Derita Warga Kampung Adat Urug, Hasil Panen Lenyap Diterjang Banjir

Liputan6.com, Jakarta Bencana banjir bandang dan longsor memporak porandakan pemukiman warga Kampung Adat Urug di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Tercatat, sebanyak 1.766 warga mengungsi, 66 rumah rumah hanyut dan tertimbun, 104 rumah rusak berat, 175 rumah rusak ringan, 289 rumah terancam longsor.

Bencana alam yang terjadi pada 1 Januari 2020 juga merusak puluhan lumbung padi atau disebut leuit milik masyarakat Kampung Adat Urug.

"Ada 28 leuit yang rusak. Gabah atau padi pun banyak yang hanyut, terendam," kata Kepala Desa Urug, Sukarma, Rabu (15/1/2020).

Menurut Sukarma, padi tersebut belum lama ini dipanen oleh masyarakat sebagai cadangan pangan sampai masa panen berikutnya.

"Iya baru saja dipanen. Sekarang (beras) semuanya rusak, tidak ada yang tersisa," ujar Sukarma.

Bagi masyarakat setempat, leuit sebagai tempat menyimpan persediaan padi dalam jangka waktu yang lama dan bebas gangguan tikus. Selain itu, merupakan lambang kemakmuran dan kekayaan pemiliknya. 

Bangunannya mirip rumah panggung mini berbahan kayu, lengkap dengan atap yang terbuat dari ijuk atau daun kirai. Satu leuit bisa menampung 500 hingga 1000 ikat padi yang mampu tahan bertahun-tahun.

"Daya tampungnya tergantung ukuran. Seikat padi setara dengan tiga kilogram beras," ujar Sukarma.

Tak hanya leuit, banjir dan longsor juga merusak ladang perkebunan dan sawah mereka, yang menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat. Hanya saja, Sukarma mengaku belum punya data berapa total luas lahan sawah yang rusak.

Kini, harta benda masyarakat di kampung yang masih memegang teguh adat istiadat tersebut hilang dilanda bencana.

Mulanya beras sangat melimpah, saat ini mereka harus mengandalkan bantuan dari semua pihak. Ribuan warga pun terpaksa harus tidur di tenda pengungsian dengan alas seadanya.

 

Sempat Terisolir

Lokasi banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu (1/1/2020) lalu. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Masyarakat Desa Urug juga sempat terisolir lebih dari sepekan akibat akses menuju desa tersebut tertutup longsor. Kondisi ini membuat distribusi bantuan bagi korban bencana alam ke daerah itu terhambat.

Para relawan maupun instansi pemerintahan terpaksa harus menyalurkan bantuan dengan memikul logistik dengan berjalan kaki selama 2,5 jam dari Desa Harkat Jaya.

Namun demikian, masyarakat Desa Urug khususnya di Kampung Urug seperti tak merasakan duka, padahal rumah mereka hancur dan lahan pertanian mereka hilang.

"Ini sudah ketentuan Tuhan, harus bisa diterima dengan ikhlas. Sekarang harus bangkit, memikirkan apa yang menjadi kebutuhan hidup ke depan," ujar Eki warga Kampung Urug.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: