Dennis Adhiswara Merinding Karena Hal Ini

Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dennis Adhiswara berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda yang terletak di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat baru-baru ini. Dennis baru menginjakkan kaki setelah sekian lama melihat gedung atau bangunan tersebut melalui buku atau dokumentasi lainnya. Rupanya, Dennis merinding dengan sensasi di tempat tersebut.

"Saya merinding juga karena ini adalah tempat sejarah untuk sumpah pemuda yang pertama kaki saya datengin, biasanya baca di buku aja," kata Dennis saat ditemui di Museum Sumpah Pemuda baru-baru ini.

Dennis mengaku museum dan toko buku merupakan tempat yang wajib didatangi ke mana pun ia pergi. Menurut Dennis Adhiswara banyak pelajaran, ilmu dan pengalaman yang bisa diambil dari tempat bersejarah tersebut.

Baca juga: Bangganya Dennis Adhiswara, Film Milly & Mamet Diminati di Malaysia?

"Museum adalah rumah ibadah saya, itu toko buku dan museum. Pertama kali datang ke daerah saya selalu bertanya, museum mana yang asik ceritanya, bisa saya lihat-lihat, bukan cuma buat update IG, tapi mau mendnegarkan apa yang ada di situ, mau belajar," kata Dennis.

Dennis Adhiswara semakin tertarik saat tahu Museum Sumpah Pemuda tengah mengadakan pameran temporer bertajuk Mr. Sartono, Sang Pejuang Demokrasi. Pameran tersebut akan berlangsung mulai tanggal 28 Oktober sampai 13 November 2020. Benda-benda bersejarah bukti perjuangan milik Raden Mas Sartono atau Mr. Sartono sebagai seorang tokoh Sumpah Pemuda akan dipamerkan di Ruang Pameran Temporer tersebut.

"Lebih hidup dengan pameran ini, mengambil tokoh Raden Mas Hartono, ini informasi baru buat saya karena begitu banyak pelaku sejarah di Indonesia, tapi beliau ini sedikit diberitakan dan diketahui secara umum," kata Dennis.

Sebagai orang yang sering mengunjungi museum, Dennis Adhiswara berharap ke depannya akan banyak inovasi yang dilakukan. Ia ingin museum didatangi banyak anak muda agar bisa menggali ilmu dan mengenal sejarahnya.

"Akan lebih bagus lagu kalau pendekatan yang lebih pop, kita tahu anak muda sekarang suka baca komik, nonton drakor dan sebagainya, yang harus kita coba nantinya dengan cari kisah-kisah pahlawan kita yang mirip dengan apa yang mereka tonton saat ini. Minimal merasa relate, detailnya baru bisa ditemuin di museum," kata Denis.

Hal itu segera diamini oleh Kepala Museum Sumpah Pemuda, Titik Umi Kurniawati. Pihaknya akan mengadakan terobosoan di tahun depan agar museum terlepas dari paradigma yang mengatakan kolot, kuno dan sebagainya.

"Itu tugas utama kami bagaimana mengemas sedemikian rupa hingga koleksi bisa menarik. 2021 akan ada revitalisasi museum, lebih ke digital," kata Titik.