Di AS, booming pasar real estat ungkap kesenjangan antara si kaya dan si miskin

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Pasar real estat AS sedang booming bahkan ketika krisis virus corona meningkat, dan keinginan mendapatkan rumah baru dan lama yang sepertinya tidak pernah terpuaskan telah membuat harga rumah melonjak yang berarti kian banyak keluarga berpendapatan kecil melihat impian mereka dalam memiliki rumah sendiri hancur.

"Ini sungguh kisah orang kaya dan orang tak punya," kata Dana Scanlon, agen properti di wilayah Washington.

Dalam upaya mengurangi krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi, Federal Reserve AS memangkas suku bunga pada Maret sampai mendekati nol.

Seperti dijelaskan Scanlon, "hal itu memberikan dorongan sangat besar kepada daya beli orang-orang yang masih memiliki pekerjaan di mana mereka bisa bekerja dari rumah."

Untuk beberapa hal, mungkin hal itu berlawanan dengan intuisi, bahkan berarti "sedikit berhemat" karena perjalanan dan biaya lainnya telah dipangkas karena pembatasan perjalanan dan makan di luar, kata dia.

Itu berarti sejumlah keluarga punya uang lebih banyak guna dibelanjakan untuk meningkatkan rumahnya menjadi lebih besar atau bahkan mempertimbangkan membeli rumah kedua.

Dengan banyaknya karyawan kerah putih yang mempertimbangkan peralihan jangka panjang ke kerja jarak jauh, dan anak-anak masih bersekolah melalui Zoom, pandemi tetap memicu permintaan.

Peningkatan tajam pembelian rumah itu mengejutkan para pakar industri perumahan yang masih mengingat bagaimana pasar mencapai titik paling rendah selama krisis keuangan 2008-2009.

Tetapi tak semuanya menyenangkan semua warga Amerika yang ingin membeli.

"Ada semacam piramida atau tangga pembeli," kata Scanlon, yang bekerja di ibu kota AS, Maryland dan Virginia.

Mereka yang tinggal di studio-studio mencari apartemen satu kamar tidur, orang-orang di ruangan satu kamar tidur berusaha pindah ke townhouse di pinggiran kota, dan begitu seterusnya.

Pada Oktober, penjualan rumah yang sudah ada mencapai level tertinggi sejak awal 2006, kata National Association of Realtors (NAR).

Namun turunnya jumlah rumah yang tersedia untuk dijual telah membuat harga rumah meroket.

Menurut data NAR, harga rata-rata untuk masing-masing rumah naik menjadi 313.500 dolar AS pada triwulan ketiga atau meningkat 12 persen tahun ke tahun.

Empat wilayah utama di negara itu mengalami kenaikan dua digit --13,7 persen di Barat, 13 persen di Timur Laut, 11,4 persen di Selatan dan 11,1 persen di AS tengah.

Pada tingkat ini, kata NAR, harga rumah naik empat kali lebih cepat dari pendapatan rata-rata rumah tangga.

Akibatnya, semakin banyak calon pembeli rumah pertama kali yang tak bisa memasuki pasar.

Memang, persentase pembeli pertama kali dari total 2020 turun menjadi 31 persen, dibandingkan 33 persen pada tahun lalu, kata kepala ekonom NAR Lawrence Yun.

"Karena kenaikan harga yang kuat, penyewa menjadi semakin sulit menabung untuk uang muka," kata Yun.

Namun demikian, pada April dan Mei, rumah tangga-rumah tangga dengan pendapatan lebih rendah dapat memanfaatkan suku bunga rendah, kata Tracey Scott, seorang agen real estate di West Virginia.

Tetapi sejak musim panas lalu, Scott mengakui kliennya semakin banyak berasal dari keluarga kaya di wilayah Washington raya.

"Kami mungkin dua jam dari Washington, DC," kata Scott kepada AFP. "Tapi kami masih punya banyak tanah, gunung, sungai. Lanskapnya sangat indah di pegunungan."

Sejumlah klien Scott mencari rumah kedua sebagai investasi, tetapi yang lain berharap meninggalkan kota itu karena saat ini kantor sudah menjadi sisa-sisa dari Masa Sebelumnya.

Scott mengaku "benar-benar" tidak memperkirakan bisa menyaksikan permintaan seperti itu - agensinya sudah mengalami kenaikan jumlah klien pencari rumah kedua setidaknya 25 hingga 30 persen.

Ledakan permintaan rumah kedua terjadi dua kali lipat sebagai investasi tetapi juga sebagai tempat tinggal utama potensial jika tren ke arah kerja jarak jauh tetap bertahan.

Scanlon setuju bahwa pekerjaan seperti yang pernah kita ketahui kemungkinan besar akan hilang selamanya.

Tetapi dia kesal dengan ketidaksetaraan di pasar dengan berkata, "Sayangnya, kaum tidak berpunya selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dalam segala jenis krisis ekonomi."

Bagi Yun, satu-satunya cara mempermudah pembeli baru adalah dengan "menaikkan pasokan dengan membangun rumah, misalnya, dan insentif untuk investor real estat agar menjual properti mereka".