Desa di Flores Timur tangani kekerdilan lewat PMT Gerobak Cinta

Desa Hokeng Jaya di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur melakukan sebuah inovasi yang diberi nama Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Gerobak Cinta untuk menangani masalah kekerdilan (stunting) di wilayah tersebut.

"PMT Gerobak Cinta adalah program unggulan Kabupaten Flores Timur dengan melakukan kegiatan pemberian makanan tambahan yang bergizi sesuai standar kesehatan selama 90 hari khusus untuk baduta (bayi di bawah dua tahun) stunting," kata Kepala Desa Hokeng Jaya Gabriel Namang ketika dihubungi dari Labuan Bajo, Rabu.

Sebagai program penanganan kekerdilan, PMT Gerobak Cinta berfokus pada PMT terpusat di posyandu dengan jenis makanan sesuai standar petugas gizi. Beberapa jenis makanan diantaranya kelor, tahu-tempe yang diolah menjadi cilok, telur ayam kampung, puding kelor, ikan ekor kuning, dan olahan makanan lain yang disesuaikan dengan kondisi baduta. Makanan ini harus dimasak oleh orang tua dan kader posyandu lalu langsung diberikan kepada anak.

Setelah 90 hari PMT Gerobak Cinta ini berjalan, kata Gabriel, orang tua dikontrol dan diarahkan untuk melanjutkan perilaku pemberian makanan seperti yang telah berjalan.

Baca juga: Kepolisian bantu Pemkab Kupang menurunkan angka stunting

Baca juga: 8.000 anak masih alami kekerdilan di NTT

Nantinya PMT reguler juga diberikan kepada baduta dan bayi balita lain pada kegiatan posyandu setiap bulan. Tentunya upaya penanganan kekerdilan itu mendapatkan dukungan aktif dari pemerintah, orang tua, tenaga kesehatan, dan segenap komponen masyarakat.

Berdasarkan data Desa Hokeng Jaya, jumlah bayi yang mengalami kekerdilan per April 2022 sebanyak 21 bayi dari total 98 bayi dengan persentase 21,4 persen. Sedangkan data per Desember 2021 mencatat 26 bayi dari 92 bayi di Desa Hokeng Jaya mengalami kekerdilan dengan persentase 28,2 persen.

Dia menyebut desa menargetkan angka kekerdilan bisa ditekan hingga di bawah lima persen karena target kabupaten tidak boleh melampaui 30 persen.

Desa Hokeng Jaya pun setiap tahunnya menganggarkan dana desa mencapai Rp200 juta untuk menangani masalah kesehatan termasuk persoalan kekerdilan. Dari dana tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh desa seperti melakukan penyuluhan dan pendampingan secara rutin melalui kegiatan posyandu bersama tenaga kesehatan desa dan puskesmas.

Baca juga: Tanoto Foundation bantu penanganan stunting di NTT

Baca juga: Harapan sederhana NTT pada Indonesia

Selain itu mereka melaksanakan kegiatan kunjungan rumah ke bayi sasaran untuk melihat dan memantau pola asuh orang tua terhadap bayi, kebersihan lingkungan, makanan yang diberikan, dan keseriusan orang tua terhadap anak.

Dia menekankan bahwa intervensi Pemerintah dengan melaksanakan PMT swadaya, PMT terfokus, serta kegiatan PMT di posyandu setiap bulan menggunakan anggaran dana desa.

Selain penanganan pada baduta, desa juga melakukan intervensi bagi ibu hamil melalui konseling, pendampingan, dan pemberian nutrisi. Gabriel menjelaskan persoalan yang dihadapi desa lebih kepada tanggung jawab dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan anak. Namun, desa terus bergerak aktif melakukan berbagai upaya penyadaran dan pendekatan kepada keluarga sehingga intervensi penanganan kekerdilan bisa maksimal.

"Kami berharap kesadaran masyarakat khususnya orang tua sasaran semakin membaik. Kami selaku pemerintah desa tidak akan bosan untuk terus berupaya menangani stunting sehingga angkanya bisa ditekan hingga di bawah lima persen," katanya.

Baca juga: Presiden soroti rumah tak layak huni penyebab kekerdilan di NTT

Baca juga: Presiden: Perlu pendampingan calon pengantin untuk cegah tengkes

Baca juga: Angka kekerdilan Timor Tengah Selatan tertinggi di NTT

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel