sudah menjalani dakwaan dan juga sudah di penjara.

Tiga orang sudah dijatuhi divonis. Rinciannya, dua orang dibui 2 tahun. Sementara, satu orang lagi divonis 3 bulan penjara. Dari laporan Aljazeera, sekitar 460 orang masih ditahan.

Ratusan ribu orang turun ke jalan di seluruh wilayah Myanmar, sebagai bentuk protes menentang kudeta militer pada 1 Februari lalu, dan penahanan terhadap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Militer mengambil alih kekuasaan setelah komisi pemilihan menolak tuduhan adanya kecurangan dalam pemilu 8 November 2020 lalu. Pada pemilu itu, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang diketuai Suu Kyi, mendapatkan kemenangan telak.