Densus Beberkan Tahapan Calon Anggota NII hingga Pembaiatan, Ini Prosesnya

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri membeberkan pola rekrutmen anggota teroris Negara Islam Indonesia (NII) yang tersebar di Sumatera Barat (Sumbar). Usai ditangkapnya 16 anggota NII di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Tanah Datar, selama bulan Maret 2022.

"Bulan Maret 2022 telah dilakukan penegakan hukum terhadap 16 orang anggota jaringan Negara Islam Indonesia (NII)," kata Kabagbinops Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Aswin Siregar dalam keterangannya, Senin (18/4).

Aswin mengatakan dari penangkapan terhadap 16 anggota NII Sumbar, terkuak pola mereka dalam merekrut anggota-anggota baru dimana bisa mencapai ribuan di berbagai tingkatan wilayah.

Wilayah organisasi NII di Sumbar memiliki struktur mulai pada tingkatan cabang, kecamatan, hingga CV (istilah NII) IV/Padang dengan anggota mencapai 1.125 anggota, dengan 400 anggota aktif.

"Di mana sekitar 400 orang di antaranya merupakan personel aktif dan selebihnya non-aktif (sudah berbai’at namun belum aktif dilibatkan dalam kegiatan NII) yang sewaktu-waktu bisa diaktifkan apabila perlu," sebutnya.

Selanjutnya, Awsin mengatakan dari pola perekrutan berjenjang NII Cabang IV/Padang yang terbagi dalam 5 ranting/ UD yang masing-masing berhasil menghasilkan anggota sekitar 200 orang.

Adapun dari jumlah total di Sumatera Barat, tercatat ada sekitar 833 orang tersebar di Kabupaten Dharmasraya dan 292 orang berada di Kabupaten Tanah Datar.

"Proses perekrutan anggota NII juga digelar secara terstruktur dan sistematis. Untuk bergabung menjadi 'warga' NII, seseorang harus melalui 4 (empat) tahap perekrutan yang disebut 'pencorakan', yaitu P1 (Pencorakan 1), P2, PL/P3, dan P4," tuturnya.

Pada keempat tahap tersebut secara berjenjang tiap calon 'warga' akan diberi materi dan nilai-nilai terkait menghafal Sapta Subaya, pemahaman syari'at Islam dan ibadahnya, sejarah perjuangan umat Islam, ma’rifatul insan, siroh nabawi, dan berbagai nilai-nilai 'keislaman' versi NII.

"Setiap calon 'warga' juga akan melalui tiga tahap bai'at yaitu bai'at jama'ah imammah, bai'at NII/kenegaraan, dan bai'at perjuangan. Terkhusus bagi yang akan diangkat menjadi pengurus/pejabat, ada tambahan yaitu bai'at kepengurusan," katanya.

Rekrut Anak di Bawah Umur

Selama proses perekrutan anggota NII, kata Aswin, mereka melakukan tanpa memandang jenis kelamin dan batas usia dengan adanya sejumlah anak di bawah umur yang tercatat sebagai anggota.

"Hal ini terbukti dengan ditemukannya 77 orang anak di bawah 17 tahun yang dicuci otak dan dibai’at untuk sumpah setia kepada NII," sebutnya.

Bahkan, Aswin mengatakan bahwa dari jumlah itu tercatat ada sekitar 126 orang lain yang saat ini sudah dewasa, namun dulu juga direkrut saat masih usia belasan tahun.

Oleh sebab itu, dia menuturkan jika Densus 88 saat ini telah bekerjasama dengan KPAI untuk mengembangkan kasus ini berkaitan pola rekrutmen anak- anak di bawah umur.

"Terkait hal ini, KPAI telah meminta Polri untuk mengembangkan pengungkapan jaringan NII Sumatra Barat untuk mencegah berlanjutnya pola rekrutmen terhadap anak-anak," katanya.

Dadi terkuaknya pola rekrutmen anggota NII di Sumbar, Densus 88 saat ini masih terus mengusut dan menelusuri jaringan kelompok teroris NII ini mulai dari kewilayahan hingga tingkat pusat.

"Hal ini penting dilakukan mengingat perkembangan jaringan NII sudah tersebar masif di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain di Jakarta, Tangerang, Jawa Barat, Bali, Sulawesi, Maluku, dan juga Sumatra Barat," imbuhnya.

Tiru Visi Misi Kartosuwiryo Lengserkan Pemerintah

Lebih lanjut, Aswin juga mengungkap jika NII yang tersebar di Sumbar ternyata turut meniru visi-misi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (TII) sebuah organisasi pemberontak ketika zaman kemerdekaan yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Hal itu terkuak dari sejumlah barang bukti yang ditemukan dalam bentuk dokumen tertulis menunjukkan bahwa jaringan NII di Sumatera Barat.

"Visi-misi yang sama persis dengan NII Kartosuwiryo, yakni mengganti ideologi Pancasila dan sistem pemerintahan Indonesia saat ini dengan syari’at Islam, sistem khilafah, dan hukum Islam," katanya.

Bahkan, lanjut Aswin, mereka juga ternyata turut membuat sebuah rencana yang tengah dipersiapkan oleh jaringan NII Sumatera Barat yakni upaya melengserkan pemerintah Presiden Joko Widodo sebagaimana pemerintah yang sah saat ini.

"Upaya melengserkan pemerintah yang berdaulat sebelum tahun pemilu 2024.
Di antara sekian rencana tersebut, terdapat juga potensi ancaman berupa serangan teror yang tertuang dalam wujud perintah mempersiapkan senjata tajam (disebutkan ‘golok’) dan juga mencari para pandai besi," tuturnya

"Adapun temuan alat bukti arahan persiapan golok tersebut sinkron dengan temuan barang bukti sebilah golok panjang milik salah satu tersangka," sambungnya.

Berikut, Densus 88 secara garis besar telah mendata beberapa potensi ancaman teror dari jaringan NII Sumatera Barat adalah sebagai berikut:

1.Memiliki keinginan untuk mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi Syariat Islam secara kaffah.

2. Memiliki niat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah apabila NKRI
sedang dalam keadaan kacau/chaos.

3. Melakukan berbagai kegiatan i’dad (persiapan serangan teror) secara rutin.

4. Merencanakan persiapan logistik serangan teror berupa senjata tajam (golok) serta produsen senjata tajam (pandai besi).

5. Melakukan perekrutan anggota secara masif di wilayah Sumatera Barat dengan melibatkan anak-anak di bawah umur.

6.Memiliki hubungan dengan kelompok teror di wilayah Jakarta,Jawa Barat,dan
Bali. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel