WHO Desak China Lebih Transparan dalam Penyelidikan Asal Mula COVID-19 Tahap Kedua

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jenewa - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak China untuk lebih kooperatif dengan penyelidikan tahap kedua WHO tentang asal-usul COVID-19.

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan lebih banyak akses dan transparansi, demikian dikutip dari laman BBC, Jumat (16/7/2021).

Tahap pertama penyelidikan WHO berakhir pada Februari 2021.

Disimpulkan bahwa sangat tidak mungkin virus itu berasal dari laboratorium di Wuhan, China, dan mungkin berasal dari kelelawar.

Berbicara di Jenewa pada Kamis, Dr Tedros mengatakan bahwa WHO membutuhkan akses ke data mentah pasien sebelum dan awal pandemi menyebar.

China tidak membagikan data ini dengan tim WHO selama penyelidikan pertama, tambahnya.

Ini adalah indikasi terkuat bahwa WHO masih mempertimbangkan teori kebocoran laboratorium, meskipun para ahli mengatakan ini tidak mungkin.

Dugaan Awal dari Presiden Donald Trump

Anggota tim peneliti WHO bersiap untuk pergi dalam kunjungan lapangan di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, Jumat, 29 Januari 2021 untuk mulai mencari petunjuk tentang asal-usul pandemi virus corona COVID-19. (AP / Ng Han Guan).
Anggota tim peneliti WHO bersiap untuk pergi dalam kunjungan lapangan di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, Jumat, 29 Januari 2021 untuk mulai mencari petunjuk tentang asal-usul pandemi virus corona COVID-19. (AP / Ng Han Guan).

Spekulasi tentang kebocoran di Institut Virologi Wuhan - salah satu laboratorium penelitian virus top China - dimulai tahun lalu dan disebarkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Dr Tedros juga memperingatkan terhadap gagasan bahwa pandemi akan segera berakhir.

Komite darurat WHO mengatakan bahwa varian baru dan lebih berbahaya, diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia.

"Pandemi belum selesai," komite memperingatkan dalam sebuah pernyataan.

Ketua komite Didier Houssin mengatakan "kami masih mengejar virus ini dan virus masih mengejar kami".

Kematian terkait virus corona di Afrika melonjak 43 persen dalam waktu seminggu, didorong oleh kurangnya tempat perawatan intensif dan oksigen, menurut WHO.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel