Di Desa Ini, Tanam Pohon Jadi Syarat Nikah

TEMPO.CO, Jepara- Di lereng Gunung Muria, tersebutlah nama Desa Plajan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Warga desa ini didorong untuk selalu peduli terhadap lingkungan. Gerakan penghijauan terus dilakukan. Tak hanya melalui ceramah dan diskusi, desa ini memiliki peraturan tentang lingkungan. »Peraturan desa berisi pohon dan lingkungan itu kami terbitkan secara bertahap,” kata Kepala Desa Plajan Marwoto saat ditemui di Balai Desa Plajan, Selasa 20 November 2012.

Pada 2005, Kepala Desa menerbitkan peraturan desa tentang larangan menebang pohon. Pohon yang dilarang ditebang adalah pohon jenis langka, pohon di dekat sumber mata air, serta pohon yang ada di sepanjang kiri dan kanan sungai. Marwoto menyatakan pohon-pohon tersebut harus dirawat. Ia mencontohkan, pohon langka tidak boleh sembarang ditebang karena dikhawatirkan bisa punah.

Berikutnya, pada 2009, diterbitkan peraturan desa tentang syarat menikah harus menanam lima batang pohon. »Kami tidak akan memberi surat pengantar nikah jika calon pengantinnya tidak menanam minimal lima pohon,” kata Marwoto. 

Dengan aturan seperti itu, warga desa, terutama pemuda dan pemudi, tergerak untuk merawat penghijauan. Sebab, mereka tinggal di lereng gunung, yang rawan bencana, terutama longsor. Aturan lain yang diterbitkan adalah penebangan pohon berjangka, tebang tanam—jika menebang satu pohon, wajib menanam lebih dari satu pohon—serta tebang pilih.

Proses penerbitan peraturan desa juga melibatkan perwakilan masyarakat. Sebelum ditandatangani kepala desa, rancangan peraturan itu dikonsultasikan dulu ke Badan Perwakilan Desa (BPD). Marwoto menyatakan penyusunan peraturan itu tak mesti langsung disetujui BPD. Ia mencontohkan, dalam sebuah peraturan, ingin dicantumkan soal denda bagi yang melanggar. Satuan denda ini ditolak BPD dengan alasan memberatkan warga. Akhirnya, sanksi hanya terkait dengan administrasi. Misalnya, warga yang terbukti tidak mematuhi peraturan, tidak dilayani mengurus surat-surat administrasi.

Marwoto menyatakan peraturan lingkungan ini terbukti cukup efektif untuk melestarikan lingkungan. Ia mencontohkan, dulu, di sekitar desa, hutan terlihat gundul akibat ditebangi secara membabi buta oleh warga. »Karena dulu warga bisa bebas menebang pohon,” kata dia. Namun, kini, desa tersebut sangat lebat dengan berbagai tanaman pohon keras, dari pohon jati, sengon, hingga mahoni. 

Di lahan-lahan dekat rumah warga, juga ada banyak pohon. Lingkungannya terlihat sangat bersih. Di jalan raya, ada sejumlah tempat sampah. Di dekat tempat sampah itu, terdapat sebuah padasan, tempat air, yang bisa digunakan siapa pun untuk mencuci tangan. 

Dari pengamatan Tempo, Desa Plajan termasuk wilayah yang berbukit. Antara satu rumah dan rumah lain kadang terlihat tidak rata, ada yang di atas dan di bawah. Desa Plajan termasuk desa pelosok. Desa ini terletak di sebelah timur Jepara dengan jarak tempuh sekitar 22 kilometer dari Kota Jepara. Karena dianggap melestarikan hutan, Desa Plajan pernah menyabet juara nasional lomba penghijauan dan konservasi alam Wana Lestari kategori Desa Peduli Hutan 2011.

ROFIUDDIN

Berita Terpopuler:

Ahok Jawab Kritikan: Pencitraan Nenek Lo...  

PPI Berlin Bongkar Kejanggalan Studi Banding DPR

Plesir ke Jerman, Anggota DPR Keliru Bertanya

Intel Israel Ditangkap Geng Motor Palestina

Ridwan Saidi Salut Jokowi Peduli Kampung Betawi

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.