Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan sokong ketahanan pangan

·Bacaan 2 menit

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar optimistis program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan akan menjadi penyokong utama ketahanan pangan hewani Indonesia.

"Tahun 2022 ini, didukung oleh Presiden melalui Perpres 104 tahun 2021 bahwa 20 persen dana desa digunakan untuk program ketahanan pangan dan hewani. Saya optimis, Desa akan membuka jalan kedaulatan pangan Indonesia," ujar Mendes dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Ia menyampaikan, Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan pada 2021 mulai dijalankan tujuh BUMDes Bersama di tujuh kabupaten, di tiga provinsi sebagai pilot project.

Baca juga: Mendes PDTT minta jajarannya ubah paradigma dalam pembangunan desa

Ia menjelaskan, Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan merupakan konsep peternakan komunal yang dikelola BUMDes Bersama. Bentuknya adalah penggabungan beberapa komoditi unit usaha peternakan pada satu pasar di suatu daerah.


Ia menambahkan, desa-desa yang berpotensi di sektor peternakan akan dikembangkan sebagai sentral-sentral penyedia daging, baik daging sapi, kambing, ayam hingga pusat hortikultura.

"Melalui program ini akan terintegrasi pengelolaan peternakan dari hulu ke hilir. Dari penggemukan hingga kotoran ternak harus memberi nilai ekonomisnya," kata Gus Halim, demikian ia biasa disapa pada acara Selamatan Sewindu Undang Undang Desa di Kasepuhan Cipta Gelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, Sabtu (15/01).

Ia berharap, program itu dapat mensejahterakan masyarakat desa serta menurunkan kebutuhan impor, khususnya pemenuhan kebutuhan daging dan swasembada daging sapi nasional.

Berdasar data Kemendes PDTT, ia mengemukakan, produksi daging sapi di Indonesia pada 2016 mencapai titik tertinggi mencapai 518.484 ton, naik 2,3 persen dari tahun sebelumnya.

Pada 2017, produksi daging sapi turun menjadi 486.319,7 ton. Pada 2018 mengalami kenaikan kembali menjadi 497.971,7 ton.

Kemudian pada 2019, naik menjadi 504.802,29 ton, dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan kembali mencapai 515.627,74 ton.

"Ikhtiar peningkatan produksi harus lebih digenjot lagi. Dan jawabannya adalah desa. Karena desa juga memiliki kelembagaan ekonomi yang memungkinkan untuk pengembangan usaha peternakan sapi secara terpadu dalam skala mikro," tuturnya.


Baca juga: Mendes PDTT minta jajarannya bekerja lebih keras capai target 2022
Baca juga: Kemendes PDTT: Penyerapan Dana Desa 2021 capai 99,79 persen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel