Demonstran sasar gereja setelah putusan larangan aborsi hampir total di Polandia

·Bacaan 2 menit

Warsawa (AFP) - Para demonstran menyasar gereja-gereja Katolik di seluruh Polandia pada Minggu dalam pergolakan selama empat hari berturut-turut menentang larangan hampir total aborsi di negara UE tersebut.

Para demonstran meneriakkan, "Kami sudah muak!" dan "kaum barbar" di dalam sebuah gereja di kota barat Poznan, demikian menurut klip video yang diposting di media sosial. Kejadian ini terulang di seluruh negara yang sangat Katolik itu.

Para demonstran menanggapi putusan yang dikeluarkan pengadilan konstitusional Polandia pada Kamis bahwa undang-undang saat ini yang membolehkan aborsi janin yang rusak "tidak sesuai" dengan konstitusi.

Vonis itu sejalan dengan pandangan keuskupan Katolik Roma yang kuat di Polandia dan partai nasionalis Hukum dan Keadilan (PiS) yang tengah berkuasa.

Para demonstran yang mengacungkan plakat bertuliskan umpatan dan yang lainnya mengatakan "Saya harap saya bisa mengaborsi pemerintahan saya", bentrok dengan polisi dan pendukung larangan itu di luar sebuah gereja di pusat kota Warsawa.

Media lokal juga memasang gambar grafiti di dinding-dinding gereja di berbagai kota besar dan kota kecil bertuliskan "Neraka wanita" yang menjadi slogan utama unjuk rasa ini.

Ribuan orang yang kebanyakan wanita juga berkumpul di kota-kota Gdansk, Krakow, Lodz, dan Rzeszow, dan di belasan kota yang secara tradisional lebih konservatif.

Mereka mengamini unjuk rasa massal yang diadakan di seluruh Polandia sejak Kamis yang melanggar batasan ketat terhadap pertemuan publik di bawah langkah-langkah anti-virus corona.

Di kota Poznan, lusinan wanita mengganggu kebaktian dan memegang spanduk di depan altar sambil meneriakkan "Kami muak dengan ini", menurut laporan media dan media sosial.

Meskipun ada larangan pertemuan lebih dari lima orang, sekitar 4.000 demonstran berkumpul di Katowice, kota bagian selatan Polandia.

Menurut laporan media, beberapa berteriak "ini perang", dan "hukum manusia, bukan hukum gerejani".

Para penentang putusan itu berpendapat bahwa vonis tersebut membahayakan jiwa perempuan dengan memaksa mereka hamil secara tidak layak, tetapi para pendukung putusan itu menandaskan bahwa itu akan mencegah aborsi janin yang didiagnosis mengalami Down Syndrome.

Sudah ada kurang dari 2.000 aborsi legal per tahun di Polandia yang bahkan sebelum putusan itu memperkuat beberapa pembatasan penghentian paling ketat di Eropa dan sebagian besar dilakukan karena janin yang rusak.

Tetapi kelompok wanita memperkirakan bahwa sekitar 200.000 prosedur dilakukan secara ilegal atau berada di luar negeri.

Women's Strike, penyelenggara unjuk rasa kini, menyatakan akan ada menggelar aksi unjuk rasa lebih besar lagi dalam pekan mendatang dengan mendesak orang-orang agar memblokir kota-kota pada Senin, dan meminta kaum perempuan untuk melakukan pemogokan nasional Rabu.

Putusan aborsi pekan lalu -yang sudah final dan tidak bisa dicabut lagi- mengundang kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia di Eropa dan Dewan Eropa yang adalah organisasi hak asasi manusia terkemuka di benua itu.

mas/txw/rbu/qan