Derap mama pelopor bambu Desa Rateroru memulai kisah bambu di Ende

Bambu merupakan salah satu tanaman yang dapat ditemukan di berbagai lokasi iklim mulai dari dingin di pegunungan sampai daerah tropis yang panas seperti di Indonesia.

Pertumbuhan tanaman yang dikenal sebagai pring dalam bahasa Jawa itu kebanyakan tidak teratur, terkadang dianggap sebagai tamu tidak diundang di kebun-kebun warga yang ingin memanfaatkan lahan untuk vegetasi yang dianggap lebih produktif.

Cerita berbeda kini coba dirangkai di Desa Rateroru di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan melibatkan 15 mama pelopor bambu untuk mendorong pembibitan bambu di desa itu.

"Kenapa ibu-ibu? Karena perempuan punya peran penting sekali dalam kehidupan ekonomi, sosial dan juga lingkungan," ujar Koordinator Yayasan Bambu Lestari untuk Kabupaten Ende, Anita Yuyun, ketika ditemui di desa yang memiliki 144 kepala keluarga itu.

Bambu didorong menjadi salah satu cara untuk mengatasi persoalan ekologis, sosial dan ekonomi. Tanaman subfamili Bambusoideae itu dinilai tidak hanya memiliki peran penting dalam catatan sejarah, budaya dan religi, tapi juga dari sisi ekologi serta ekonomi.

Indonesia sendiri diperkirakan memiliki sekitar satu juta hektare tanaman bambu, dengan 25.000 hektare yang telah dikelola dalam bentuk kebun. Sisanya tumbuh sporadis di berbagai wilayah di Tanah Air.

Di tengah langkah Indonesia untuk mencapai target iklimnya, bambu dapat digunakan dalam upaya merestorasi lahan kritis dan menyerap emisi gas rumah kaca.

Anita mengatakan sejak dulu bambu memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat sekitar, salah satunya dimanfaatkan untuk pembangunan rumah. Namun, kemajuan industri membuat pemanfaatannya secara berkala mulai ditinggalkan dan dianggap "hama" untuk menanam tanaman komoditas.

Hal itu terjadi, tuturnya, karena masyarakat menganggap tidak ada nilai yang mereka dapat dari bambu.

Padahal dari sisi ekologi, bambu dapat membantu pemulihan lahan kritis, menyimpan air, menyerap karbon, dapat tumbuh di lanskap miring serta untuk memberikan kestabilan lahan yang rawan longsor.

Dari sisi ekonomi, tanaman itu dapat dibudidayakan secara berkelanjutan dan dipanen secara reguler dengan tanpa mengurangi fungsinya sebagai tutupan dan konservasi air. Tanaman sela juga dapat ditanam di sekitarnya untuk mewujudkan agroforestri.

Hampir seluruh masyarakat di Desa Rateroru memiliki profesi sebagai petani, dengan komoditas utama yang mereka tanam adalah cengkeh, kemiri, kopi dan kakao.

Sebagian besar lahan yang berada di desa itu kini dipenuhi oleh empat komoditas tersebut.

Program pembibitan bambu sendiri dimulai dari kerja sama YBL dengan Pemerintah Provinsi NTT pada 2021, dengan Mei 2021 menjadi awal masuk program tersebut ke Ende yang akhirnya dilakukan oleh tiga desa di wilayah tersebut yang melibatkan 50 mama pelopor bambu.

Di Rateroru sendiri terdapat 15 perempuan yang menjadi mama pelopor bambu, memulai pembibitan bambu di halaman rumah masing-masing.

Pada 2021, sebanyak 50 mama pelopor bambu itu menghasilkan 400.000 bibit bambu dengan insentif per bibit adalah Rp2.500.

"Jadi di Ende tahun 2021 kemarin ada Rp1 miliar dana yang diterima oleh mama-mama. Tapi 50 ini pelopor, mereka tidak bekerja sendiri, mereka mengajak lagi keluarganya, tetangganya untuk sama-sama membibitkan," jelas Anita.


Baca juga: Presiden Jokowi tinjau Kampus Bambu Turetogo di Ngada

Baca juga: Presiden Jokowi apresiasi teknologi pengolahan bambu di Ngada

Langkah awal

Anita menceritakan bahwa di awal sosialisasi banyak yang menyangsikan program tersebut, karena bambu dianggap sebagai hal yang dapat dengan mudah tumbuh liar di wilayah sekitar tanpa perlu penanaman lagi.

Sosialisasi kemudian terus dilakukan di tingkat desa, berbicara dengan masyarakat untuk mendorong keterlibatan mereka dalam usaha tersebut.

"Yang paling sulit itu tanam bambu di kepala ternyata. Kalau tanam bambu di tanah mungkin mudah, kalau di kepala susahnya minta ampun," kata dia.

Adanya program tersebut juga membantu para ibu-ibu pelopor tersebut, dengan kondisi COVID-19 membuat komoditi yang biasa menjadi andalan kemudian sulit untuk dijual ke luar wilayah saat pandemi untuk memenuhi kebutuhan.

Salah satu mama pelopor bambu Getrudis Mbere mengaku di awal sosialisasi pada 2021, ibu-ibu yang kebanyakan berasal dari kelompok PKK kaget dengan program pembibitan tersebut. Karena pengalaman sebagai petani membuat mereka hanya mengetahui pembibitan untuk tanaman komoditas, bukan bambu yang dengan mudah ditemui.

Dari 30 orang yang datang di awal sosialisasi, sebagian besar mundur dan tersisa 15 orang yang menjadi mama pelopor bambu, dengan banyak di antaranya sudah lanjut usia.

"Proses pembibitan dan mencari bibit memang sangat susah, dapat uangnya gampang. Tapi cari bibitnya sangat susah bahkan di tebing kami bisa naik dan tangan kami ini hancur karena kena parang dan bambu," tutur Getrudis.

"Tapi puji Tuhan, berkat program ini kami bisa memperbaiki ekonomi keluarga kami," tambahnya.

Pembibitan itu sendiri merupakan langkah awal untuk mendorong pemanfaatan bambu yang berkelanjutan dengan selanjutnya akan dilakukan penanaman 300.000 anakan bambu di Kabupaten Ende di wilayah sekitar sungai dan sumber mata air.

Selain itu, untuk mama pelopor bambu setelah pembibitan mereka juga akan mengembangkan kebun kepompong yaitu sebuah kawasan khusus untuk membesarkan rimpang bambu sehingga ketika dipindahkan ke lahan kritis bisa bertahan hidup.

Pemanfaatan lain yang akan didorong untuk selanjutnya adalah bagian rebung yang bisa digunakan untuk bahan pangan yang dijual ke pasar untuk menambah penghasilan kelompok.

Anita mengatakan di kebun kepompong yang akan dilakukan mulai Juli tahun ini akan dilakukan juga penanaman tanaman sela berupa sayuran atau kacang dengan hasilnya dapat dijual oleh kelompok tersebut.

Menurut dia untuk rencana ke depan akan didirikan industri bambu desa di setiap kawasan desa bambu, yang merupakan kumpulan desa-desa dalam suatu kawasan. Di Ende direncanakan terdapat dua desa bambu.

Pengelolaan bambu itu kemudian dilanjutkan dengan perencanaan pembangunan industri pabrik desa untuk dapat menghasilkan produk turunan seperti pellet bambu dan bambu laminasi sebagai alternatif baru bahan bangunan jika pasokan dari desa melimpah.

Proses-proses tersebut, dimulai dari pembibitan, kebun kepompong, penanam dan perawatan merupakan bagian dari penyiapan masyarakat. Dengan hilir adalah pemanfaatan yang berkelanjutan.

Baca juga: 196 perempuan dilibatkan dalam pelestarian bambu di Pulau Flores

Baca juga: Jokowi-Albanese naik sepeda bambu tekankan pesan ramah lingkungan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel