Deretan Perusahaan Teknologi di Indonesia yang PHK Karyawan

Merdeka.com - Merdeka.com - Bulan November 2022, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan keputusan-keputusan besar perusahaan-perusahaan teknologi negeri ini. Keputusan itu adalah melakukan PHK karyawan. Tak tanggung-tanggung, ratusan hingga ribuan karyawan harus merelakan pekerjaannya. Kondisi ekonomi global disebut-sebut menjadi biang keladi dari keputusan besar ini.

Padahal, berdasarkan data Google, Temasek, dan Bain & Company dalam riset terbarunya ‘eConomny SEA 2022', mencatat nilai ekonomi digital di Indonesia diprediksi akan mencapai USD77 miliar atau setara dengan Rp1.197,8 triliun (kurs Rp15.557 per USD) pada 2022. Angka itu menunjukan bagaimana pertumbuhan yang pesat yakni 22 persen secara tahunan. Dari total nilai sebesar itu, sumbangan e-commerce Indonesia memberikan kontribusi senilai USD59 miliar dan membesar menjadi USD95 miliar pada 2025.

Survei itu berbanding terbalik dengan kondisi perusahaan teknologi di Indonesia yang harus merelakan karyawannya untuk tak lagi bekerja dengan mereka lantaran dampak resesi. Pakar Ekonomi Rhenald Kasali menduga PHK karyawan bukan karena resesi. Namun lebih kepada mismanagement.

"Benarkah itu terjadi karena situasi ekonomi global yang berdampak buruk pada mereka? Saya kok ragu-ragu ya," ujar Rhenald dalam sebuah pernyataan di kanal YouTube pribadinya, Sabtu (19/11).

Menurut dia, resesi tidak selalu berdampak pada semua bangsa di seluruh dunia serta menyarankan para pengusaha untuk tidak mencari kambing hitam dan segera membuka laporan keuangan.

"Jangan mencari kambing hitam, barangkali kita sendiri yang mismanagement. Buka laporan keuangan Anda, jelaskan dengan sebaik-baiknya. Jangan-jangan Anda bakar duitnya memang berlebihan," kata Rhenald.

1. Grup GoTo

CEO Grup GoTo Andre Soelistyo mengatakan untuk mendukung percepatan pertumbuhan perusahaan, pihaknya sudah sejak awal 2022 telah melakukan evaluasi optimalisasi beban biaya secara menyeluruh.

"Termasuk penyelarasan kegiatan operasional, integrasi proses kerja, dan melakukan negosiasi ulang berbagai kontrak kerja sama," kata Andre dalam keterangannya, Jumat (18/11).

Andre melanjutkan, pada akhir kuartal kedua 2022, perusahaan berhasil melakukan penghematan biaya struktural sebesar Rp 800 miliar dari berbagai aspek penghematan, seperti teknologi, pemasaran dan outsourcing.

"Namun demikian, untuk lebih jauh bernavigasi di tengah kondisi ekonomi global yang semakin penuh tantangan, GoTo harus fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali perusahaan. Hal ini termasuk mengambil keputusan sulit untuk melakukan perampingan karyawan sejumlah 1.300 orang atau sekitar 12 persen dari total karyawan tetap Grup GoTo," ungkap dia.

Menurut dia, keputusan sulit ini tidak dapat dihindari supaya Perusahaan lebih agile dan mampu menjaga tingkat pertumbuhan sehingga terus memberikan dampak positif bagi jutaan konsumen, mitra pengemudi, dan pedagang.

2. Ruangguru

Ruangguru melakukan PHK karyawan. Tak tanggung-tanggung, 50 persen karyawan Ruangguru di PHK. Startup besutan Belva Delvara ini harus melakukan keputusan sulit ini.

"Terdapat ratusan pegawai Ruangguru yang terdampak dari pemutusan hubungan kerja ini," ujar Tim Corporate Communication Ruangguru dalam keterangan persnya.

Sayangnya, Ruangguru tak menyebutkan alasan secara rinci aksi PHK ratusan karyawan mereka ini. Pihaknya hanya menyebutkan akan menaati aturan pemerintah terkait ketenagakerjaan.

"Kami ingin juga menyampaikan bahwa semua yang terdampak telah mendapatkan pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan penggantian hak (jika masih ada sisa cuti), sesuai UU yang dibayarkan penuh tanpa potongan dan gaji bulan terakhir bekerja dibayarkan penuh. Kami pun juga memperpanjang asuransi bagi yang terdampak," papar perusahaan.

3. Sirclo

Perusahaan omnichannel commerce enabler Sirclo Group mengumumkan kebijakan langkah efisiensi yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja terhadap 8 persen dari total karyawan. Langkah ini dilakukan efektif per 22 November 2022. Sayangnya tak disebutkan berapa total karyawan yang dimiliki Sirclo.

Menurut Brian Marshal, Founder dan CEO Sirclo Group, keputusan ini didasari oleh kebutuhan untuk beradaptasi di tengah kondisi makro ekonomi saat ini.

"Sebagai perusahaan teknologi yang berkembang pesat, Sirclo Group berupaya untuk terus adaptif dalam melakukan penyesuaian bisnis agar mencapai pertumbuhan jangka panjang. Dalam situasi kondisi makro ekonomi yang menantang, Sirclo Group telah melalui serangkaian evaluasi internal dan akan melakukan perubahan yang signifikan, terutama dalam aspek fokus bisnis, untuk memastikan sustainability perusahaan," kata Brian dalam keterangan persnya, Selasa (22/11).

Berharap tiga perusahaan teknologi ternama asli Indonesia itu bisa bangkit kembali dan mampu menghadapi kesulitan di masa-masa mendatang. Tentunya, dapat melakukan rekruitmen karyawan kembali pada suatu waktu. [faz]