Dewan Medis Amerika Serikat Dianggap Gagal Lindungi Rakyat dari Dokter Penyebar Hoaks COVID-19

·Bacaan 2 menit
Ilustrasi Covid-19, virus corona. Kredit: Miroslava Chrienova via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Banyak kritikus menyebutkan, dewan medis negara Amerika Serikat (AS) telah gagal melindungi rakyatnya dari dokter yang menyebarkan informasi palsu mengenai COVID-19 dan membiarkan dokter yang telah menyebarkan hoaks itu mendapatkan kembali lisensinya.

"Dewan medis negara bagian, sebagian besar, telah menjadi klub yang nyaman dari orang-orang yang merasa tugas mereka adalah melindungi profesi," kata Imran Ahmed, pemimpin dari Center for Countering Digital Hate, dikutip dari npr.org, Minggu (7/11/2021)

Melansir npr.org, pada September 2021 lalu, terdapat 16 dokter yang telah menyebarkan klaim palsu tentang COVID-19. Namun, catatan menunjukkan bahwa tidak ada tindakan disipliner terhadap para dokter tersebut dan lisensi medis yang dimiliki mereka masih aktif.

Salah satunya yaitu kisah dari dr Lee Merritt, seorang ahli bedah ortopedi dan tulang belakang. Ia pun sering diundang ke banyak gelar wicara dan seminar di universitas untuk menyebarkan informasi palsu atau hoaks mengenai COVID-19.

Macam-macam klaim hoaks yang telah disebarkannya yaitu klaim virus SARS-CoV2 merupakan senjata biologis yang direkayasa secara genetik dan vaksinasi yang dapat meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19.

Ia mengatakan, pandemi ini merupakan konspirasi global untuk melakukan kontrol sosial dan tentu jelas, semua klaim yang dikatakannya merupakan hal yang tidak benar.

Akibatnya, lisensi medisnya dicabut. Namun, pada Oktober 2021 lalu, dia dapat memperbarui lisensi medisnya dan diperpanjang hingga satu tahun lagi di negara bagian Nebraska, Amerika Serikat. Merritt mendapatkan lisensi tersebut hanya dengan beberapa klik pada 12 pertanyaan “ya atau tidak” secara daring.

Seorang dokter ruang gawat darurat yang memimpin No License For Disinformation, sebuah kelompok yang mencari tindakan terhadap dokter yang menyebarkan kebohongan, Nick Sawyer mengatakan, kualifikasi mereka justru membuat pesan yang disampaikan menjadi sangat berbahaya.

"Dokter harus memiliki standar yang lebih tinggi karena orang mempercayakan hidup mereka kepada kita," ucap dia.

Menurut presiden dari Federation of State Medical Boards, Dr. Humayun Chaudhry, pihaknya menemukan, lebih dari setengah dewan medis negara telah melihat peningkatan keluhan dokter yang menyebarkan informasi palsu COVID-19 dan hanya sebanyak 21 persen telah mengambil tindakan disipliner. Melihat keadaan ini, Ahmed berpendapat, dewan medis perlu bergerak lebih cepat dan lebih kuat.

"Pidato tidak cukup, surat tidak cukup, kita butuh tindakan sekarang," ucapnya.

Penulis: Amadea Claritta

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel