Deretan Wabah dan Perang yang Ubah Tradisi Ibadah Muslim di Dunia

Lutfi Dwi Puji Astuti, Dinia Adrianjara

VIVA – Pandemi virus corona COVID-19 menyebabkan perubahan drastis di seluruh dunia. Banyak orang menganggur, rencana perjalanan dibatalkan dan tempat umum pun kosong lantaran semua warga diminta bekerja dari rumah, menerapkan jarak sosial dan mengisolasi diri.

Pandemi ini juga akhirnya menyebabkan kelompok-kelompok agama menyesuaikan diri dengan realitas baru, salah satunya adalah masyarakat Muslim. Pandemi virus corona menyebabkan populasi Muslim dunia harus melalui bulan Ramadhan dengan menahan diri dari pertemuan untuk berbuka puasa bersama bahkan diimbau untuk tidak berdoa bersama.

Berikut ini beberapa contoh insiden sepanjang sejarah yang menyebabkan umat Muslim mengubah tradisi di tengah keadaan kritis, seperti dikutip Al Jazeera.

Serangan Qarmatian, 930

Ibadah haji terpaksa dibatalkan setelah pemimpin suku Qarmatian yang berbasis di Arab timur (sekarang Bahrain), menyerang Mekah dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Puluhan ribu orang tewas terbunuh.

"Serangan Qarmatian adalah insiden penting. Itu adalah momen yang cukup besar dalam sejarah Islam. Abu Tahir al-Jannabi yang memimpin serangan itu tidak hanya menyerang Mekah, tetapi juga tidak menghormati simbol-simbol Islam yang sakral," kata cendekiawan Islam dan kepala imam di Islamic Centre of Ireland, Umar al-Qadri.

Wabah Kolera, Abad ke-19
Wabah kolera yang terjadi beberapa kali sepanjang abad ke-19 menyebabkan penundaan ibadah haji, termasuk pada tahun 1837 dan 1846. Setelah penyakit itu kembali pada 1865 di Hejaz, sebuah wilayah di Arab Saudi yang mencakup Mekah, sebuah konferensi internasional diadakan di Konstantinopel, Istanbul modern.

Diputuskan bahwa pelabuhan karantina akan didirikan di tempat-tempat seperti Sinai dan Hijaz untuk membantu membatasi penyebaran penyakit, karena para peziarah mengatur perjalanan mereka untuk melakukan haji. Antara 1830 dan 1930, setidaknya ada 27 wabah kolera di antara jamaah haji di Mekah.

Perebutan Masjid Agung, 1979
Sebuah kelompok bersenjata Saudi yang terdiri dari 400 hingga 500 orang merebut Masjidil Haram antara November dan Desember 1979, memaksa penutupan masjid setidaknya selama dua minggu.

Pengambilalihan itu dipimpin oleh seorang mantan tentara Saudi, Juhaiman bin Muhammad ibn Sayf al-Otaybi, yang mengkritik keluarga penguasa kerajaan, dan menyerukan agar kembali ke apa yang dianggapnya sebagai Islam asli. Pengepungan akhirnya berakhir setelah pasukan Saudi merebut kembali masjid, dibantu oleh unit polisi taktis Prancis.

Wabah Ebola, 2014
Ketika wabah Ebola memuncak pada awal 2010-an, negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah-langkah untuk menangguhkan penerbitan visa untuk beberapa negara Afrika barat sebagai pusat virus.

Pada 2014, Arab Saudi untuk sementara berhenti mengeluarkan visa umrah dan haji untuk warga Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Wabah menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Perang Suriah, 2016
Pada 29 April, salat Jumat dibatalkan di kota Aleppo, Suriah, setelah serangkaian serangan udara yang dipimpin pemerintah yang menyebabkan masjid-masjid hancur. Dewan agama meminta warga Aleppo untuk menjauh dari masjid, pertama kali langkah seperti itu diambil di kota bersejarah.

"Untuk pertama kalinya di kota tertua di dunia, kota Islam Aleppo, dewan agama telah memutuskan untuk membatalkan salat Jumat karena perang brutal terhadap kehidupan manusia," kata sebuah pernyataan bersama.

"Ini dilakukan untuk menyelamatkan orang-orang yang telah menjadi target rezim (pemerintah) dan menyelamatkan orang lain dalam pembantaian ini."