Di Balik Aksi Nekat Perempuan Sambangi Balai Kota DKI dengan Sebotol Bensin

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Balai Kota DKI Jakarta digegerkan dengan kedatangan seorang perempuan berpakaian serba hitam di Gedung Blok G, Selasa, 27 Oktober 2020. Saat diamankan petugas, perempuan tersebut kedapatan membawa botol air mineral berisi bensin.

Sang ibu mengaku bensin itu akan digunakannya untuk membakar gedung Balai Kota DKI. Aksi nekatnya tersebut sempat terekam video amatir dan viral di media sosial.

Kepala Biro Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah Setda Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin membenarkan peristiwa yang terekam dalam video tersebut.

"Kronologinya itu kemarin Selasa (27/10/2020) sekitar pukul 12.10 WIB. Ibu itu masuk ke blok G dulu," kata Budi saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (28/10/2020).

Awaluddin bahkan menduga wanita tersebut tidak waras. Karena dalam surat yang dibawa dan ditujukan kepada Kepala Biro Perekonomian, struktur bahasanya tidak nyambung.

"Karena surat ini aneh (struktur bahasa tidak nyambung), kita menduga ibu ini tidak waras dan itu surat tidak jelas. Dalam suratnya itu dia meminta duit ke Bank DKI, karena melihat ibu ini memaksa dan teriak-teriak Pamdal, perempuan itu meminta bantuan BKO Polisi dan TNI," ucapnya.

Akibat aksi nekatnya tersebut, belakangan diketahui Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah membawa kasus ini ke jalur hukum.

Berikut sederet hal terkait aksi nekat seorang perempuan yang menyambangi Balai Kota DKI sambil membawa sebotol bensin:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Awal Kejadian

Pegawai memasuki gedung Balai Kota DKI pada hari pertama kerja di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi di Jakarta, Senin (8/6/2020). PNS di lingkungan Pemprov DKI kembali mulai bekerja di kantor dengan sistem shifting. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Pegawai memasuki gedung Balai Kota DKI pada hari pertama kerja di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi di Jakarta, Senin (8/6/2020). PNS di lingkungan Pemprov DKI kembali mulai bekerja di kantor dengan sistem shifting. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Kepala Biro Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah Setda Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin menyatakan kejadian tersebut berlangsung pada Selasa, 27 Oktober siang sekitar pukul 12.00 WIB.

Dia menyatakan awalnya seorang ibu yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut mendatangi gedung Blok G, Balaikota, Jakarta Pusat.

Perempuan tersebut juga telah melewati mesin x-ray yang telah disediakan di lobby gedung. Dari pemantauan mesin, ibu tersebut membawa botol air mineral yang dimasukkan dalam tas.

"Dalam mesin x-ray itu kita sangka air mineral. Lalu dia naik ke lantai 12 ke Biro Perekonomian," kata Budi.

Sesampainya di lantai 12, ibu yang belum diketahui namanya ini meminta paksa kepada Pengamanan Dalam (Pamdal) yang bertugas untuk bertemu dengan Kepala Biro Perekonomian untuk mengecek surat.

Saat diperiksa, dalam tas si ibu ditemukan botol air mineral berisikan bensin dan selembar karton.

Dalam percakapan dengan petugas, si ibu yang menggunakan masker itu berencana akan membakar lokasi tersebut. Ibu tersebut juga berteriak-teriak kepada petugas yang berjaga.

Surat untuk Anies Baswedan

Sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjalan masuk menuju Balai Kota, Jakarta, Senin (3/7). Pasca libur Lebaran seluruh PNS Pemprov DKI terlihat masuk kerja kembali seperti biasanya. (Liputan6.com/Gempur M Surya)
Sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjalan masuk menuju Balai Kota, Jakarta, Senin (3/7). Pasca libur Lebaran seluruh PNS Pemprov DKI terlihat masuk kerja kembali seperti biasanya. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Ibu tersebut juga menuliskan surat untuk Gubernur DKI Anies Baswedan. Berikut isinya:

Kepada Yang Terhormat Anies Baswedan yang menangani DKI di tempat.

Assalamualaikum Wr Wb

Dengan ini saya menyampaikan surat ini kepada Anies Baswedan. Saya sudah capek sekali dan sudah berulang kali memberikan surat pertemuan, tetapi kamu tidak mau bertemu dengan saya.

Padahal tanpa saya, suara dan gedung, lahan, harta benda, uang rupiah dan kepemimpinan, kedudukan, jabatan itu dari saya. Pura-pura hidupmu masih hidup di jalanan seperti asalmu dahulu pengemis. Setelah saya berikan kamu kesempatan agar kau dipandang oleh rakyat, ternyata kau lupa kulit seperti kacang.

Mungkin asiknya kau menikmati hasil harta benda seorang yang punya harta benda yang sudah kau abaikan, tidak kau pedulikan. Saya mau bertemu kepada kamu sekarang juga dalam rangka sebelum saya kembali ke kepemimpinan kedudukan kepresidenan. Langsung saja saya jadi presidennya dan sebagai wakil presidennya ayah Rhoma Irama.

Saya sekarang ini mengambil posisi kedudukan di kepemimpinan Kapolsek Cawang di Jatinegara. Saya mengambil uang anggaran tunjangan yang berwenang di kepemimpinan saya di harta ini karena rekan-rekan kapolsek lain di wilayah Jakarta ini mengharapkan sekali kepada saya uang tunjangan tersebut sebagai uang saku tunjangan dan uang jalan, dan begitu dengan anggota karena saya belum masuk ke dalam gedung istana.

Saya mengambil uang tunjangan ini di Bank DKI. Khusus di wilayah Jakarta, saya sudah mengambil dalam kesendirian dengan tangan saya sendiri. Penjaga Bank DKI mengatakan kepada saya bahwa saya harus melalui yang menangani DKI yakni Anies Baswedan. Dan saya sudah berkata kepada mereka tidak perlu karena saya yang punya uang rupiah atau dana dari saya, surat keterangan tersebut.

Saya bertanya kepada Anies Baswedan kapan saya memberikan surat keterangan pengambilan uang pinjaman ke Pemda karena Parpol yang berada di Jakarta ini pada tidak terima semuanya. Kita harus bertemu sekarang juga. Demikianlah yang saya sampaikan agar Anies Baswedan langsung bertemu dengan saya sekarang juga.

Harap dapat mengerti, dari yang berwenang, Ibu Negara RI Ernawati Ululaya Nias, anak bunda Ani Yudhoyono/Rhoma Irama pemimpin Kapolsek Cawang, Otista, Jatinegara.

Diduga Alami Gangguan Jiwa

Gedung Balai Kota DKI Jakarta. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman
Gedung Balai Kota DKI Jakarta. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Budi menuturkan, surat yang akan diberikan ke Biro Perekonomian tersebut tidak memiliki struktur bahasa yang jelas, malah dianggap nyleneh.

"Jadi enggak jelas, ibu ini ngaku-ngakunya luar biasa, dia mewakili polsek-polsek, di situ ada ditulis. Bahasanya enggak beraturan. Kami menduga ibu ini punya gangguan jiwa. Akhirnya kami tidak tangkap, hanya mengamankan barang buktinya," papar Budi.

Namun, tidak berselang lama ibu yang diduga memiliki gangguan jiwa tersebut melaporkan salah satu anggota TNI yang sempat mengamankannya ke POM Kodam Jaya.

"Ibu itu ternyata melaporkan salah satu TNI, (awalnya) kita berpikir bahwa akhirnya orang POM datang, akhirnya saya jelaskan kronologi semuanya kepada POM itu," jelasnya.

Dilaporkan ke Polisi

Balaikota DKI Jakarta. (Liputan6.com/Luqman Rimadi)
Balaikota DKI Jakarta. (Liputan6.com/Luqman Rimadi)

Kepala Biro Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah Setda Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin juga menuturkan, bahwa Pemprov telah melaporkan ibu tersebut karena diduga melakukan tindak pidana.

"Saya sudah bersurat ke Polsek Gambir, melaporkan bahwa ibu itu melakukan, mengancam pengerusakan aset pemerintah dan mencemarkan nama baik," kata Budi saat dihubungi, Rabu (28/10/2020).

Dia menjelaskan, awalnya pihak Pemprov DKI Jakarta hanya mengamankan barang bukti bensin dalam botol mineral dan melepaskan wanita tersebut, dengan dugaan mengalami gangguan jiwa.

Usai dilepaskan, wanita yang belum diketahui asal usulnya tersebut melaporkan salah satu anggota TNI ke POM Kodam Jaya dengan laporan penganiayaan.

"Ibu itu ternyata melaporkan salah satu TNI, (awalnya) kita berpikir bahwa akhirnya orang POM datang, akhirnya saya jelaskan kronologi semuanya kepada POM itu," jelas Budi.

Saksikan video pilihan di bawah ini: