MERDEKA.COM. Sejumlah mahasiswa yang menjadi korban pemukulan oleh aparat saat melakukan aksi demostrasi menolak kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengambil upaya hukum. Mereka menilai, polisi telah melakukan tindakan represif dan tidak manusiawi saat membubarkan massa.

"Dari enam mahasiswa yang diamankan, rata-rata kena pukul semua, namun yang mengalami luka fisik di bawah mata dan kening hanya satu dan harus dirawat di rumah sakit," ungkap Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) UPS Tegal, Desky Danuaji di RSUD Kardinah Kota Tegal, Kamis (21/2).

Desky menambahkan, korban yang mengalami luka cukup parah akibat pukulan aparat adalah Sekretaris BEM FE Universitas Pancasakti (UPS) Tegal bernama Rosyid Ridho. Rosyid mengalami tindak kekerasan oleh salah seorang polisi berpakaian preman.

Selain melalui jalur hukum, aparat kepolisian yang melakukan tindak kekerasan terhadap mahasiswa harus menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan mahasiswa. Tidak hanya itu, Desky meminta agar pelaku pemukulan tak lagi menjalani dinas di lingkungan Polresta Tegal.

"Untuk langkah selanjutnya kami akan menempuh jalur hukum sesuai dengan prosedur. Oknum-oknum yang melakukan pemukulan harus minta maaf," tegasnya.

Sebelumnya, polisi melakukan pembubaran terhadap sekelompok mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Stasiun KA Kota Tegal, Jalan Setiabudi Kota, Tegal, Jawa Tengah, Rabu (20/2) sekitar pukul 17.00 WIB. Peristiwa berlangsung ketika mahasiswa akan berorasi namun dihadang puluhan polisi dari Polresta Tegal.

Akibatnya, enam orang mahasiswa UPS diamankan dan dibawa ke Mapolres Tegal Kota, dan Rosyid dilarikan ke RSUD Kardinah Tegal. Insiden pemukulan ini terjadi di perempatan Kalimati, selang beberapa saat setelah mahasiswa berorasi di Gedung DPRD Kota Tegal.

sampai saat ini, Rosyid masih terbaring di ruang perawatan RSUD Kardinah, Tegal mengaku tidak mengira aparat akan bertindak keras. Menurutnya, setelah menggelar orasi di Jalan Harmahera dan Gedung DPRD Kota Tegal, belasan mahasiswa akan kembali ke kampus namun mampir dulu di warung makan.

"Sambil pulang, kami akan membagikan selebaran tentang penegerian UPS. Tapi begitu sampai di perempatan Kalimati, tiba-tiba polisi datang dan langsung menangkap beberapa mahasiswa. Saat itu kami bertiga (Rosyid, Desky dan Miftahudin) berpegangan, dan saat kami terjatuh tiba-tiba saya mendapat pukulan," ungkap Rosyid di Ruang Wijayakusuma, RSUD Kardinah Kota Tegal.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.