Deretan Penyakit Berbahaya di Balik Diare Akut, Jangan Salah Pilih Air Minum

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyakit diare tidak boleh dipandang sebelah mata. Dia dapat menyerang siapa saja tidak memandang usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Diare yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko penderita untuk berakhir pada kondisi kekurangan cairan atau dehidrasi. Jika tidak segera diatasi, risiko penderita diare untuk kehilangan nyawa menjadi semakin tinggi.

Pada tahun 2018 ada Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare sebanyak 10 kali yang tersebar di 8 Provinsi dan 8 Kabupaten/Kota dengan jumlah penderita 756 orang dan kematian sebanyak 36 orang (CFR 4,76%). Angka kematian dan CFR lebih tinggi daripada KLB Diare tahun 2017. (Pusdatin Kemenkes RI, 2019).

Diare merupakan peningkatan frekuensi buang air besar menjadi 3 kali atau lebih dalam sehari, dengan bentuk tinja lunak atau cair. Penyakit ini umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan yang dijual bebas, dan akan sembuh dalam waktu 2-3 hari. Namun pada kasus tertentu, diare dapat berlangsung hingga berminggu-minggu meski sudah mengonsumsi obat antidiare.

Dikutip dari klikdokter, diare berkepanjangan dapat terjadi bersamaan dengan penyakit lain. Beberapa penyakit yang dimaksud, di antaranya:

  • Sindrom usus besar

  • Penyakit celiac

  • Penyakit Crohn

  • Kolitis ulseratif

  • Kanker usus besar

Penyebab diare, air terkontaminasi bakteri

Ilustrasi Sakit Diare. (Credit: Shutterstock)
Ilustrasi Sakit Diare. (Credit: Shutterstock)

Umumnya, penyebab diare adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang kotor dan terkontaminasi mikroorganisme. Terdapat ribuan jenis organisme yang dapat menimbulkan infeksi saluran pencernaan penyebab diare. Selain virus dan parasit, diare juga bisa disebabkan oleh sejumlah bakteri, salah satunya Bakteri Escherichia coli (E. coli). Ini adalah bakteri yang hidup di dalam usus manusia dan berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Bakteri E. coli umumnya tidak tidak berbahaya. Namun ada jenis E. coli tertentu yang menghasilkan racun dan menyebabkan diare parah, salah satunya adalah Shiga Toxin-Producing Coli atau STEC. Bakteri ini memproduksi racun yang dapat merusak lapisan usus kecil, sehingga bisa menyebabkan BAB berdarah.Penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli ini akan berdampak lebih parah jika terjadi pada anak-anak dan lansia.

Pentingnya sanitasi dan pengamanan air

Untuk mencegah infeksi bakteri E. coli, Anda disarankan untuk mencuci buah dan sayuran dengan air mengalir sebelum mengonsumsinya, memasak daging hingga benar-benar matang, dan menghindari konsumsi susu segar yang belum dipasteurisasi.

Air yang digunakan untuk membersihkan makanan, buah dan sayuran juga tidak boleh sembarangan. Karena bakteri E. coli penyebab diare juga banyak ditemukan pada kondisi air yang tidak bersih, sering kali pada air yang digunakan untuk memasak, bebersih dan air minum.

Kondisi air bersih dan air minum saat ini tidak bisa dianggap sepele. Karena akhir-akhir ini banyak persoalan yang timbul akibat dari perilaku-perilaku manusia yang melakukan banyak pelanggaran terhadap cara pengelolaan air di sekitar lingkungannya. Berbagai masalah yang melatar belakangi buruknya sanitasi dan pengamanan air diantaranya adalah pencemaran air, sumber mata air mengering, air bersih menjadi komoditas yang mahal, musim yang tidak menentu lagi, dan sumur-sumur yang telah tercemar karena limbah industri, dan lain sebagainya.

Masyarakat perlu waspada dan hati-hati jika ingin menggunakan air PDAM dan air tanah sebagai sumber air minum di rumah. Karena merebus air sampai mendidih tidak menghilang semua kontaminasi yang ada. Terlebih di sekitar lingkungan tinggal banyak pembangunan infrastruktur dan pembuangan limbah serta berbagai polutan sering mencemari kualitas tanah, sehingga tanah sebagai tempat menyimpan air pun tercemar terkontaminasi.

Misalnya saja di DKI Jakarta. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup kondisi air tanah di DKI Jakarta semester 1 tahun 2018 mengalami pencemaran. Terdapat 42 kecamatan di DKI Jakarta yang kondisi airnya tercemar berat dan sedang di beberapa kelurahannya. Kondisi air tanah di DKI Jakarta dikategorikan menjadi empat yaitu baik, tercemar berat, tercemar sedang, dan tercemar ringan.

Tercemar berat apabila air mengandung air raksa, helium, zat padat dan zat kimia lainnya sedangkan tercemar sedang hanya beberapa zat kimia yang terdapat di dalamnya, dan ringan apabila didalamnya mengandung zat kimia yang bersifat ringan dan dikategorikan kondisi baik apabila tidak terdapat zat kimia yang membahayakan di dalamnya.

Selektif Memilih Air Isi Ulang dan Dalam Kemasan

Untuk memenuhi kebutuhan air minum di perkotaan, masyarakat kerap memanfaatkan Depot Air Minum (DAM) dan Air Minuman Dalam Kemasan (AMDK). Khusus untuk DAM, masyarakat perlu lebih selektif dan berhati-hati.

Masalah air isi ulang yang pertama berkaitan dengan standar dan kepemilikan Sertifikat Laik Higienis. Berdasarkan update laporan capaian DAM per 29 Agustus 2020 oleh Ditjen Kesmas Kemenkes, total DAM mencapai 56.222, dengan total DAM MS sebesar 24.536 (43,64%) dan total DAM bersertifikat hanya 898 (1,60%)

Selain itu, masalah lain adalah sebagian besar depot air minum isi ulang biasanya tidak mencantumkan sumber mata air yang mereka gunakan. Kebersihan galon air yang kerap dipertanyakan hingga lokasi yang tidak strategis.

Seperti Anda ketahui, sebagian depot air minum isi ulang terletak di pinggir jalan raya. Ini membuat alat-alat yang digunakan untuk memproses air minum berisiko tinggi untuk terpapar polusi, baik berupa debu atau asap kendaraan bermotor. Padahal, menurut Peraturan Menteri Kesehatan mengenai Higiene Sanitasi Depot Air Minum, lokasi berada di daerah yang bebas dari pencemaran lingkungan dan penularan penyakit.

Sanitasi dan pengamanan air minum saat ini perlu mendapat perhatian mengingat peran air minum yang begitu krusial bagi kesehatan tubuh menyeluruh. Tidak hanya penghilang rasa dahaga dan mengisi cairan tubuh, tetap juga yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan, termasuk terbebas dari penyakit diare dan mendukung kesejahteraan.

Perhatikan Sumber Mata Air

Ilustrasi minum air putih. (Credit: Shutterstock)
Ilustrasi minum air putih. (Credit: Shutterstock)

Memilih air minum yang baik, tidak terkontaminasi adalah salah satu cara utama untuk mencegah diare dan penularan bakteri E. coli. Terlebih lagi salah untuk mengobati diare dan melawan bakteri E. coli adalah dengan banyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi.

Air minum yang jernih, tidak berasa dan tidak berbau belum tentu bebas dari kontaminasi. Karena kontaminasi bakteri tidak dapat kita lihat secara kasat mata, dan tidak semua dapat diatasi dengan merebus air. Karena kejelasan sumber air dan proses yang terstandar menjadi faktor penting untuk air minum yang baik.

Di tengah banyaknya pilihan air minum dalam kemasan, sebaiknya Anda lebih jeli memilih produk yang paling aman dan sehat bagi tubuh. Pertama, memilih air minum yang berasal dari sumber mata air pegunungan. Pasalnya, mata air pegunungan merupakan sumber air tersehat dengan berbagai kandungan alami. Selain itu, pH air yang diambil dari sumber alami juga seimbang dan tepat bagi tubuh, tidak terlalu asam atau basa.

Selain berasal dari sumber alami dan terpilih, proses pengolahan dan pengemasan yang menggunakan teknologi canggih jadi pertimbangan. Hal itu untuk menjaga kesegaran air minum di setiap tetes kemurniannya.

Itulah ulasan seputar penyakit berbahaya yang muncul di balik diare yang berkepanjangan dan pentingnya memilih sumber air bersih dan air minum. Jadi, jika Anda atau keluarga mengalami diare yang tak kunjung sembuh, apalagi disertai dengan gejala yang merujuk pada penyakit-penyakit di atas maka jangan tunda lagi untuk memeriksakan diri ke dokter. Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin besar pula kemungkinan untuk pulih.

(*)