Detik-Detik Mencekamnya Gedung Capitol Hill Saat Diserbu Massa Pendukung Donald Trump

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Washington D.C- Kerusuhan dalam proses sertifikasi terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat terjadi di Gedung Capitol Hill di Washington D.C, pada Rabu 6 Januari 2021. Saat kerusuhan, anggota parlemen AS sedang melakukan penghitungan suara elektoral untuk mengonfirmasi hasil pemilu 2020 yang dimenangkan Joe Biden.

Dikutip dari laporan CNN, Kamis (7/1/2021) kejadian bermula pada pukul 13.00 waktu AS, ketika para demonstran pro-Donald Trump menerobos penghalang yang dipasang di sepanjang perimeter gedung Capitol Hill. Para demonstran juga sempat terlibat bentrok dengan petugas keamanan setempat.

Sekitar 90 menit setelah kejadian itu, kepolisian mengatakan bahwa para demonstran telah memasuki area dalam gedung Capitol Hill. Begitu mengetahui bahwa massa telah memasuki gedung, perintah evakuasi pun langsung diberikan, dengan para anggota kongres yang segera menunda proses sertifikasi dan diamankan ke tempat yang telah disediakan.

Wakil Presiden Mike Pence, memimpin dan mengamati proses pemungutan suara di Electoral College, juga termasuk di antara mereka yang dievakuasi pada saat kejadian.

Menanggapi peristiwa itu, otoritas Washington D.C memutuskan untuk memberlakukan jam malam mulai pukul 18.00 waktu setempat. Langkah tersebut diumumkan Wali Kota Washington D.C, Muriel Bowser dan diberlakukan hingga pukul 6.00 pagi pada Kamis 7 Januari.

Presiden AS Donald Trump, menyampaikan tanggapannya terhadap peristiwa di gedung Capitol Hill itu dengan menyemangati kepolisian setempat dalam menangani massa. "Mari dukung Polisi di Capitol dan Penegak Hukum kita. Mereka benar-benar berpihak pada Negara kita Tetap damai!" tulis Trump via Twitter.

Tetapi, beberapa waktu sebelum gedung Capitol Hill diserbu massa, Trump sempat menyerukan para pendukungnya untuk melakukan protes.

20 Orang Terkait Penyerbuan di Capitol Hill Ditahan Polisi

The House Chamber kosong setelah orang-orang dievakuasi saat pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mengecam penyerbuan Gedung Capitol Hill. (AP Photo/J. Scott Applewhite)
The House Chamber kosong setelah orang-orang dievakuasi saat pengunjuk rasa mencoba masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mengecam penyerbuan Gedung Capitol Hill. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Laporan CNN juga menyebutkan bahwa terdapat 20 orang yang ditangkap yang terlibat dengan penyerbuan di Capitol Hill. Sekitar 20 orang dilaporkan terlihat telah dipasangkan borgol, dan menaiki mobil van polisi setelah keluar dari Gedung Kantor Senat Russell.

Orang-orang itu terlihat ditempatkan di bagian belakang mobil van polisi di Delaware Avenue, dekat Constitution Avenue tak lama setelah pukul 17.30 waktu setempat. Laporan lainnya juga mengatakan bahwa seorang perempuan tewas ditembak di dalam gedung Capitol Hill.

Adapun seorang laki-laki berusia 24 tahun yang diketahui mengalami kritis di rumah sakit setelah berusaha memanjat pagar gedung Capitol Hill yang tinggi. Menurut sebuah sumber terdekat, pria itu telah berada dalam kondisi kritis saat dibawa ke rumah sakit.

"Ya, wanita dewasa (yang tewas) ditembak di dalam gedung Capitol itu dirawat di rumah sakit daerah," terang juru bicara Departemen Kepolisian Washington D.C, Dustin Sternbeck.

Beberapa waktu setelah kisruh mereda, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengumumkan anggota parlemen akan melanjutkan penghitungan suara elektoral untuk mengkonfirmasi hasil pemilu 2020 setelah demonstran pro-Trump meninggalkan gedung Capitol Hill.

"Kami telah memutuskan untuk melanjutkan (proses sertifikasi) malam ini di Capitol setelah gedung diizinkan untuk digunakan kembali," kata Pelosi dalam sebuah surat kepada rekan-rekannya, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Sementara itu, Facebook juga telah menghapus sebuah video yang menampilkan Trump sedang berbicara kepada para pendukungnya. Hal itu disampaikan oleh juru bicara Facebook, Andy Stone.

VP Facebook, Guy Rosen mengatakan di Twitter bahwa kisruh ini merupakan "situasi darurat," dan menambahkan bahwa Facebook "mengambil tindakan darurat yang tepat, termasuk menghapus video Presiden Trump.

"Kami menghapusnya karena kami yakin video itu kurang berkontribusi dan tidak mengurangi risiko kekerasan yang berkelanjutan," kata Rosen.

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Berikut Ini: