Deputi BNPT ajak santri gelorakan jihad kebangsaan di dunia siber

Deputi Bidang Pencegahan, Pelindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Nisan Setiadi mengajak santri dan generasi muda Indonesia menggelorakan jihad kebangsaan melalui penyebaran narasi perdamaian di dunia siber untuk menjaga kedaulatan NKRI.

"Di sinilah, saya kira generasi muda dari kalangan pesantren harus mengambil panggung dan berani mengambil ruang dalam kontestasi narasi di dunia digital," kata Nisan dalam siaran pers Pusat Media Damai BNPT yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Hal itu disampaikan Nisan saat memberikan sambutan pada penutupan Workshop dan Pelatihan Santri Melalui Bidang Agama dan Multimedia Dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (17/6).

Apabila para pendahulu bangsa dulu menggelorakan resolusi jihad untuk melawan penjajah, katanya, maka generasi penerus bangsa Indonesia saat ini, terutama para santri, harus menggelorakan resolusi jihad kebangsaan melalui dunia siber untuk menjaga kedaulatan NKRI secara terus-menerus.

"Resolusi jihad kekinian dengan semangat yang sama harus terus menjadi semangat ibadah dan perjuangan para santri," jelasnya.

Deputi I BNPT itu menjelaskan bahwa ancaman kedaulatan bangsa tidak pernah usai. Berbagai aksi kekerasan dan teror yang merusak perdamaian dan kerukunan masyarakat masih menjadi potensi mengkhawatirkan.

Selain itu, lanjutnya, penyebaran ideologi yang bertentangan dengan falsafah negara dan telah menjadi kesepakatan para leluhur bangsa selalu muncul di permukaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, upaya menjaga kedaulatan bangsa dan menjaga nilai dan warisan para leluhur bangsa Indonesia harus dilakukan secara bersinergi.

Baca juga: BNPT: Kiai-ulama berperan strategis gelorakan cinta Tanah Air

Nisan menegaskan BNPT, dengan kebijakan pentahelix terus berkomitmen dan konsisten untuk mengajak seluruh komponen masyarakat, baik Pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, maupun media.

Menurutnya, kegiatan workshop dan pelatihan di Pesantren Tebuireng Jombang tersebut merupakan salah satu bentuk sinergisme dan kolaborasi antara BNPT dengan komunitas dari kalangan pesantren, khususnya para santri, untuk bersama-sama meneguhkan komitmen kebangsaan dalam menjaga NKRI yang damai, harmonis, dan bermartabat.

"Di Pesantren Tebuireng inilah kita ketahui sebuah prasasti sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh bangsa ini, yakni lahirnya resolusi jihad untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia," katanya.

Mantan Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara TNI Angkatan Darat itu mengatakan ancaman penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme terus meningkat, khususnya di dunia maya. Kelompok tersebut sering menyuarakan narasi yang membenturkan nilai agama dengan nilai kebangsaan untuk memengaruhi generasi muda.

Dia berharap melalui kegiatan pelatihan itu kalangan santri dapat memiliki kecakapan digital sebagai senjata dalam melawan narasi-narasi keagamaan, yang kerap dieksploitasi dan dimanipulasi untuk kepentingan politik guna memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

"Ruang-ruang publik di dunia maya harus direbut oleh kalangan santri dengan menyuarakan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin dan hubbul wathan minal iman," tambahnya.

Baca juga: Gus Kikin dorong santri sebarkan perdamaian lawan radikalisme

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng K.H. Abdul Halim Mahfudz mengungkapkan kerja sama antara Pesantren Tebuireng dengan BNPT bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada para santri agar memiliki kemampuan memahami, menganalisis konten informasi, dan merespons isi pesan.

Abdul Halim Mahfudz atau Gus Iim menjelaskan para santri harus berjuang melawan kekuatan yang merongrong persatuan dan kesatuan dan merusak generasi muda untuk bisa berbakti dan mengabdi untuk negeri.

"Maka, Pesantren Tebuireng mengundang dan mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para santri, untuk bersatu padu dan berpartisipasi aktif secara terbuka menghadapi ancaman radikalisme, terorisme, dan intoleransi," ujarnya.

Workshop dan pelatihan tersebut diikuti para santri dari berbagai pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur antara lain Ponpes Darussalam Banyuwangi, Ponpes Seblak Jombang, Ponpes Lirboyo, Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Ponpes Annuqayyah Sumenep, Ponpes Darul Ulum Jombang, Ponpes Langitan Tuban, Ponpes Bahrul Ulum Jombang, serta Ponpes Sidogiri Pasuruan.

Baca juga: BNPT serukan narasi positif di ruang publik tekan kelompok radikal

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel