Demonstran Hong Kong tolak peringatan Xi, tetap berunjuk rasa di jalanan

Hong Kong (AFP) - Pengunjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong menentang peringatan dari Presiden China Xi Jinping dan kembali turun ke jalan-jalan kota pada Jumat, dalam kekacauan politik yang juga merembes ke London di mana seorang menteri dari kota China Selatan itu dihadang oleh demonstran bertopeng.

Hong Kong dilanda protes tanpa henti sejak Juni karena banyak orang di kota berpenduduk 7,5 juta itu marah akibat kebebasan yang terkikis di bawah pemerintahan China.

Kekerasan meningkat, dan ketegangan merebak di luar negeri, memicu pertikaian antara China dan Inggris, yang memerintah Hong Kong hingga 1997.

Hari Kamis, Menteri Kehakiman Hong Kong Teresa Cheng terjatuh di London setelah dikerumuni oleh pengunjuk rasa pro-demokrasi, dalam konfrontasi dengan benturan fisik paling parah yang melibatkan seorang anggota kabinet sejak kerusuhan dimulai.

Cheng setelah terjatuh kemudian berjalan pergi tanpa ada tanda-tanda cedera.

Tetapi China menyebutnya itu sebagai "serangan mengerikan" dan menuduh Inggris memanaskan gerakan protes.

Inggris mendesak Beijing dan Hong Kong untuk mencari solusi politik bagi krisis kota dan mengutuk kekerasan yang meningkat di kedua kubu.

Dalam sebuah pengarahan di Beijing, juru bicara kementerian luar negeri China Geng Shuang mengatakan jika Inggris "terus menambah bahan bakar ke api ... maka itu akan membawa bencana pada dirinya sendiri."

Sebelumnya pada Jumat, ribuan pekerja kantor turun ke jalan-jalan teritorial China, banyak yang meneriakkan "Mendukung Hong Kong" dan mengangkat tangan terbuka dengan lima jari terentang.

Ini merujuk pada lima tuntutan gerakan protes, yang mencakup hak untuk memilih pemimpin Hong Kong secara bebas, serta penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi.

"Setiap orang di Hong Kong memiliki peran untuk dimainkan," James, seorang karyawan perbankan berusia 33 tahun mengatakan kepada AFP, dan menambahkan bahwa "pengorbanan" diperlukan untuk menjaga angin di belakang gerakan protes.

Para pemrotes berpakaian hitam juga menduduki kampus-kampus universitas, sementara kota itu mengalami kekacauan transportasi dengan terhentinya jaringan kereta api yang dirusak dan jalan-jalan yang ditutup dengan barikade-barikade.

Aksi mereka bertentangan dengan peringatan oleh Presiden China Xi yang pada hari Kamis mendukung Lam dan kepolisian, sementara memperingatkan gerakan protes mengancam prinsip "satu negara, dua sistem" yang mengatur kota semi-otonom.itu.

Xi mengatakan "menghentikan kekerasan dan mengendalikan kekacauan" adalah prioritas teratas.

Dengan krisis yang semakin dalam minggu ini, tumbuh kekhawatiran bahwa kesabaran Xi akan habis dan pasukan China akan dikerahkan ke Hong Kong.

The Global Times, salah satu kekuatan media pemerintah China, Kamis memicu ketegangan dengan sebuah tweet yang melaporkan bahwa pemberlakuan jam malam sudah dekat.

Tetapi dengan cepat mencabut tweet itu dan pemerintah Hong Kong menyangkal telah merencanakan jam malam.

Tanpa ada tawaran konsesi dari China, pengunjuk rasa mengubah taktik pada hari Senin ketika mereka meluncurkan kampanye "mekar di mana-mana" untuk menyebabkan gangguan sebanyak mungkin di seluruh Hong Kong dan melebihi kekuatan pasukan polisi.

Hingga minggu ini protes terutama terjadi di malam hari dan di akhir pekan, memungkinkan kota pusat keuangan internasional itu untuk tetap berfungsi relatif lancar selama minggu ini meskipun ekonominya terseret ke dalam resesi.

Tapi penghalang jalan dan perusakan stasiun metro dan jalur rel telah membawa kekacauan ke jaringan transportasi kota, memaksa sekolah untuk menutup dan banyak penumpang untuk tinggal di rumah.

Aksi mereka disertai dengan kekerasan yang meningkat dari kedua belah pihak - dua orang tewas dalam seminggu dalam insiden yang terkait dengan protes.

Seorang lelaki berusia 70 tahun meninggal pada hari Kamis karena cedera yang diderita sehari sebelumnya ketika dia dihantam batu bata saat bentrokan antara pemrotes dan orang-orang yang marah terhadap mereka.

Polisi pada Jumat mengatakan bahwa mereka telah membuka kasus pembunuhan pria itu.

Universitas-universitas besar juga telah menjadi pusat bagi para pengunjuk rasa - pertama kalinya suatu gerakan yang ditandai dengan kelancaran dan tidak bisa diprediksi di lokasi-lokasi tetap.

Seorang juru bicara polisi menggambarkan pendudukan oleh demonstran berpakaian hitam di Universitas hHong Kong sebagai "tong mesiu".

Tetapi saat memasuki senja Jumat, jumlah mahasiswa dan pengunjuk rasa tampak berkurang.

"Jika hanya sejumlah kecil orang yang tetap di sini, mudah bagi polisi untuk masuk dan menangkap mereka," kata seorang siswa yang menyebut namanya hanya Wendy.

Kerusuhan dipicu oleh penentangan terhadap rencana pemerintah Hong Kong untuk memperkenalkan undang-undang yang memungkinkan ekstradisi tersangka kriminal ke daratan Cina.

Pemerintah menarik RUU yang menyebabkan berbulan-bulan unjuk rasa itu, namun tuntutan demonstrans berubah menjadi kampanye yang lebih luas untuk kebebasan demokratis dan melawan polisi.