Di Harlah NU, Hasto Bantah Tudingan PDIP Anti Ulama

Hardani Triyoga, Eka Permadi
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan pihaknya sangat menghargai Islam melalui kebijakan dan pendidikan di internalnya. Menurutnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri selalu mengajarkan kader partai untuk berpolitik dengan keyakinan, menebar kebaikan, dan santun.

“Makanya, di PDIP, politik itu tidak hanya ngurusi pemilih. Pohon-pohon saja kami urusi. Kemarin, kami menanam, membersihkan sungai, menjaga kebersihan. Itu juga kan nilai-nilai Islam," kata Hasto saat saat merayakan Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama (NU) secara virtual, Minggu 31 Januari 2021.

Hasto menambahkan, atas ajaran Soekarno dan Megawati, PDIP sangat menghargai para muslim, termasuk warga Nahdliyin.

"Apapun semangat persatuan menjadi mimpi dan terus diperjuangkan oleh Bung Karno. Jadi, kami diajarkan dalam kaderisasi, kesadaran akan sejarah," jelasnya.

Maka itu, terhadap kelompok intoleran, PDIP memilih peran negara yang harus benar-benar muncul.

"Bagaimana negara kita dibangun untuk semua. Dan itu diatur jelas di sila ketiga persatuan Indonesia. Yang intinya adalah kebangsaan. Kebangsaan itu intinya semua sama, punya hak dan kewajiban yang sama," jelasnya.

"Ketika Indonesia merdeka, tak ada itu dibeda-bedakan, apa sukumu, apa agamamu, apa status sosialmu, apa jenis kelaminmu. Setiap warga negara sama," tambahnya.

Terkait itu, Hasto menolak tuduhan bila partainya disebut anti ulama. Tuduhan tersebut menurutnya tak berdasar.

"Tak ada itu. Buktinya banyak kepala daerah kami dari elemen keagamaan seperti NU. Tak ada kebenaran istilah PDI Perjuangan itu anti Islam atau pelaku kriminalisasi ulama," jelasnya.

Menurutnya, yang harus dipahami bahwa dahulu pernah ada proses de-Soekarnoisasi di mana segala sejarah soal Bung Karno ditutup rapat. Belakangan, Hasto mengaku ia pribadi bertemu banyak ulama NU.

Kata dia, para kiai itu menyampaikan bahwa Soekarno adalah seorang NU dan santri.

"Bahkan Bung Karno diberi gelar Pahlawan Pembebas Bangsa-bangsa Islam. Karena kemerdekaan Maroko, Aljazair, Tunisia, itu mendapat dukungan penuh oleh Bung Karno," katanya.

Baca Juga: Sanjung Megawati, Said Aqil: Terima Kasih yang Mulia Ketum