Denmark Soroti 3 Poin Pengembangan Ekonomi Biru di Forum G20

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Pembangunan Denmark, Flemming Moller Mortensen menyoroti 3 poin dalam pengembangan ekonomi biru atau Blue Economy. Ekonomi Biru dinilai jadi salah satu upaya penting untuk keluar dari zona krisis energi yang terjadi saat ini.

Flemming Moller Mortensen mengungkap langkah ini juga jadi satu cara untuk mendorong transisi energi dan transformasi ekonomi. Alasannya, aspek Ekonomi Biru jadi jalan untuk memuluskan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

"Pertama, ekonomi biru yang kuat harus didasarkan pada transisi hijau yang adil dan merata. Ekonomi biru dan transisi energi hijau harus berjalan beriringan. Dan kita telah memperjuangkan Indonesia untuk menjadikan transisi energi sebagai prioritas dalam G20," ujarnya dalam pembukaan Seminar of The Development Indonesia's Blue Economy Roadmap, di Belitung, Rabu (7/9).

Kedua, dibutuhkannya kemitraan antara pemerintah dan swasta yang kuat dalam ekonomi biru lintas sektor negara dan kawasan. Dalam hal ini, kerangka kebijakan yang ambisius, khusus, dan transparan diperlukam sebagai kunci menarik investor.

"Kerangka kebijakan yang ambisius, khusus dan transparan adalah kunci untuk menciptakan kepercayaan investor dan untuk menarik investasi swasta ke ekonomi hijau dan biru. Dan ketiga, kita membutuhkan kolaborasi regional dan multilateral yang kuat untuk mengatasi masalah lintas batas ekonomi biru ini," bebernya.

Dia mengakui kalau Denmark dan beberapa negara lain tengah berupaya untuk meningkatkan serapan energi bersih. Misalnya, meningkatkan instalasi tenaga surya hingga 4 kali lipat di 2030 mendatang.

"Kami akan meningkatkan kapasitas angin lepas pantai lebih dari sepuluh kali lipat pada tahun 2050. Dan dengan demikian kami akan memasok lebih dari 213 juta rumah tangga di mana listrik hijau dan mereproduksi hidrogen hijau untuk dekarbonisasi pengiriman," terangnya.

Langkah ini, menurutnya menjadi contoh dalam bentuk kolaborasi antar negara. Pendekaran regional yang dilakukan Denmark, diminta turun menjadi contoh negara lain.

"Kami menerapkan pendekatan yang berpusat pada orang, dan kami memperkuat keterlibatan publik dengan pemangku kepentingan dengan meningkatkan keuntungan masyarakat lokal secara langsung dari investasi sebagai pemegang saham atau sebaliknya," ungkapnya.

Dalam upaya menuju transisi energi, Flemming Moller Mortensen juga telah serius dalam mendorong penyetopan produksi energi fosil. Contohnya menyetop produksi minyak dan gas di Laut Utara (North Sea) pada 2050 mendatang.

Sejalan dengan itu, pihaknya juga telah menyetop penerbitan lisensi baru untuk produksi minyak dan gas bumi. Serta melakukan transfer teknologi dan pengetahuan dengan mitra-mitra Denmark.

"Dan kami mendirikan aliansi angin lepas pantai global untuk meningkatkan angin lepas pantai secara global sebesar 380 gigawatt pada tahun 2030. Dan kami mengundang semua 20 negara untuk bergabung dengan Aliansi," tukasnya.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]