Desa Wisata Katris rutin gelar "dolanan anak" tempo dulu

Desa Wisata Karang Trimulyo, Sleman (Katris) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengagendakan kegiatan rutin dolanan (permainan) anak zaman dulu sebagai upaya menjauhkan anak dari ketergantungan gawai atau gadget.

"Berbagai bentuk permainan 'dolanan' anak tempo dulu ini kami hadirkan setiap akhir pekan," kata Ketua Desa Wisata Karang Tridadi Sleman (Deswita Katris) Bambang Suryo Suseno di Sleman, Selasa.

Menurut dia, berbagai "dolanan" anak yang ditampilkan tersebut merupakan permainan tradisional yang pada zaman dahulu sering dimainkan anak-anak sewaktu berkumpul bermain bersama pada sore hari, termasuk saat malam bulan purnama.

"Ada berbagai macam permainan seperti 'gobak sodor', jamuran dan permainan kolektif lainnya," katanya.

Baca juga: Pelaku desa wisata Sleman ingin "One Hotel One Village" digencarkan

Baca juga: Destinasi wisata domestik primadona generasi muda

Ia mengatakan, selain itu Deswita Katris saat ini juga sedang merintis pembuatan museum agraris, yakni museum yang menampilkan peralatan atau perlengkapan dalam pertanian.

"Benda-benda yang ada dalam museum agraris ini diantaranya lesung, batu lumpang dan lainnya," katanya.

Sebelumnya Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyerahkan SK Desa Wisata Rintisan kepada pengelola Deswita Katris di pojok Dusun Karang, Trimulyo, Sleman, Ahad (28/8).

Kustini mengatakan penetapan Deswita Katris sebagai desa wisata rintisan diharapkan segera menjadi pelecut semangat para pengelola dan pemerintah Kelurahan Trimulyo.

"Pariwisata bisa dijadikan lokomotif untuk meningkatkan kesejahteraan warga asalkan dikelola dengan benar," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Yazid mengatakan pariwisata bisa menjadi panglima dalam pemulihan ekonomi nasional pascapandemi COVID-19.

"Acara-acara seperti Sunmor Deswita Katris ini bisa dikembangkan, ada dukungan semangat masyarakat yang luar biasa. Sebagus dan sebesar apapun potensi pariwisata yang kita miliki tanpa didukung semangat warga yang kuat, tidak akan pernah menghasilkan apa-apa," katanya.

Menurut dia, berbicara mengenai pariwisata, bukan hanya masalah destinasi tetapi juga bagaimana ekosistem pariwisata. Dengan terbentuknya ekosistem pariwisata yang bagus, maka sektor yang lain pun ikut berkembang.

"UMKM dan UKM serta sektor pertanian pun bisa mendukung sektor pariwisata seperti kuliner dan cenderamata. Yang paling penting dari desa wisata adalah keunikan dan kekhasan. Inilah pentingnya inovasi sehingga mendorong orang untuk datang berkunjung demi menemukan keunikan dan kekhasan," katanya.

Ia mengatakan, banyak desa wisata di Kabupaten Sleman dan DIY yang telah eksis.

"Sehingga jika mau bersaing, tentu harus menemukan keunggulan dari keunikan yang dikelola dengan baik," katanya.*

Baca juga: Rejowinangun Yogyakarta masuk 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia

Baca juga: Mendes ajak masyarakat Yogyakarta hidupkan kembali desa wisata