Di India Ada Asosiasi Orang Mati dan Ternyata Mereka Hidup

·Bacaan 7 menit

Orang mati tidak bisa memiliki tanah. Fakta itu telah mengakibatkan banyak sekali orang di India yang didaftarkan sebagai almarhum dan kemudian harta bendanya disita.

Para korban kasus ini mendapati bahwa tidak banyak yang bisa mereka lakukan, tulis wartawan BBC, Chloe Hadjimatheou.

Padesar Yadav masih hidup dan sehat-sehat saja, jadi ia kaget ketika menemukan bahwa ia sudah meninggal dunia - setidaknya di atas kertas.

Pada penghujung usia 70-an tahun, setelah kematian putri dan menantunya, ia harus membesarkan dua orang cucu. Jadi, untuk membiayai hidup dan pendidikan mereka, ia menjual tanah warisan mendiang ayahnya di desa tempat ia dilahirkan.

Beberapa bulan kemudian ia menerima panggilan telepon yang sangat aneh.

"Orang yang membeli tanah saya mengatakan ada gugatan hukum terhadap saya. Dia bilang keponakan saya memberi tahu semua orang bahwa saya sudah meninggal dan seorang penipu telah menjual tanah itu."

Yadav langsung berangkat dari Kolkata, tempat tinggalnya sekarang, ke desa kelahirannya di distrik Azamgarh, negara bagian Uttar Pradesh. Ketika ia tiba di sana, orang-orang kaget melihatnya.

"Mereka menatap saya seperti sedang melihat hantu dan berkata, `Kamu sudah mati! Ritual berkabung untukmu sudah dilakukan!`"

Yadav berkata bahwa ia dan sang keponakan pernah akrab dan pria yang lebih muda itu kerap mengunjunginya saat ia ke kota. Namun ketika Yadav memberi tahu sang keponakan tentang rencana untuk menjual tanah keluarga, ia berhenti mengunjungi Yadav.

Yadav kini mengetahui bahwa sang keponakan mengklaim tanah itu sebagai warisannya. Jadi Yadav menemuinya.

"Dia bilang, `Saya tidak pernah melihat orang ini seumur hidup saya. Paman saya sudah meninggal.` Saya sangat syok," kata Yadav. "Saya bilang, `Tapi saya di sini, masih hidup, berdiri di depan kamu, bagaimana bisa kamu tidak mengenali saya?`"

Yadav mengatakan ia menangis berhari-hari tetapi kemudian menguatkan dirinya dan menelepon Asosiasi Orang Mati India.

Organisasi itu dipimpin oleh Lal Bihari Mritak, seorang laki-laki usia 60-an tahun yang paham betul pengalaman Yadav.

Bagaimana tidak, ia menjalani sepertiga masa hidupnya sebagai "orang mati."

Bihari berasal dari keluarga yang sangat miskin. Ia tidak pernah belajar membaca atau menulis karena sejak usia tujuh tahun ia sudah disuruh bekerja di pabrik sari.

Pada usia 20-an tahun ia membuka pabrik tekstil kecil-kecilan di kota sebelah, namun membutuhkan pinjaman untuk memulai bisnis dan bank mensyaratkan jaminan.

Ia kemudian pergi ke kantor pemerintah lokal di desanya, Khalilabad, juga di distrik Azamgarh, berharap untuk mendapatkan akta untuk tanah yang ia warisi dari ayahnya.

Lal Bihari Mritak
Lal Bihari Mritak mengenakan bendera Asosiasi Orang Mati, organisasi yang ia dirikan untuk membantu orang-orang yang dinyatakan meninggal dunia saat masih hidup.

Akuntan desa mencari namanya dan menemukan dokumen-dokumen tersebut - namun, ia juga menemukan sertifikat kematian yang menunjukkan bahwa Lal Bihari sudah meninggal.

Protes Bihari bahwa ia tidak mungkin sudah meninggal karena ia berdiri di sana tidak digubris.

"Disebutkan di sini di atas kertas, hitam di atas putih, bahwa Anda sudah meninggal," Bihari mengingat kata-kata si akuntan desa.

Ketika kematian Bihari didaftarkan ke pemerintah setempat, tanah dan properti yang ia warisi dari ayahnya dipindahkan ke keluarga pamannya.

Sampai hari ini Bihari mengatakan ia tidak tahu pasti apakah itu kesalahan tata usaha ataukah penipuan oleh pamannya. Dalam kedua kasus itu, hidup Bihari hancur. Pabriknya harus tutup dan keluarganya hidup melarat.

Namun Bihari tidak mau menyerah begitu saja dan menerima status kematiannya, dan ia kemudian menyadari bahwa ia tidak sendiri.

Banyak orang di seluruh negeri ditipu oleh kerabat sendiri yang menyatakan bahwa mereka sudah meninggal untuk merebut tanah mereka.

Bihari mendirikan Asosiasi Orang Mati untuk mempersatukan mereka - berdasarkan satu perkiraan, ada 40.000 orang "mati tapi hidup" di negara bagian Uttar Pradesh saja, kebanyakan dari mereka adalah orang miskin, buta huruf, dan berasal dari kasta rendah - dan memulai kampanye untuk menarik perhatian pada penderitaan mereka.

Ia menambahkan sufiks mritak - berarti "mendiang" - pada namanya, menjadi "mendiang Lal Bihari" dan mengadakan unjuk rasa bersama orang-orang lain yang mengalami hal sama untuk mendapatkan perhatian media. Namun itu tidak cukup untuk mengubah situasinya.

Lal Bihari Mritak (kanan) pada 2015, menemui seorang petani yang dinyatakan meninggal dunia oleh adiknya sendiri.
Lal Bihari Mritak (kanan) pada 2015, menemui seorang petani yang dinyatakan meninggal dunia oleh adiknya sendiri.

Ia kemudian memutuskan untuk mencalonkan diri di pemilihan nasional dan sukses menempatkan nama orang mati di surat suara. Ketika itu tidak cukup untuk meyakinkan otoritas bahwa ia masih hidup, ia hampir membunuh dirinya sendiri dengan mogok makan tiga kali.

Akhirnya, dalam keputusasaan, ia memutuskan untuk melanggar hukum dengan menculik anak pamannya. Ia berharap polisi akan menangkapnya, dan dengan itu terpaksa menerima bahwa ia masih hidup - bagaimanapun, mereka tidak bisa menangkap orang mati. Namun polisi menyadari maksudnya dan menolak untuk terlibat.

Pada akhirnya, Bihari menemukan keadilan bukan karena berbagai upaya kreatifnya, melainkan dari sistem yang telah menjungkirbalikkan hidupnya sejak awal.

Seorang hakim distrik di Azamgarth meninjau kembali kasusnya dan memutuskan bahwa, setelah 18 tahun dinyatakan meninggal, Lal Bihari sebenarnya masih hidup.

Bihari mengatakan bahwa melalui Asosiasi Orang Mati ia telah memberi dukungan pada ribuan orang di seluruh India yang menghadapi kesulitan serupa.

Banyak dari mereka, kata dia, tidak seberuntung dirinya. Beberapa bunuh diri setelah bertahun-tahun memperjuangkan kasus mereka dan akhirnya kehilangan harapan, sementara lainnya meninggal karena penyebab alami sebelum kasus mereka terselesaikan.

Seseorang yang baru memulai perjuangannya adalah Tilak Chand Dhakand. Sekarang ini ketika pria berusia 70 tahun itu mengunjungi lahan perkebunan di Madhya Pradesh tempat ia menghabiskan masa kecilnya, ia harus memandangnya dari balik pagar.

Lelaki tua itu memiliki banyak masalah kesehatan dan tahu ia tidak akan hidup cukup lama untuk bisa berjalan di lahan itu lagi.

Di masa mudanya, Dhakad pindah ke kota dengan harapan mendapatkan penghasilan dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Selama ia pergi, ia menyewakan tanahnya ke sepasang suami-istri.

Tilak Chand Dhakad
Tilak Chand Dhakad kehilangan tanahnya setelah sepasang suami-istri yang menyewa tanahnya itu menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Baru ketika ia kembali ke desanya untuk mengurus beberapa dokumen ia menemukan bahwa ia bukan lagi pemilik tanah itu karena ia disebut sudah meninggal.

"Petugas di kantor pemerintahan setempat memberi tahu saya bahwa saya sudah meninggal. Saya berpikir, `Bagaimana itu bisa terjadi?` Saya sangat takut," kenangnya.

Dhakad menceritakan ia kemudian menemukan bahwa pasangan suami-istri yang menyewa tanahnya telah mendaftarkan dirinya sebagai sudah meninggal, dan sang istri kemudian pergi ke pengadilan dengan berpura-pura sebagai jandanya, dan mengatakan ia rela menyerahkan tanahnya.

Ketika BBC mengontak pasangan yang dituduh Dhakad mencuri tanahnya, mereka menolak menjawab pertanyaan.

Anil Kumar, pengacara yang pernah menangani beberapa kasus untuk orang-orang yang dinyatakan sudah meninggal padahal masih hidup, memperkirakan bahwa di Azamgarh, provinsi tempat tinggal Lal Bihari, ada sedikitnya 100 orang yang dinyatakan meninggal dunia secara prematur.

Setiap kasus kompleks, ujarnya. Kadang-kadang ada kesalahan tata usaha, pada kasus lain pejabat publik disuap untuk membuat sertifikat kematian palsu.

Juru bicara pemerintah India Shaina NC berkata kepada BBC bahwa pemerintah saat ini sudah sangat getol dalam menegakkan aturan untuk mengatasi korupsi.

"Di negara yang besar dan beragam seperti India Anda dapat menemukan beberapa kasus penyimpangan yang muncul dari waktu ke waktu, namun mayoritas terlindungi oleh pemerintahan baik Perdana Menteri, Narendra Modi," ujarnya.

"Jika ada kasus korupsi, ada cukup ketentuan hukum di parlemen untuk memastikan pelaku dimintai pertanggungjawabannya."

Namun Anil Kumar berkata, ketika kasus-kasus ini adalah hasil dari penipuan, keadilan bisa sulit didapatkan. Dalam satu kasus yang ia tangani, butuh enam tahun untuk membuktikan bahwa kliennya masih hidup - dan lebih dari 25 tahun kemudian ia masih menunggu putusan dalam kasus gugatan terhadap orang yang diduga membuat kliennya dinyatakan meninggal dunia.

"Jika kasus-kasus seperti ini dipercepat sehingga pelakunya segera mendapat hukuman, orang-orang akan takut dan menghindari kejahatan seperti ini," kata Kumar.

Sudah lebih dari 45 tahun sejak Lal Bihari Mritak dinyatakan meninggal dunia dan lebih dari dua dekade sejak ia berhasil membuktikan bahwa dirinya masih hidup. Namun setiap tahun ia masih mengadakan pesta ulang tahun, dengan para tamu duduk mengelilingi sebuah kue besar yang indah. Ketika pisaunya memotong kue tersebut, para tamunya menyadari bahwa semua itu adalah gimik - kuenya ternyata hanyalah kotak kardus yang dihias.

Lal Bihari Mritak
Setiap tahun, Lal Bihari Mritak mengadakan pesta ulang tahun dan memotong kue yang sebenarnya hanyalah kotak kardus kosong.

"Di dalamnya kosong. Beberapa pejabat pemerintah juga seperti itu - hampa dan tidak adil," ujarnya.

"Jadi saya tidak memotong kue ini sebagai perayaan. Ini pernyataan tentang masyarakat tempat kita hidup."

Bihari berkata ia masih sering dihubungi oleh orang-orang dari seluruh negeri yang meminta saran untuk membuktikan bahwa mereka masih hidup, namun di usia 66 tahun ia mulai lelah dan sekarang memikirkan untuk pensiun dari perjuangan ini.

"Saya tidak punya uang atau energi untuk memimpin Asosiasi Orang Mati lagi," ujarnya, "dan tidak ada yang bisa mengambil alih."

Ia selalu berharap media nasional akan membela para korban, dan pemerintah akan memberantas pejabat yang menerima sogokan, namun itu belum terjadi.

Laki-laki yang menghabiskan 18 tahun kehidupannya untuk membuktikan bahwa ia belum mati, suatu hari nanti akan benar-benar mati, tanpa mencapai perubahan yang ia perjuangkan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel