Di Depan Gubernur Bank Sentral ASEAN, Perry Warjiyo Pamer Penurunan Bunga Acuan BI

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan berbagai kebijakan yang diambil untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan ke-24 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3.

Salah satu kebijakan yang cukup progresif adalah penurunan suku bunga acuan menjadi 3,5 persen, terendah sepanjang sejarah di Indonesia. "Penurunan suku bunga kebijakan menjadi 3,5 persen yang merupakan tingkat suku bunga terendah sepanjang sejarah," kata Perry dalam siaran pers Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (4/5/2021).

Bank Indonesia juga melakukan quantitative easing untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar, serta melakukan stabilisasi nilai tukar sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Selain itu, untuk mendukung pemulihan ekonomi domestik, bank sentral menerapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan mendorong percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.

Dalam pertemuan tersebut, para perwakilan negara menggarisbawahi pentingnya peningkatan kerja sama keuangan regional untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan di kawasan dalam menghadapi COVID-19 serta meningkatkan kesiapan memasuki masa pasca pandemi (post-pandemic era).

Mata Uang Lokal

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Penguatan kerjasama keuangan yang dituangkan dalam Amandemen Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) juga disambut baik. Kesepakatan tersebut sudah mulai berlaku sejak 31 Maret 2021. Penguatan kerja sama CMIM mencakup peningkatan porsi fasilitas CMIM IMF Delinked Portion (IDLP) dari 30 persen menjadi 40 persen dan pemberian fleksibilitas dalam pemanfaatan kerjasama CMIM dalam mata uang lokal.

Penggunaan mata uang lokal ini dilakukan dengan prinsip voluntary and demand driven. Selain itu, negara-negara anggota juga menyambut baik ditandatanganinya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Agreement sebagai milestone pendorong perdagangan dan investasi di kawasan.

"Negara-negara anggota mengharapkan agar perjanjian tersebut dapat segera berlaku efektif untuk semakin mendukung integrasi ekonomi kawasan," kata Kepala Departemen Komunikasi, Bank Indonesia, Erwin Haryono.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh beberapa lembaga internasional, yaitu ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Asian Development Bank (ADB), dan International Monetary Fund (IMF), sebagai mitra ASEAN+3. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut dimaksudkan untuk memberikan pandangan mengenai kondisi ekonomi dan keuangan terkini, baik regional maupun global, serta memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diambil untuk mengatasi dampak dari pandemi Covid-19.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: