Di forum ASEAN, Menteri Arifin: Perlu teknologi energi yang terjangkau

Ahmad Wijaya
·Bacaan 2 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan perlunya transisi energi ASEAN, yang tidak hanya berfokus pada peralihan bahan bakar fosil ke energi terbarukan, namun juga peralihan ke pilihan energi dan teknologi, yang terjangkau dan lebih bersih.

Hal tersebut disampaikan Menteri Arifin saat menghadiri Pertemuan ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM) Ke-38, yang dilaksanakan secara virtual di Vietnam sejak Kamis (19/11/2020) hingga Jumat.

Dalam rilisnya di Jakarta, Jumat, Menteri Arifin mengatakan salah satu inisiatif utama Indonesia terkait kerja sama transisi energi ASEAN adalah memprakarsai pendirian Clean Coal Technology Centre of Excellence (CCT COE), yang direncanakan berlokasi di Sentra Teknologi Batubara, Palimanan, Jawa Barat.

Keberadaan CCT COE penting untuk meningkatkan kerja sama internasional, termasuk kolaborasi penelitian dan pengembangan dan transfer teknologi, tidak hanya untuk Indonesia, namun negara anggota ASEAN lainnya.

Dukungan dari seluruh negara anggota ASEAN dan tiga negara mitra wicara AMEM+3 (Jepang, Korea, dan China) diharapkan dapat mewujudkan pemanfaatan CCT COE dan meningkatkan kemampuannya dalam hal keahlian, fasilitas, dan sumber daya.

"Indonesia berharap kerja sama dalam ASEAN Forum on Coal dapat menjadi think tank untuk mempromosikan penggunaan clean coal technology bersamaan dengan pergerakan ASEAN ke arah transisi energi yang lebih bersih dan ekonomi rendah karbon," tegas Arifin.

Dalam rangkaian pertemuan ini, para menteri energi ASEAN juga bertemu dengan Menteri East Asia Summit Energy Minister Meeting (EAS-EMM) yang meliputi AMEM+3 ditambah Amerika Serikat, Australia, India, Selandia Baru, dan Rusia.

Pertemuan AMEM juga menghadirkan organisasi internasional seperti International Energy Agency (IEA) dan International Renewable Energy Agency (IRENA) untuk melihat perspektif energi global dan kaitannya dengan kawasan ASEAN.

Target penurunan intensitas energi ASEAN sebesar 20 persen pada 2020, telah dicapai lebih dini pada 2018 yakni sebesar 21 persen.

Pencapaian ini, membuat ASEAN optimistis dapat meraih target baru pengurangan intensitas energi sebesar 32 persen pada 2025.

Sementara itu, ASEAN masih menghadapi tantangan dalam usaha meraih target bauran energi terbarukan, yang pada 2018 baru sebesar 13,9 persen dari total suplai energi primer.

Angka ini masih cukup jauh dari target 23 persen pada 2025, namun ASEAN bersepakat menambahkan target kapasitas terpasang energi terbarukan di pembangkit tenaga listrik mencapai 35 persen pada 2025.

Menteri Arifin juga dijadwalkan menghadiri secara virtual ASEAN Energy Business Forum (AEBF) pada Jumat sore ini.

AEBF merupakan forum yang mempertemukan pelaku usaha energi ASEAN melalui seminar dan business matching.

Salah satu agenda AEBF adalah dialog pejabat setingkat menteri dengan para CEO perusahaan energi untuk berbagi pandangan dan dukungan dalam rangka meningkatkan konektivitas energi, pemanfaatan energi dan digitalisasi, termasuk upaya pencapaian target energi ASEAN.

Acara ini juga dirangkai dengan penganugerahan ASEAN Energy Award (AEA). Indonesia meraih banyak penghargaan pada ajang ini, setelah melalui tahapan seleksi yang ketat.

Penghargaan tersebut meliputi kategori Energi Terbarukan, Efisiensi Energi, dan Konservasi, serta Individu sebagai Manajer Energi.

Baca juga: Menteri ESDM: Biaya eksplorasi energi RI masih rendah
Baca juga: Menteri Arifin: Transisi energi ke EBT mutlak diperlukan