Desainer Wignyo Rahadi Kenalkan Tenun Tradisional Hingga ke Pedalaman

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVAKain tenun tradisional memang menjadi salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan. Menyadari hal tersebut, desainer fesyen, Wignyo Rahadi, turut membantu memperkenalkan kain tenun tradisional ini.

Turut menggandeng Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Banten, Wignyo Rahadi menyelenggarakan Program Pelatihan dan Pengembangan Tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Khas Leuwidamar Lebak.

Pelatihan ini ditujukan untuk para santri dan masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al Jam’iyatul Washliyah di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten pada 22 Maret - 20 April 2021 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Wignyo Rahadi memberikan pelatihan yang meliputi pengenalan benang sebagai bahan baku tenun, pengenalan warna dan teknik pewarnaan benang, penggunaan alat mehani, membangun dan setting Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), praktik menenun, hingga membuat dan motif tenun baru khas Lebak.

Desa Leuwidamar sendiri hanya berjarak 45 menit dari Baduy. Namun, masyarakat Desa Leuwidamar tidak mengenal tradisi menenun, berbeda dengan Baduy yang dikenal dengan hasil kerajinan tenun Gedog.

Dengan pelatihan tenun ATBM ini, Wignyo berharap dapat menjadikan sentra tenun baru di Kabupaten Lebak, selain sentra tenun Baduy, sehingga dapat mengembangkan kain tenun asal Lebak.

Untuk menjaga eksistensi tenun Baduy, sesuai arahan Bupati Kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya, kelompok tenun yang baru di Leuwidamar ini tidak memakai nama Tenun Baduy. Melainkan menggunakan nama Tenun Lebak dengan membuat dan mengembangkan motif-motif baru sebagai motif tenun khas Lebak.

"Alhamdulillah, 20 santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren yang menjadi peserta pelatihan sangat bersemangat untuk terus mengerjakan tugas-tugas dari para instruktur, sehingga pelatihan selama 26 hari kerja ini dapat menghasilkan 12 potong kain tenun," ujar Wignyo Rahadi, dalam keterangan tertulis, Senin 3 Mei 2021.

"Perlu diketahui bahwa para peserta adalah anak-anak muda yang belum pernah melihat alat tenun karena di Desa Leuwidamar sebelumnya tidak ada kegiatan menenun. Dengan adanya kegiatan kerajinan menenun ATBM ini, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan menjadi sentra tenun baru di Lebak, selain tenun Baduy," sambung dia.

Penyelenggaraan Program Pelatihan dan Pengembangan Tenun ATBM Khas Leuwidamar Lebak ini, ditargetkan tak hanya dapat meningkatkan kompetensi perajin tenun kemandirian ekonomi pesantren, melainkan dapat turut menunjang sektor pariwisata Provinsi Banten.

"Dengan telah dilaksanakan pelatihan ini diharapkan dapat terbentuk Kelompok Tenun Banten yang menjadi andalan Local Economic Development (LED) Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten," kata Wignyo.