Di Jabar, Ibu-ibu Lebih Pilih Beli Pulsa daripada Telur

·Bacaan 2 menit

VIVA - Kasus gizi buruk atau stunting anak di Jawa Barat diakui masih sulit diatasi. Penanganan masalah ini dinilai perlu dibenahi mulai dari pola makan asupan gizi dan kesadaran orang tua akan pentingnya membudayakan intensifitas konsumsi protein tinggi dengan komoditas sederhana dan mudah didapat yaitu ayam telur.

Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, menjelaskan kasus stunting di Jabar menjadi tamparan keras meski saat ini ketersediaan komoditas daging ayam dan telur terus meningkat bahkan mampu membantu memenuhi ketersediaan ke provinsi lain.

"Tapi entah kenapa realita yang terjadi stunting di Jawa Barat masih ada, yang memiliki bayi masih ada yang dianggap asupan gizinya kurang," ujar Uu di Bandung, Jawa Barat, Senin, 31 Mei 2021.

Baca juga: Ridwan Kamil Bicara Peluang Indonesia Menjadi Negara Adidaya

Dari catatannya, kontribusi produksi Jawa Barat di tingkat nasional hampir 23 persen. Dengan jumlah produksi 751 ribu ton, kebutuhan kurang lebih 400 ribu ton, kemampuan Jawa Barat menyumbang ke provinsi lain sebesar 300 ribu ton.

Uu menilai fenomena orang tua mengutamakan gizi anak masih mengkhawatirkan. Mirisnya, menurut Uu, para orang tua malah lebih mengutamakan kebutuhan aktivitas sosial.

"Orang tua tidak berfikir gizi untuk anak, terkadang di lapangan orang tua lebih penting membeli rokok bagi suami daripada beli daging ayam untuk anak, begitu juga bagi ibu-ibu lebih baik beli pulsa daripada beli telur untuk anak-anak," katanya.

Uu menambahkan, hoaks terkait konsumsi ayam juga masih menyebar di perkampungan. "Ada image di masyarakat bahwa kalau makan ayam boiler atau ayam BR ini bukan sehat yang didapat, bukan pintar yang didapat, tapi image yang didapat ada penyakit lah dengan makanan kimia ada efek tidak baik untuk kesehatan," katanya.

Istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Atalia Praratya, yang juga merupakan Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat menambahkan, kasus stunting saat ini di wilayahnya masih menjadi perhatian meski penanganan dan pencegahan secara massif dijalankan di 27 daerah.

"Data stunting itu sebelumnya 31,1 persen sekarang turun menjadi 26 persen artinya, intervensi kita sudah menunjukkan positif namun PR (pekerjaan rumah) masih banyak," katanya.

"PKK ini sudah berupaya meskipun sangat jauh, dari data saja masih terendah se-asean termasuk Jawa Barat di dalamnya, upaya kami peningkatan gizi di masyarakat pola asuh dan pola makan harus diberikan sejak mengandung, bagaimana mereka memberikan gizi, asi eklusif," lanjutnya.

Menurutnya, edukasi agar mengenal gizi seimbang, permasalahan di Jawa Barat terkait makan protein yang cukup, dibimbing massif.

"Pengetahuannya masih kurang karena banyak hoaks, mereka cenderung lebih butuh pulsa sama rokok dibanding memberikan gizi buat anak," katanya.

"Lalu kebiasaan, di Jabar ini mereka tidak kenyukai ayam atau telur karena bukan kebiasaan sejak dini sehingga tidak mau. Ditambah hoaks, peran penting kami adalah memberikan edukasi pentingnya makan dan telur ini," tambahnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel