Di Balik Pembicaraan Rahasia AS dengan Rusia untuk Cegah Perang Nuklir

Merdeka.com - Merdeka.com - Penasihat Keamanan Gedung Putih, Jake Sullivan diyakini telah melakukan pembicaraan dengan petinggi-petinggi Rusia yang dekat dengan Presiden Vladimir Putin, yaitu Yuri Ushakov, penasihat senior kebijakan luar negeri dan Nikolai Patrushev, kepala dewan keamanan Rusia.

The Wall Street Journal melaporkan, pembicaraan itu dilakukan beberapa bulan lalu. Dalam pembicaraan itu, Sullivan meminta agar konflik yang terjadi antara Rusia – Ukraina tidak berubah menjadi perang nuklir. Demikian dikutip dari The Washington Times, Selasa (8/11).

Beberapa pejabat Amerika Serikat (AS) juga membenarkan Sullivan terlibat dalam percakapan rahasia itu. Bahkan Sullivan sendiri mengakui dia telah berkomunikasi dengan pejabat-pejabat tinggi Rusia.

Baginya, pembicaraan dan hubungan AS dengan Rusia harus tetap dijaga meski Rusia sedang berperang dengan Ukraina. Maka itu, Sullivan tetap berusaha menjaga hubungan AS dengan Rusia.

Pembicaraan itu diketahui hanya dipusatkan untuk mencegah konflik agar tidak meningkat. Upaya untuk mengakhiri konflik bersenjata tidak dibicarakan dalam pembicaraan itu.

Sebelumnya beberapa kemunduran yang dialami Rusia dalam peperangan telah mendorong Presiden Putin untuk mengancam Ukraina dengan serangan nuklir. Bagi Sullivan, penggunaan senjata nuklir dapat memberikan risiko bencana besar kepada Rusia.

Meski Sullivan mengaku berbicara dengan dua pejabat Rusia, namun pihak AS dan Rusia enggan memberikan komentar. Juru bicara Dewan Keamanan AS, Adrienne Watson enggan berkomentar mengenai pertemuan Sullivan dengan Ushakov dan Patrushev.

Sedangkan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menyatakan koran-koran AS hanya menerbitkan berbagai berita- berita palsu.

Namun juru bicara Gedung Putih, Karin Jean-Pierre menyatakan AS berhak untuk berbicara dengan Rusia. Penjagaan hubungan seperti yang diutarakan Sullivan pun masih demi kepentingan setiap negara yang terkena dampak konflik itu.

Meski tetap menjaga hubungan dengan Rusia, namun Sullivan menjelaskan pemerintahan Presiden Joe Biden akan tetap meminta tanggung jawab Rusia atas perlakukan mereka di Ukraina.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]